Berita

Petugas medis di Luksemburg/Net

Dunia

Laporan Statec: Pekerja Di Garis Depan Covid-19 Berpenghasilan Lebih Kecil Dibanding Pekerja Non Esensial

JUMAT, 16 OKTOBER 2020 | 10:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

  Pekerja yang berada di garis depan penanganan wabah di Luksemburg memiliki penghasilan sekitar 23,90 Euro per jam. Sebanyak 150.000 karyawan tersebar di sektor kesehatan, layanan kebersihan, dan logistik.
 
Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Institut Nasional Statistik dan Studi Ekonomi Grand Duchy of Luxembourg (Statec) menganalisis situasi yang disebut pekerja garis depan, yang berarti orang-orang yang usahanya dianggap sangat diperlukan sejak awal wabah. Penghasilan mereka yang berkisar 23,90 Euro per jam adalah sama dengan 90 persen dari gaji rata-rata yang diberikan kepada pekerja non-esensial selama periode waktu yang sama.

Artinya, pekerja di sektol yang 'tidak penting' dalam penanganan wabah jauh lebih besar dari para karyawan yang berada di garis depan Covid-19.


Pada Kamis, Statec, sebuah administrasi di bawah otoritas Kementerian Ekonomi, menerbitkan laporan terbaru tentang pasar tenaga kerja nasional, dengan fokus pada trimester kedua tahun ini.

Saat ini, sebanyak 52 persen tenaga kerja di Luksemburg melakukan pekerjaannya dari jarak jauh atau dari rumah selama pandemi virus corona. Mereka inilah yang banyak menempati posisi dalam domain komunikasi dan informasi, yang dipekerjakan oleh perusahaan besar, bank, atau perusahaan asuransi.

Berbeda dengan mereka, pekerja perawatan kesehatan secara substansial jumlahnya lebih rendah. