Berita

Mukhaer Pakkanna (kedua kiri) bersama wisudawan dan orang tua/Net

Publika

Islam No, Muhammadiyah Yes

JUMAT, 04 DESEMBER 2020 | 07:19 WIB

UJUNG November 2020, kami menggelar wisuda secara daring dan luring di kampus. Menariknya, puluhan mahasiswa dari pelbagai wilayah, misalnya, dari Maluku Tengah, Toraja, Sebatik, NTT, dan lainnya yang non-muslim turut hadir dan didampingi orang tuanya

Mereka ini sejak kuliah, banyak di antara mereka menjadi anggota dan pengurus aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan telah mengikuti tahapan perkaderan Darul Arqam Dasar (DAD) kendati mereka itu istiqamah dengan agamanya.

Bahkan, jika ada kegiatan seremoni kampus, mereka kerap tampil sebagai tim paduan suara, menyanyikan Mars Muhammadiyah, Mars IMM, dan tentu di antara mereka mulai fasih belajar Al Quran dan bahasa Arab. Sesekali mereka berkelakar: “Kami sudah bermuhammadiyah, tapi belum berislam”.


Paulus Nali, S.Ak yang ikut diwisuda dan sudah bekerja di perusahaan finance di bilangan BSD Tangerang, menceritakan pengalamannya sebagai mahasiswa. Ia sangat bahagia kuliah di kampus Sang Pencerah. Padahal, dia juga aktivis pemuda gereja di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Anak dari Bernadus Naki dan Veronika Feka, petani serabutan di pelosok Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, menikmati proses belajar di ITB-AD yang terbuka, demokratis, partisipatif, dan tidak eksklusif.  Sosok Remi Iusfay adalah sosok mahasiswa Kristen-Muhammadiyah, Kris-Mu, yang pernah dipopulerkan Abdul Mu’ti  (2009) dalam riset doktoralnya yang mengambil kasus SMA Muhammadiyah Ende, NTT.

Terus terang, saya teringat dan terinspirasi pada sosok Kiai Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah 108 tahun lewat. Sejak awal, beliau menekankan agar Muhammadiyah bukanlah organisasi bergerak di bidang politik. Tapi lebih banyak bergerak di bidang sosial, terutama pendidikan masyarakat. Bagi Kiai Dahlan, Muhammadiyah sebagai wahana berdakwah dan pendidikan untuk membawa ideologi pembaruan, untuk kemajuan bangsa.

Saat merintis dan membangun sekolah berbasis agama, Kiai Dahlan, berkunjung ke sekolah sahabatnya, seorang pastor Katolik berdarah Belanda, Pastur van Lith. Persahabatan Dahlan dengan pastor tersebut untuk berdialog, berdiskusi bagaimana memajukan pendidikan pribumi yang bermartabat dan memanusiakan manusia.  

Selain itu, Kiai Dahlan tentu juga banyak bergaul dengan tokoh dari berbagai lintas, seperti pendeta, kelompok Boedi Utomo, bahkan dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Tidak mengherankan jika Dokter Soetomo, seorang elite priyayi Jawa dan salah seorang pemimpin Budi Utomo (BU) penasaran dengan Muhammadiyah dan bersedia menjadi advisor Hooft Bestuur Muhammadiyah masa itu.

Dalam Pedoman Hidup Islami (PHI) yang beredar resmi di kalangan warga Muhammadiyah, secara eksplisit menuntun, bahwa “Islam mengajarkan agar setiap muslim menjalin persaudaraan dan kebaikan dengan sesama, seperti dengan tetangga maupun anggota masyarakat lainnya, masing-masing dengan memelihara hak dan kehormatan baik dengan sesama muslim maupun dengan non-muslim, dalam hubungan ketetanggaan.

Dalam bertetangga dengan yang berlainan agama juga diajarkan untuk bersikap baik dan adil, mereka berhak memperoleh hak-hak dan kehormatan sebagai tetangga, memberi makanan yang halal dan boleh pula menerima makanan dari mereka berupa makanan yang halal, dan memelihara toleransi sesuai dengan prinsi-prinsip yang diajarkan Agama Islam”.

Keapikan inklusivitas dalam pengelolaan pendidikan dalam tubuh persyarikatan Muhammadiyah seperti gambaran di atas, harus senantiasa dirawat dan dikampanyekan. Islam mengajarkan keramahan, kemanusiaan, tidak diskriminatif, dan senantiasa menjunjung tinggi keadilan. Jangan sampai hanya kepentingan politik sesaat yang myopic, telah mengoyak sulaman kebangsaan kita.

Oleh karena itu, Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) harus istiqamah menyemai keragaman, sikap inklusif, dan tentu di atas nilai-nilai cinta dan kasih sayang.

Mukhaer Pakkanna

Rektor ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya