Berita

Politikus senior Partai Demokrat, Andi Mallarangeng/Net

Publika

UU Omnibus Law Ciptaker Disahkan Oleh Presiden Jokowi, Lalu?

SELASA, 03 NOVEMBER 2020 | 12:13 WIB

RUPANYA Presiden Joko Widodo sangat percaya diri. UU Omnibus Law Ciptaker yang bermasalah tetap diteken oleh Presiden, menjadi UU No. 11/2020. Dan tanpa disertai Perpu yang diteken semenit kemudian. Artinya, mau protes apa pun, UU Ciptaker ini berlaku sudah.

Kalau mau mengira-ngira, masukan yang diterima Presiden dari pembantu-pembantunya adalah sebagai berikut:

Pertama, protes dan demo anti Omnibus Law ini ada dalangnya, ada yang bayar, dan ada provokatornya. Kalau ditangkapi beberapa orang, mereka akan takut dan ciut nyalinya, maka protes dan demo pun akan berhenti dengan sendirinya.


Kedua, para buruh dan mahasiswa termakan hoax di media sosial. Tindak atau paling tidak ancam dengan menggunakan UU ITE, maka penyebaran hoax akan berhenti. Maka protes dan demo pun akan reda dengan sendirinya.

Ketiga, semua ini karena komunikasi politik pemerintah yang tidak beres. Karena itu, tinggal diperbaiki, maka masyarakat, terutama kaum buruh dan juga mahasiswa, serta berbagai stakeholder lainnya, akan memahami maksud baik pemerintah dengan UU Ciptaker ini. Maka protes dan demo pun akan surut dengan sendirinya.

Keempat, kalau toh masih ada protes dan demo, begitu UU ini berlaku, maka investasi akan meroket, lapangan kerja terbuka lebar, semua akan happy, termasuk para buruh dan calon pencari kerja yaitu mahasiswa dan pelajar. Maka protes dan demo pun akan menghilang dengan sendirinya.

Mungkin saja tidak terpikir oleh Presiden bahwa:

Perama, substansi UU yang diproses dengan kejar tayang ini memang bermasalah bagi banyak kepentingan masyarakat, terutama kaum buruh dan calon pencari kerja, lingkungan, otonomi daerah, dan sebagainya. Lagi pula, prosesnya terburu-buru dan sangat dipaksakan.

Kedua, krisis ekonomi yang sedang melanda negeri ini membuat orang gampang marah. Mereka yang terkena PHK, mereka yang menganggur, mereka yang menjadi dan bertambah miskin, berharap Presiden mengayomi semua. Dan bukannya berpihak kepada salah satu kelompok masyarakat saja, yaitu kaum pengusaha.

Ketiga, pandemi ini belum jelas di mana ujungnya. Walaupun pemerintah optimis segera ditemukan vaksin, bagaimana kalau optimisme itu meleset. Bukankah prediksi pemerintah soal pandemi meleset terus? Dan kalau ini berlanjut terus sampai tahun depan, ekonomi pasti tertekan terus.

Keempat, kalau pandemi terus berlanjut, ekonomi krisis terus, dan harapan tentang investasi yang meroket karena omnibus law meleset, sementara pengangguran meningkat, PHK di mana-mana, rakyat tambah miskin, kira-kira sampai kapan rakyat akan sabar?

Yang saya kuatirkan adalah, keempat poin yang terakhir ini mungkin tidak ada yang (berani) memberitahukan kepada Presiden. Memang tidak enak dibaca, tapi perlu beliau ketahui.

Kalau gap antara keempat poin pertama dan keempat poin kedua semakin besar, maka ketegangan yang tidak perlu akan terus berlanjut.

Padahal, mestinya kita sebagai bangsa bersatu padu untuk fokus menghadapi pandemi dan krisis ekonomi yang mengikutinya. Pemerintah berada di depan didukung oleh segenap masyarakat. Syaratnya sederhana: ada trust, dan pemerintah mengayomi semua, tidak berat sebelah.

Namun, kalau Presiden tetap berkeras dengan penuh percaya diri untuk menerapkan UU Ciptaker ini, saya kuatir rakyat tidak hanya akan menyalahkan pembantu-pembantu Presiden, yang memberikan masukan angin surga. Pada saat itu, menyesal pun tak ada lagi gunanya.

Andi Mallarangeng
Politikus senior Partai Demokrat.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya