Berita

Sabrina Meng/Disway

Dahlan Iskan

Deal Sabrina

SELASA, 08 DESEMBER 2020 | 04:32 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SESEKALI hidup itu harus hilang untuk sesuatu yang sia-sia. Itulah yang juga dialami Sabrina Meng. Yang sudah dua tahun ini berada dalam tahanan. Di rumahnya yang di Vancouver, Kanada.

Baru seminggu terakhir isyarat terang muncul. Penuh harapan. Kementerian Hukum Amerika Serikat punya langkah baru: membuka kemungkinan bagi Meng untuk segera bebas. Asalkan sepakat untuk mengakui melakukan kekeliruan.

Harian Wall Street Journal, New York, yang mula-mula mengungkapkan itu. Lima hari lalu. Sampai kemarin isyarat itu terus bersambut kian positif.


Kekalahan Donald Trump di Pilpres 3 November lalu kelihatannya membawa dampak ke mana-mana. Termasuk ke nasib Sabrina Meng, putri pendiri Huawei dari istri pertama itu.


Hanya itu deal yang terungkap. Apakah itu terkait bisnis Trump? Atau akibat desakan Kanada? Apakah juga ada hubungan dengan lobi HSBC? Semua itu masih harus ditunggu.

Jangan-jangan Trump sendiri tidak tahu. Jangan-jangan semua itu sepenuhnya inisiatif Jaksa Agung William Barr, orang kepercayaan Trump di lingkaran utama.

Seminggu terakhir hubungan Barr dengan Trump memang menjadi kurang baik. Yakni ketika minggu lalu Barr menyatakan tidak cukup bukti untuk mengatakan bahwa Pilpres yang lalu itu penuh kecurangan.

Padahal Trump beredar ke mana-mana untuk mengatakan Pilpres kemarin penuh kecurangan. Maka lantas muncul spekulasi bahwa kemungkinan besar Barr akan dicopot, di masa injury time sekarang ini.

Belum ada respons yang memadai dari pihak Huawei. Tapi mulai muncul harapan besar di Kanada: bahwa dua warga Kanada yang lagi ditahan di Tiongkok juga bisa segera dilepas. Yakni diplomat Michael Kovrig dan pengusaha Michael Spavor.

Kanada percaya penahanan dua orang itu terkait dengan penangkapan Meng oleh polisi Kanada atas permintaan Amerika.

Banyak yang berharap kebebasan Meng itu bisa terjadi sebelum Natal. Demikian juga dua warga Kanada tersebut.

Meng sendiri tidak terlihat sangat menderita dalam status tahanannya itu. Setidaknya secara lahiriah. Bahkan dia sempat merasakan hikmahnya. "Tidak pernah saya merasa begitu dekat dengan 180.000 karyawan Huawei," katanya tahun lalu.

Dia merasa terharu mendapat laporan bahwa karyawan Huawei sering tidak tidur sepanjang malam. Untuk mengikuti jalannya sidang pengadilan di Kanada yang beda waktu.

Meng adalah wakil CEO Huawei yang juga merangkap direktur keuangan. Tiba-tiba saja 1 Desember dua tahun lalu ditahan di Bandara Vancouver. Waktu itu Meng dalam perjalanan Hongkong-Meksiko. Transit dulu di  Vancouver ingin mampir ke rumahnya.

Meng dituduh melanggar sanksi Amerika terhadap negara Islam Iran. Yakni menjual peralatan telekomunikasi ke Iran, lewat perusahaan bernama Skycom.

Amerika menilai Skycom adalah perusahaan di dalam grup Huawei sendiri. Tapi Meng mengatakan tidak. Memang Skycom dulunya anak perusahaan Huawei di Hongkong. Tapi sudah lama dilepas.

Ternyata Amerika punya bukti bahwa Skycom masih berada di bawah kontrol Huawei. Dan itu, menurut Amerika, diakui sendiri oleh Meng.

Bukti itu ada di tangan Amerika. Yakni berupa dokumen power point. Dokumen itu diserahkan oleh Meng sendiri ke Bank HSBC Hongkong. Tahun 2013.

Transaksi Huawei dengan Iran (lewat Skycom) itu memang melalui HSBC.

Meng tidak merasa ragu ketika menjelaskan semua transaksi itu ke HSBC.

Tapi rupanya ada satu kalimat di power point itu yang multitafsir. Yang oleh intelijen bisa dianggap bukti.

