Berita

Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan/Net

Dunia

Lewat Medsos, PM Armenia Minta Donald Trump Bereaksi Atas Pelanggaran Gencatan Senjata Oleh Azerbaijan

SELASA, 27 OKTOBER 2020 | 09:40 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan tampaknya berharap Amerika Serikat (AS) bisa bereaksi atas pelanggaran Azerbaijan terhadap gencatan senjata yang telah disepakati untuk ketiga kalinya.

Melalui laman Facebook-nya pada Senin (26/10), Pashinyan mengatakan Azerbaijan tidak menghormati kesepakatan gencatan senjata yang telah difasilitasi oleh Washington.

"Kami tidak tahu apa yang akan menjadi reaksi Presiden AS (Donald Trump) terhadap kegagalan gencatan senjata, tetapi saya melakukan percakapan telepon setelah tengah malam dengan Menteri Luar Negeri Pompeo, dan mengatakan kepadanya bahwa ini adalah gencatan senjata pertama bagi mereka, tetapi untuk kami itu yang ke-3 dan saya bisa memprediksi apa yang akan terjadi besok," terang Pashinyan, seperti dikutip Armen Press.


"Saya katakan bahwa kemungkinan besar gencatan senjata tidak akan dihormati dan kemungkinan besar Azerbaijan akan menyalahkan Armenia," lanjut dia.

Pashinyan mengatakan, ia berharap AS dapat mengklarifikasi dan memberikan konsekuensi atas tindakan dari pihak mana yang menggagalkan gencata senjata.

Selain Facebook, Pashinyan juga mengunggah pernyataan di Twitter dengan menyebutkan akun Trump.

"Saya ingin menyatakan bahwa upaya komunitas internasional, kali ini ditengahi oleh Amerika Serikat, untuk membuat gencatan senjata, telah gagal. Akibat penembakan terus menerus oleh Azerbaijan, warga sipil tewas dan terluka di Artsakh hari ini," cuitnya.

Gencatan senjata terbaru yang disepakati oleh Armenia dan Azerbaijan dilakukan di Washington. Keduanya sepakat untuk memberlakukan gencatan senjata pada Senin (26/10) pukul 8 pagi waktu setempat.

Namun sekitar 45 menit setelahnya, pasukan Azerbaijan diklaim telah membombardir sebuah desa yang membuat satu warga sipil meninggal dan dua lainnya terluka.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya