Berita

Sekjen Pena '98, Adian Napitupulu/Net

Publika

Ketika Negara Jadi Perusahaan Dan Presiden Di Bawah Menteri

MINGGU, 01 NOVEMBER 2020 | 22:07 WIB

MENDENGAR talkshow Erick Thohir dan Karni Ilyas di salah satu channel YouTube terbaru membuat saya kaget luar biasa dan mengelus dada berkali-kali.

Dalam pernyataannya di menit ke-11 detik ke-20, Erick Thohir menyampaikan keinginanan agar nanti Kementerian BUMN tidak lagi menerima dana dari APBN, tapi cukup 1 persen dari pembagian Deviden. Menurut saya ini pernyataan berbahaya yang bisa mengubah negara menjadi perusahaan yang dibiayai oleh laba usaha semata-mata.

Ini bukan pernyataan main-main, ini pernyataan yang keluar dari mulut seorang menteri yang tentunya tidak bisa dianggap remeh karena terkait dengan konstitusi dan ideologi negara.


Baiknya Erick Thohir mempelajari bahwa mengelola negara itu bukan hanya sekadar berapa angka uang, tapi di dalamnya ada mekanisme konstitusi dan kontrol melalui parlemen, sehingga penentuan anggaran kementerian juga harus persetujuan DPR dan pemerintah, bukan main asal ambil 1 persen laba BUMN.

Negara bisa mendapatkan uang dari berbagai sumber, bisa deviden BUMN, pajak dan sebagainya. Semua uang itu tidak serta merta bisa dicomot begitu saja karena penggunaanya akan diatur melalui APBN yang dibuat bersama oleh DPR dan Pemerintah lalu menjadi UU dan berikutnya DPR diberi kewenangan juga untuk mengawasi penggunaan anggaran itu.

Mekanisme ini tidak bisa dilanggar walaupun deviden BUMN berjuta-juta kali lipat dari APBN.

Di sisi lain pernyataan ini menunjukan bahwa Menteri BUMN benar-benar tidak memahami apa itu APBN yang diatur dalam konstitusi, tidak mengerti tentang tata kelola negara dan BUMN sebagai badan usaha milik negara bukan Negara Milik Badan Usaha.

Saya tidak tahu apa maksud dari Pernyataan Erick Thohir, apakah pernyataan yang lahir dari ketidakmengertian atau dari kesombongan sebagai menteri yang mengelola aset terbesar.

Tapi apapun itu, saya berharap Erick Thohir tidak berniat meniadakan atau mengerdilkan peran DPR dan Presiden dalam menyusun anggaran kementriannya.

Pernyataan kedua di menit ke-34 detik ke-30, membuat saya cukup terganggu ketika Erick Thohir mengatakan bahwa presiden juga titip komisaris. Saya berharap maksud Erick Thohir bukanlah presiden “menitip” tapi “memerintahkan” untuk menempatkan.

Kenapa demikian, makna kata “menitip” dan “memerintahkan” adalah dua hal yang sangat berbeda. Kata menitip menempatkan presiden sebagai pemohon dan Erick Thohir sebagai penentu.

Melalui pernyataannya itu, Erick Thohir menempatkan dirinya seolah berada di atas presiden atau dengan kata lain presiden lah yang menjadi pembantu dan Erick yang menjadi presiden.

Sekali lagi saya tidak mengerti kenapa ucapan yang memutarbalik posisi menteri dan presiden itu bisa diucapkan. Apa maksud dan tujuannya? Apakah ucapan itu ekspresi spontan dari imajinasi terpendam untuk menjadi capres 2024 atau tidak, saya juga tidak mengerti.

Saya berharap telinga saya salah mendengar atau nalar saya salah memaknai apa yang saya dengar karena jika kedua pernyataan yang saya dengar tidaklah salah dan alur nalar saya juga tidak salah maka boleh jadi kedua pernyataan itu merendahkan dua lembaga negara, yaitu DPR dan presiden.

Saran saya Erick Thohir sebagai menteri BUMN perlu meluruskan atau meralat atau melengkapi pernyataannya yang di tonton oleh sekian banyak orang agar tidak ada salah persepsi terkait pernyataan itu.

Tapi jika Erick Thohir merasa yakin bahwa pernyataannya sudah sesuai dengan konstitusi dan mekanisme ketatanegaraan maka mungkin ini bisa menjadi diskusi menarik dengan para pakar tata negara, konstitusi termasuk dengan para legislator.

Adian Napitupulu

Sekjen Pena ‘98

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya