Berita

Menlu AS Mike Pompeo (kanan) bersama Presiden RI Joko Widodo/Net

Publika

Pompeo Sukses

SABTU, 31 OKTOBER 2020 | 09:32 WIB

AKHIRNYA memang pemerintah kita kelas ayam sayur. Kedatangan Menlu AS Mike Pompeo sukses besar. Utamanya adalah implikasi penandatanganan bersama Menlu Retno Marsudi mengenai Kepulauan Natuna yang bakal "diserahkan" menjadi lahan investasi AS.

Tentu target AS adalah membuat pangkalan militer. Penguatan strategis dalam perseteruan dengan China. Pompeo sukses.

Konflik Laut China Selatan memasuki babak baru. Bagian Indonesia akan menjadi pangkalan AS. China yang mengklaim Laut China Selatan sebagai milik warisan kesejarahan akan sedikit terganggu dengan sikap Indonesia.


Jika serius kerjasama dengan Amerika dapat dibayangkan marahnya China kepada komprador Indonesia-nya. Entah langkah catur apa yang akan dimainkan.

Melihat Michael Pompeo yang sedang menandatangani "kesepakatan" di meja dan Menlu RI Retno Marsudi berdiri tertunduk agak prihatin juga. Akhirnya menyerah dan Luhut pun "nyumput".

Teringat dahulu menjelang runtuh Orde Baru, Soeharto Januari 1998 menandatangani pinjaman IMF sementara Michael Camdessus berdiri sambil bersedekap. Gagah dan sukses.

Investasi AS di bagian terluar Kepulauan Natuna menjadi fase awal masuknya kepentingan AS ke kawasan. Dengan dalih pengamanan teritorial Indonesia, AS akan bebas hilir mudik di kepulauan Natuna. Faktualnya adalah optimalisasi fungsi pangkalan militer AS di area.

Jokowi yang awal ketar-ketir kini justru berposisi terjepit antara dua tekanan AS dan RRC. Ikatan kuat dan matang dengan RRC harus terbentur ultimatum AS. Jika dari awal mengambil jalan konsisten "bebas aktif" mungkin konflik AS-RRC menjadi keuntungan besar bagi Indonesia. Namun kondisi itu kini berbeda.

Pilihan sulit di tengah pandemi dan krisis ekonomi. Kedatangan Pompeo bukan membawa berkah buat Pak Jokowi tetapi simalakama. RRC tidak akan tinggal diam. Daleman Istana sudah diketahui. Jika Istana belok-belok dalam bermain mesti ada bayaran. Mungkin mahal. Jokowi bukan semakin kuat, tetapi bisa goyah.

Ambivalensi selalu kalah di ujungnya dan loyalitas yang diragukan akan dieliminasi. Amerika yang menekan dapat memberi pil pahit bagi rezim. Dulu Michael IMF datang Januari 1998 dan Mei 1998 Soeharto jatuh. Kini Oktober 2020 Michael AS datang entah jatuh atau bertahankah Jokowi. Yang jelas rakyat sudah mulai mendesak.

Pompeo sukses memainkan panggung diplomasi. Memang langkah kelas dunia. Sekali datang Natuna sudah di tangan. Indonesia dibuat kebingungan menghadapi jasa-jasa investasi dan "debt-trap" RRC. Jokowi bukan figur idealnya AS, Jokowi juga mulai diragukan sebagai figur kuat pengaman kepentingan RRC.

Jokowi tidak aman. Jokowi tidak mengakar. Kasus RUU HIP dan UU omnibus law menempatkan Jokowi berhadapan dengan rakyat dan umat. TNI yang tergerus oleh Polri juga rentan untuk tetap menjadi pilar Jokowi.

Pompeo belum banyak bergerak tetapi sudah membuat belingsatan. Menusuk pertahanan yang memang dari dulu juga lemah.

Pompeo sukses. Moga pak Jokowi tidak lari ke gorong-gorong.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya