Berita

Seminar Online 'ASEAN-Korea Cooperation Upgrade: Focusing on the New Southern Policy of ROK'/Repro

Dunia

Sebelum NSP Diluncurkan, Hubungan Korsel Dengan ASEAN Sudah Signifikan

KAMIS, 26 NOVEMBER 2020 | 12:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Republik Korea berada posisi yang sangat strategis, di kelilingi berbagai kekuatan besar dunia, China, Jepang, Rusia, dan Amerika Serikat.

Secara tradisional tentu saja China memiliki pengaruh yang besar sejak ribuan tahun tahun lalu. Namun di era kontemporer pada gilirannya, tiga kekuatan besar lain, Jepang, Rusia, dan Amerika Serikat, juga memainkan peranan yang tidak kalah signifikan di kawasan termasuk di Semenanjung Selatan.

Berdasarkan kenyataan geopolitik seperti itu sangat alamiah bila Korea Selatan membangun hubungan diplomatik dan ekonomi yang signifikan dengan empat kekuatan besar dunia itu.


Demikian antara lain disampaikan Minister Counselor Misi Republik Korea untuk ASEAN, Yoon Sang-uk, ketika berbicara dalam webinar internasional bertema "ASEAN-Korea Cooperation Upgrade: Focusing on the New Southern Policy of ROK" yang diselenggarakan Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (26/11).

“Hubungan baik (Korea Selatan) dengan empat kekuatan ini (China, AS, dan Jepang) selalu menjadi prioritas utama dalam kebijakan luar negeri kami,” ujarnya.

Webinar ini diselenggarakan untuk me-review kebijakan luar negeri Korea Selatan yang dikenal dengan nama New Southern Policy (NSP) yang diluncurkan Presiden Moon Jae-in pada bulan November 2017 lalu.

Dengan kebijakan itu, Korea Selatan ingin meningkatkan kualitas hubungannya dengan dua kawasan lain di sebelah selatan, yakni Asia Tenggara dan India.

Selain Yoon Sang-uk, dua pembicara lain dalam sesi pertama webinar internasional itu adalah  dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Ali An Seun Geun, dan peneliti Center for Strategic and International Studies Andrew W. Mantong. Sebagai moderator adalah dosen Universitas Padjadjaran dan President University Teuku Rezasyah.

Melanjutkan uraiannya, Yoon Sang-uk mengatakan, menjelang akhir Perang Dingin, Korea Selatan mulai menggagas upaya untuk memiliki hubungan yang juga signifikan dengan kawasan lain, terutama ASEAN.

Pada tahun 1989 Korea Selatan mulai terlibat dalam berbagai pembicaraan partnership dengan ASEAN, hingga di tahun 1999 ikut mendirikan ASEAN Plus Three yang merupakan kerjasama kawasan yang melibatkan ASEAN dan tiga negara Asia Timur, yakni China, Jepang, dan Korea Selatan.

Sebelum NSP diintrodusir pada tahun 2017, ASEAN telah menjadi partner dagang terbesar kedua yang dimiliki Korea Selatan. Pada 2016 volume perdagangan Korea Selatan dengan ASEAN sebesar 119 miliar dolar AS.

Adapun volume perdagangan Korea Selatan dengan China menempati posisi pertama dengan 211 miliar dolar AS. Sementara volume perdagangan dengan AS, Jepang, dan Rusia menempari posisi ketiga (109 miliar dolar AS), keempat (71 miliar dolar AS), dan kelima (13 miliar dolar AS).

Dari sisi investasi, ASEAN juga menempati posisi kedua dengan nilai investasi sebesar 5,1 miliar dolar AS, setelah Amerika Serikat (12,9 miliar dolar AS).  

Dari jumlah kunjungan wisatawan, jumlah wisatawan dari ASEAN pada tahun 2016 sebanyak 2,147 juta orang. Ini merupakan jumlah kunjungan terbesar ketiga setelah China (8 juta), dan Jepang (2,297 juta). Adapun jumlah wisatawan dari AS sebesar 866 ribu, dan Rusia sebesar 233 ribu pada tahun yang sama.

Angka-angka ini merupakan bagian dari berbagai pertimbangan sehingga Korea Selatan memutuskan untuk meningkatkan kerjasama dengan ASEAN melalui NSP yang beberapa pekan lalu telah di-upgrade menjadi NSP Plus untuk menyesuaikan dengan tantangan baru yang dihadapi dunia berupa pandemi Covid-19.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya