Berita

SEkitar 7.300 migran tinggal di kamp baru di Kara Tepe di Lesbos/Net

Dunia

Migran Di Pulau Lesvos, Bukan Hanya Covid-19 Tapi Juga Hadapi Musim Dingin Yang Ekstrim

RABU, 25 NOVEMBER 2020 | 06:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Belasan ribu imigran di Pulau Lesvos Yunani harus bersiap menghadapi kondisi yang keras sepanjang musim dingin ini di tengah ancaman penularan virus corona.

Sekitar 7.300 migran tinggal di kamp baru di Kara Tepe beberapa kilometer jauhnya di pulau Lesbos yang terletak di dekat pantai Turki. Mereka tinggal di tenda sederhana yang sangat tidak layak untuk kondisi musim dingin. Tenda-tenda itu tidak memiliki pemanas, juga tidak tersedia sanitasi yang memadai.

Itu adalah kamp baru bagi mereka setelah api menghanguskan kamp Moria, dua bulan lalu. Kamp migran terbesar di Eropa yang penuh sesak dan tidak sehat itu dilalap api pada September 2020 lalu, menyebabkan hampir 13 ribu migran kehilangan tempat bernaung.


Di kamp baru yang sama sempitnya dengan kamp lama yang terbakar itu, para migran tidak mungkin bisa menerapkan jarak sosial. Mencuci tangan pun juga tidak bisa sesering mungkin karena terbatasnya pasokan air dan sanitasi. Kamp itujuga tidak memiliki akses langsung perawatan medis.

"Kami hanya dapat meninggalkan kamp seminggu sekali selama beberapa jam. Kami harus  mengatur semua yang perlu dilakukan dalam waktu singkat itu," kata Jean-Pierre, migran berusia 30 tahun asal Kamerun.

"Semua orang ketakutan di kamp. Saya juga takut dengan pandemi, mematikan," katanya, seperti dikutip dari AFP, Selasa (24/11).

Dia bercerita, toilet dibersihkan hanya di pagi hari. Mereka juga harus mengantri untuk ke toilet hingga dua jam.

Arezoo, seorang anak berusia 15 tahun asal Afghanistan bercerita bahwa dia telah berada selama satu tahun di Lesbos. Suasana kamp yang dia sebut dengan 'menjijikan'.

"Tidak ada air ledeng di kamar mandi, jadi orang membawa air dari tenda mereka dalam botol atau membersihkan diri di laut," katanya.

"Karena tenda (rumah) jauh dari toilet, orang membuat tenda darurat (untuk toilet) dengan selimut, kain dan kayu."

Listrik pun sangat terbatas. Menyala hanya pada pagi selama dua jam, lalu siang selama dua jam, dan malam hari. Itu pun terputus-putus. Juga tanpa koneksi wifi untuk berkomunikasi.

Sekolah untuk anak-anak migran dilakukan seadanya di tenda-tenda.

"Bagian terburuknya adalah Anda tidak melakukan apa-apa sepanjang hari," kata Arezoo.

Pihak berwenang Yunani mendirikan pusat pemukiman di Kara Tepe. Ini awalnya dimaksudkan sebagai solusi sementara untuk menampung ribuan orang korban kebakaran kamp kebakaran Moria.

Namun, kementerian migrasi mengatakan kamp permanen yang dimaksudkan untuk menggantikan Moria kemungkinan belum siap sebelum musim panas 2021.

Musim dingin ini akan membuat keadaan semakin buruk. Astrid Castelein, kepala tim organisasi pengungsi PBB di Lesbos mengatakan mereka telah meminta pihak berwenang di ibukota Lesbos, Mytilene, untuk mengizinkan mereka memindahkan para migran yang kondisinya paling rentan ke pusat akomodasi lokal.

Nasos Galis, seorang dokter dari Organisasi Kesehatan Nasional yang berbasis di pulau itu, juga meminta tindakan segera.

"Orang yang rentan atau pasien dengan penyakit kronis harus segera meninggalkan kamp menuju daratan," katanya.

Kondisinya juga sulit bagi mereka yang bekerja di kamp: para dokter, pegawai negeri yang menangani penerimaan kedatangan, dan mereka yang bekerja di berbagai LSM.

"Minggu lalu, tenda tempat kami bekerja tertiup angin, terbawa dan jatuh ke laut. Kami sampai harus megejarnya," kata salah satu pekerja pusat resepsionis yang tidak mau disebutkan namanya.

"Dalam satu tenda ada 35 pekerja," tambahnya.

Tidak ada pemanas sementara cuaca begitu dingin. Banyak migran yang mendatangi tenda medis dengan dengan masalah pernapasan.

Orang-orang yang rentan semakin bertambah parah kondisinya dari hari ke hari selama musim dingin.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Konflik Memanas di Yaman Selatan, RI Dukung Saudi Gelar Konferensi Damai

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:16

Kuasai 51,57 Persen Hak Suara, Danantara Tetap Jadi Pemegang Saham Mayoritas Telkom

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:03

Bank Raya Perkenalkan Kartu Digital Debit Visa di Momentum Tahun Baru 2026

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:50

Investor di Asia Hati-hati Sikapi Gejolak Politik Global

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:36

Rencana Prabowo Bangun 1.100 Kampung Nelayan Tahun 2026

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:28

Kebijakan Chromebook Era Nadiem Rawan Dikriminalisasi

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:27

Bukan Sejahtera, Rakyat Indonesia Bahagia karena Beriman!

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:27

Menlu AS akan Bertemu Pejabat Denmark Soal Akuisisi Greenland

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:21

Pertama di Indonesia, BRI Raih Sertifikasi TMMi Level 3

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:13

Swasembada Harus Berdampak pada Stabilitas Harga Pangan

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:11

Selengkapnya