Berita

Edhy Prabowo/Net

Hersu Corner

Edhy Prabowo, Dari "Selokan" Berakhir Di KPK

SABTU, 05 DESEMBER 2020 | 17:11 WIB | OLEH: HERSUBENO ARIEF

MENHAN Prabowo Subianto secara resmi akhirnya  buka suara, soal OTT Menteri Kelautan Edhy Prabowo.

"Dia saya angkat dari selokan, dan inilah yang dilakukan kepada saya," ujar Prabowo seperti ditirukan adiknya Hashim Djojohadikusumo.

Prabowo menyampaikan kemarahannya kepada Hashim dalam Bahasa Inggris. "I lift him up from the gutter and this is what he does to me".


Media kemudian menerjemahkannya cukup beragam. Diangkat dari selokan, got, dan ada pula yang menerjemahkan menjadi comberan.

"Pak Prabowo sangat marah, sangat kecewa, merasa dikhianati," tambah  Hashim.

Reaksi keras Prabowo ini sangat mengejutkan. Terutama pada pilihan diksinya. "Selokan!"

Seorang mantan petinggi negara yang kenal dekat dengan keluarga Djojohadikusumo, mengaku sangat terkejut.

"Kenapa sekasar itu ya? Kalau sudah tolong orang, ya tolong saja," ujarnya.

Bagi sang mantan petinggi, Hashim dan Prabowo tidak bisa cuci tangan begitu saja. Faktanya Hashim juga dapat konsesi dalam ekspor benih lobster (benur).

Bahwa perusahaan Hashim mengaku belum pernah mengekspor benur. Itu soal yang berbeda.

Mengapa Hashim sampai harus membuka percakapan internal itu ke publik?

Walau cukup terlambat, dari sisi strategi marketing politik, Hashim sedang melaksanakan damage control management.

Dia sedang mencoba mengurangi kerusakan politik yang sedang terjadi. Kerusakan politik pada Gerindra, dan secara khusus kepada brand besar yang mereka sandang, yakni keluarga Djojohadikusumo.

Merek besar itu sekarang disandang oleh Prabowo, yang selama ini mencitrakan diri sebagai figur anti korupsi.

Apa boleh buat, karena kedekatan hubungan antara Prabowo dan Edhy Prabowo, brand asosiasinya sangat kuat. Kebetulan pula Edhy juga menyandang nama Prabowo.

Publik yang tidak mengenal secara dekat, kemungkinan besar menduga, Edhy juga bagian dari keluarga besar Djojohadikusumo.

Meminjam tagline iklan produk jadul: Ingat Gerindra, Ingat Prabowo!

Dalam kasus korupsi lobster, turunan brand asosiasinya menjadi: Ingat kasus korupsi Edhy Prabowo, Ingat Prabowo.

Lebih cilaka lagi kalau sampai brand asosiasinya berubah: Ingat Prabowo, Ingat Korupsi Benur!

Brand asosiasi adalah kesan yang melekat di benak seseorang, begitu melihat atau mendengar, sebuah objek yang berhubungan dengan produk atau barang jasa tertentu.

Jadi secara asosiasi, kasus korupsi Edhy merugikan dua kepentingan besar sekaligus: Gerindra dan keluarga besar Djojohadikusumo.

Karena itulah Hashim sangat berkepentingan untuk memutus mata rantai brand asosiasi itu.

Dia bahkan sampai harus menyewa pengacara eksentrik Hotman Paris Hutapea. Menggelar jumpa pers, dan menjelaskan hal itu.

Gerindra, Prabowo, dan Saras.

Apa saja kerusakan merek (brand damage) akibat kasus Edhy Prabowo? Dan mengapa Hashim harus menyampaikan ucapan yang begitu keras?

Pertama, dalam jangka panjang, Hashim dan keluarga besar Hashim Djojohadikusumo harus menyelamatkan Gerindra.

Partai yang didirikan oleh Prabowo itu, bagaimanapun harus bertahan dan menjadi legacy keluarga.

Sejauh ini, Prabowo harus diakui berhasil membangun Gerindra menjadi kekuatan politik nomor dua terbesar di Indonesia.

Berbagai survei menunjukkan penerimaan publik terhadap Gerindra cenderung meningkat.

Kalau sampai gara-gara Edhy Gerindra hancur, harga yang dibayar amat sangat teramat mahal.

Kedua, Hashim juga harus mengamankan posisi Prabowo. Dia merupakan aset terbesar keluarga saat ini.

Kendati sudah dua kali sebagai capres, sekali sebagai cawapres, Prabowo tetap dianggap kandidat terkuat Pilpres 2024. Namanya tetap layak dijual.

Kasus Edhy jelas merusak reputasi Prabowo, dan akan sangat berpengaruh pada elektabilitasnya.

Ketiga, dalam jangka pendek ada kepentingan politik yang harus diselamatkan keluarga Hashim.

Rahayu Saraswati, putri Hashim dalam beberapa hari ke depan akan mengikuti Pilkada di Tangerang Selatan.

Kasus Edhy bisa dikapitalisasi oleh kompetitornya untuk demarketing dan menjatuhkan elektabilitas Saras.

Berbagai pertimbangan itulah yang membuat Hashim harus bertindak.

Termasuk kalau perlu "melemparkan" kembali Edhy Prabowo ke dalam "selokan". Cuma bikin sial!

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya