Berita

Keluarga pelaku pembantaian di gereja Nice Prancis/Net

Dunia

Pelaku Pembunuhan Di Gereja Nice Prancis Pernah Jadi Penjual Bensin Eceran Di Tunisia

SABTU, 31 OKTOBER 2020 | 06:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keluarga dari pelaku kekejaman dan pembantaian di Nice Prancis mengaku kaget dan tak percaya bahwa Brahim Aioussaoi telah melakukan hal keji itu. Keluarga mengatakan Aioussaoi baru meninggalkan Tunisia beberapa pekan lalu.

“Itu tidak wajar," kata Yassine, saudara laki-laki Issaoui. Ia tidak percaya bahwa saudara kandungnya bertanggung jawab atas serangan yang terjadi di tengah kemarahan yang meluas di kalangan umat Islam atas komentar Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Brahim Aioussaoi, 21 tahun, saat ini tengah dalam kondisi serius setelah ditembak beberapa kali oleh polisi pasca melakukan serangan pisau brutal pada hari Kamis (29/10) waktu setempat di kota selatan Nice.


Lahir dari keluarga sederhana di kota Sfax, Tunisia tengah, Aioussaoi telah mendalami agama dan mengisolasi dirinya sendiri dalam dua tahun terakhir, kata kerabatnya kepada AFP.

“Dia berdoa... (dan) pergi dari rumah untuk bekerja lalu pulang. Tidak bergaul dengan orang lain atau meninggalkan rumah,” kata ibunya, menangis sambil memegang foto paspor pemuda berkerudung putih, seperti dikutip dari AFP, Jumat (30/10).

“Tapi sebelumnya, dia memang peminum. Dia minum alkohol dan menggunakan obat-obatan. Saya biasa mengatakan kepadanya, 'kita miskin dan kamu membuang-buang uang?' Dia akan menjawab jika Tuhan menghendaki, dia akan membimbing saya ke jalan yang benar, itu urusan saya',” kisah ibunya.

Aioussaoi memiliki 11 saudara kandung. Dia tinggal bersama orang tuanya di sebuah rumah sederhana di jalan berlubang di lingkungan kelas pekerja dekat zona industri di pinggiran Sfax. Ibunya mengatakan putranya itu putus sekolah dan bekerja sebagai montir sepeda motor.

Aioussaoi telah berjuang untuk mendapatkan pekerjaan tetap sebelum meninggalkan negara itu dan melakukan 'berbagai pekerjaan', kata seorang tetangga.

“Saya menyuruhnya untuk menyewa sebuah toko kecil dengan 1.100 hingga 1.200 dinar (sekitar 400 dolar yang dia hemat) agar bisa bekerja,” kata ibunya, yang tidak mau menyebutkan namanya.

“Dia bilang dia ingin mendirikan kios untuk menjual bensin.”

Aioussaoi kemudian bergabung dengan rombongan warga Tunisia yang berangkat ke Italia untuk menadu nasibnya. Jumlah orang Tunisia yang beremigrasi secara ilegal ke Italia mencapai rekor 20.000 setelah revolusi 2011, sebelum turun tajam. Jumlah pendatang kembali meningkat sejak 2017.

Aioussaoi sudah mencoba sekali sebelumnya untuk mencapai Eropa, dan tidak memberi tahu keluarganya bahwa dia akan mencoba lagi, menurut saudaranya. Setelah berhasil mencapai Italia dan menemukan pekerjaan memanen buah zaitun, tambah saudaranya, dia pergi ke Prancis.

“Dia mengatakan dia pergi ke Prancis karena lebih baik untuk bekerja dan ada terlalu banyak orang di Italia,” kata Yassine.

Keluarga itu mengatakan dia menelepon pada 28 Oktober malam, sehari sebelum serangan, memberi tahu mereka bahwa dia baru saja tiba di negara itu. Mengirimkan foto katedral Notre Dame kepada mereka sebelum melakukan serangan.

Luar biasa, mereka mengatakan mereka tidak mengerti bagaimana dia bisa melakukan serangan di Nice hanya beberapa jam setelah tiba di Prancis.

Banyak warga Tunisia mengutuk pernyataan Macron tentang Islam, hal itu memicu perdebatan tentang kebebasan berbicara - dipandang sebagai salah satu pencapaian paling solid dari revolusi 2011 negara itu.

Tunisia, di mana sebelum revolusi 2011, pihak berwenang mengendalikan praktik agama dan menindas perbedaan pendapat, menyaksikan peningkatan Islam radikal pasca pemberontakan dan gelombang serangan jihadis pada 2015.

Meskipun situasi keamanan telah meningkat pesat, serangan sporadis masih terjadi, khususnya menargetkan pasukan keamanan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya