Berita

Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng/Ist

Publika

Harga Minyak: Naik Karena Jampi-jampi, Turun Digondol Tuyul

RABU, 25 NOVEMBER 2020 | 00:24 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

BANYAK yang masih berharap harga minyak naik, padahal harga minyak sudah bertahan rendah dalam setengah dasawarsa. Jika secara jeli dicermati sejak kesepakatan Paris COP 21, harga minyak terpukul dan bertahan rendah.

Kalau ditarik lebih jauh lagi, cerita mengahiri dominasi minyak telah dimulai sejak pemerintahan Obama mencetak uang dolar dengan modal kertas dan tinta saja. Padahal harga minyak tengah merosot.

Ini merupakan bukti awal bawah petro dolar telah berakhir. Jadi minyak tidak lagi menjadi jangkar mata uang dolar. Antara harga minyak dan harga dolar yang diperdagangkan secara internasional tidak berkaitan. Dolar kehilangan jangkarnya.


Perubahan ini adalah bagian pokok yang menentukan. Rezim petro dolar yang usianya sudah 45 tahun resmi diakhiri. Tidak banyak analisis memang yang mengupas masalah ini. Namun inilah yang sebetulnya terjadi. Padahal perubahan tatanan keuangan global inilah yang menjadi inti masalahnya. Dari sini semua dimulai.

Para pemgambil keputusan politik Indonesia memang tidak cukup mengerti masalah ini. Namun peta politik global tengah bergerak ke arah mengakhiri minyak sebagai buffer politik dan keuangan dunia. Uang-uang minyak selama ini merupakan sumber dana utama untuk membiayai dunia, mulai dari membiayai berbagai institusi keuangan multilateral hingga membiayai konflik internasional dalam mengatur keseimbangan politik global.

Berakhirnya rezim petro dolar adalah akibat langsung dari badai transparansi. Badai yang datang sebagai konsekuensi kemajuan ICT dan digitalisasi. Semua keputusan keuangan dilahirkan dari big data, blockchain, yang akan mengairi era paper money yang selama ini ditopang oleh eksklusivitas infrormasi, disparitas informasi. Sampai-sampai tidak ada yang tahu berapa jumlah dolar yang beredar di seluruh dunia. Sekarang sudah berakhir dengan transparansi.

Lalu bagaimana dengan uang-uang hasil minyak yang selama ini sebagian besar terpendam di ruang-ruang gelap, digunakan bagi pembiayaan perang, kudeta, sumber dana membiayai konflik, hingga terorisme. Semua akan digulung oleh badai transparasi.

Di sinilah pertarungan akan berlangsung. Sebuah pertarungan untuk menyita secara keseluruhan uang kotor hasil minyak dan hasil penjarahan kekayaan alam dunia selama berpuluh-puluh tahun. Sekarang berhadapan dengan transparansi.

Analisis inilah yang paling relevan untuk melihat mengapa Arab Isralel harus berdamai. Karena minyak sudah tidak lagi menjadi jangkar keuangan global, karena minyak akan dipukul dengan harga rendah, karena minyak sudah tidak lagi sebagai sumber uang, maka otomatis konflik di Timur Tengah berakhir. Apa yang mau dikonflikkan? Sudah tidak ada lagi. Jadi damailah di sana.

Sementara di sini, masih saja melakukan jampi-jampi agar harga minyak naik. Sementara gerak zaman tidak demikian. Di depan mata Covid-19 telah memukul harga minyak sampai minus. Ini belum pernah terjadi.

Jadi datangnya copid ini adalah pukulan terhadap minyak. Jadi minyak sudah dipukul dengan transparansi, dipukul dengan COP 21 Paris, dipukul dengan copid 19. Ini adalah episentrum pertarungan saat ini. Sejarah bergerak maju dan tidak bisa dihentikan oleh jampi-jampi.

Jadi peta jalan bagi transisi energi dari fosil ke nonfosil telah dibuka dengan sangat lebar. Pekerjaan bagi transisi energi, digitalisasi, bukan pekerjaan main-main, bukan sekadar pencitraan politik belaka, bukan untuk menipu-nipu lembaga keuangan global agar menurunkan utang ke negara ini, akan tetapi sebuah peta jalan sejarah perubahan manusia.

Di bumi yang kita diami ini tidak boleh ada lagi yang membakar minyak di jalan-jalan, membakar batubara di sepanjang pantai bagi pembangkit listrik, dan segala aktivitas yang mengotori biosfer tempat kita hidup harus diakhiri.  Renungkanlah!

Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Purbaya Bakal Bahas Layer Baru Cukai Rokok Oktober, Pengusaha Ilegal Siap-Siap

Sabtu, 05 September 2026 | 20:23

Kasus Tahura Singlurus Pintu Masuk, Koptasi Minta Selisih LHV Batubara SSS Diusut

Sabtu, 05 September 2026 | 20:20

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

Gen Z Antusias, Ribuan Anak Muda Padati LFF 2026 Sejak Pagi

Sabtu, 05 September 2026 | 19:44

Menhut Perkuat Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 19:28

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Putusan Banding yang Meringankan di Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 05 September 2026 | 19:13

OMC Berhasil Datangkan Hujan, KLH Pastikan Karhutla di Kalbar dan Kalteng Terkendali

Sabtu, 05 September 2026 | 19:00

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Sejarah Letusannya

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

BAIK Bangkit dari Suspensi, Siapkan Jurus Pulihkan Kinerja

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

Kemenhut Siapkan Call Center Rescue 24 Jam Tangani Satwa Liar Terdampak Karhutla

Sabtu, 05 September 2026 | 18:37

Selengkapnya