Rupanya HSBC minta penjelasan ke Meng seberapa Skycom itu bisa dipercaya. Maka di presentasi sambil makan siang di Hongkong itu Meng menampilkan power point. Dia mengatakan bahwa hubungan Huawei dengan Skycom "a normal and controllable relation".

"Controllable" di situlah yang ditafsirkan sebagai ''di bawah kontrol''.

Mungkin, dalam suasana normal, kalimat seperti itu tidak mencurigakan. Tapi dua tahun lalu Trump kan memang lagi sensi-sensinya terhadap Tiongkok –termasuk terhadap teknologi tingginya.

Maka dicari atau pun dicari-cari akibatnya sama: Meng harus menjalani masa tahanan di negara lain. Waktunya yang begitu mahal terbuang sia-sia di sana. Selama lebih 2 tahun.

Maka kalau kini memang bisa deal, apa pun, itu akan lebih baik. Daripada konflik berkepanjangan. Pun merembet ke mana-mana.

''Ke mana-mana'' itu termasuk ke HSBC. Bisa saja diam-diam Tiongkok akan juga ''menghukum'' HSBC. Secara bisnis. Dianggap sebagai bank yang tidak bisa dijadikan sahabat.

Sebelum adanya kabar baru itu  pengacara Meng memang mulai mempersoalkan terjadinya pelanggaran proses penegakan hukum.

Yakni bagaimana bisa Meng diperiksa di bandara tanpa didampingi pengacara. Apalagi hari itu, di bandara itu, terjadi menyitaan dan pembongkaran terhadap barang-barang elektronik milik Meng. Termasuk mengambil data dari dalam laptop, tablet dan hand phone Meng.

Sulitnya lagi polisi yang di bandara itu bertugas memeriksa Meng kini sudah pensiun. Lalu bekerja di Macau, Tiongkok.

''Deal'' di luar hukum itu kini menjadi pusat perhatian dunia. Proses hukum di Kanada itu sendiri belum tentu selesai dalam tiga tahun.

Itu baru pengadilan untuk menentukan apakah Meng bisa diekstradisi ke Amerika atau tidak. Belum ke pengadilan pokok perkaranya. Yang tidak bisa dilakukan di Kanada.

Dan lagi, tujuan melemahkan Huawei ternyata juga tidak tercapai. Boleh dikata juga sia-sia. Huawei tetap bertumbuhpun dalam keadaan dihantam pandemi.

Dalam dua tahun masa penahanan Meng, iPhone justru merosot ke peringkat 4 dunia. Setelah Huawei, Samsung, dan Xiaomi.

Maka inilah menjelang Natal yang mendebarkan bagi Meng dan keluarga besar Huawei.

Sementara menunggu deal itu, Meng tetap harus hanya di rumahnya seharga Rp 70 miliar di Vancouver itu. Dengan gelang pemantau di kakinyi. Dengan suami di sampingnya: Carlos Liu Xiaozong.

Itulah untuk kali pertama,  dalam perkawinan mereka, bisa terus bersama. Selama dua tahun tanpa jeda.

Berarti tidak ada di hidup ini yang sepenuhnya sia-sia.

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

Jokowi Sangat Menghindari Pembuktian Ijazah di Pengadilan

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:59

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Paling Rumit kalau Ijazah Palsu Dipaksakan Asli

Jumat, 27 Februari 2026 | 02:00

UPDATE

Din Syamsuddin Nilai Serangan AS-Israel Bisa Porak-porandakan Dunia Islam

Minggu, 01 Maret 2026 | 12:14

Serangan AS-Israel ke Iran Bisa Picu Konflik Berkepanjangan

Minggu, 01 Maret 2026 | 12:02

Iran Tutup Selat Hormuz, Lalu Lintas Minyak Global Terancam

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:59

UI Tegaskan Demonstran yang Maki Polisi Bukan Mahasiswanya

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:41

AS-Israel Sama Sekali Tak Peka Dunia Islam

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:33

KPK Pastikan Anggota Komisi V DPR Terseret Kasus DJKA

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:23

Harga BBM Pertamina 1 Maret 2026: Non-Subsidi Naik Serentak, Pertalite Stabil

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:40

Serangan Trump ke Iran Retakkan Integritas Demokrasi Amerika

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:17

Khamenei Meninggal Dunia, Iran Umumkan 40 Hari Masa Berkabung

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:07

Kritik PDIP soal MBG Bisa Dipahami sebagai Peran Penyeimbang

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:04

Selengkapnya