Berita

Ilustrasi/Repro

Jaya Suprana

Menelaah Makna Matematikal 1729

SELASA, 01 DESEMBER 2020 | 09:35 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KETIKA berusia 4 tahun saya mulai membuat komik dengan tema sepak bola. Ketika berusia 5 tahun saya mulai menulis dengan tema perilaku serangga yang saya pelihara di insektarium.

Bacaan saya pada usia 6 tahun adalah Ensiklopedi Indonesia yang saya baca dari awal A sampai akhir Z. Bukan sebagai referensi, namun benar-benar bacaan.

Saya masih ingat bahwa pada masa itu saya senantiasa dicemooh sebagai anak aneh akibat berperilaku aneh, karena memang tidak sama dengan perilaku anak-anak yang dianggap tidak aneh.


Takdir

Ternyata sepanjang hidup saya, memang saya ditakdirkan untuk dicemooh sebagai orang aneh. Seperti ketika menggagas produk jamu untuk anak-anak, menyelenggarakan festival pianis remaja, festival jamu gendong, festival berdiri diam, festival merayu, festival teman-teman luar biasa.

Kemudian mendirikan MURI, membela PKL dari penggusuran, menyelenggarakan sayembara kartun internasional, Indonesia-Pusaka International Piano Competition. Pergelaran wayang orang di Sydney Opera House, Istana Negara, UNESCO. Menggagas kelirumologi, humorologi, alasanomologi, malumologi, andaikatamologi, serta yang terbaru adalah angkamologi.

Angkamologi


Wajar gagasan angkamologi ditertawakan sebagai gagasan aneh orang aneh kurang kerjaan. Maka berulah mubazir bak menggantang asap sebab segenap gagasan baru seperti yang pernah digagas oleh Christoforus Columbus, Isaac Newton, Albert Einstein, Bertrand Russel, Charles Darwin, Stephen Hawking, Richard Feynman, Kurt Goedel, Srinivasa Ramanujam juga dianggap aneh. Bahkan gila.

Maka wajar jika angkamologi juga dianggap kerjaan orang aneh bahkan gila.

Adalah kisah tentang Srinavasa Ramanujam yang berhasil agak menghibur saya dianggap aneh dan gila. Konon pada 1919, setahun setelah Perang Dunia I usai, mahaguru matematika Universitas Oxford, Inggris, GH Hardy bezoek Srinavasa Ramanujam yang sedang terbaring di rumah sakit akibat terserang virus nenek-moyang Corona.

Setelah tiba di Rumah Sakit, Prof Hardy minta maaf terlambat menjenguk Ramanujam akibat diajak berputar-putar London oleh sopir taksi dungu tak kenal jalanan London sambil menyopir taksi bernomor 1729, yang menurut Prof Hardy adalah sebuah angka sama sekali tidak bermakna maka tidak berharga untuk diingat apalagi ditelaah.  

Permintaan maaf Prof Hardy ditolak oleh Ramanujam dengan penjelasan bahwa angka 1.729 adalah agar tidak keliru menerjemahkan. Saya copas sebagai berikut: the smallest number that is the sum of the positive cubes in two different ways.

Dalam bahasa matematikal pernyataan sang mahamatematikawan genius otodidak India penyandang savant matematikal dapat dibuktikan kebenarannya dengan 10 pangkat 3 ditambah 9 pangkat 3 sama dengan 1.729, sementara 1 pangkat 3 ditambah 12 pangkat 3 ternyata juga sama dengan 1.729.

Makna-Hakikat

Bantahan Srinavasa Ramanujam mempesona Prof Hardy. Penjelasan pemuda asal Madras yang diundang ke Inggris oleh Prof Hardy untuk bergabung ke Royal Society dan Trinity College bahwa sebenarnya 1729 memiliki makna matematikal tersendiri kemudian secara antusias berulang kali dikisahkan kembali oleh Prof Hardy kepada para sejawat mahamatematikawan di seluruh dunia.

Alhasil kini angka 1.729 menjadi angka paling dipergunjingkan di kalangan para mahamatematikawan yang mampu dan mau memahami makna matematikal angka 1.729.

Sekaligus juga membuktikan bahwa pada hakikatnya setiap angka memiliki makna tergantung yang memaknainya. Bahkan juga berarti bahwa setiap benda maupun tak-benda di alam semesta ini pada hakikatnya memiliki makna masing-masing, yang memang hanya bisa disadari oleh manusia yang mau dan mampu menelaah maknanya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya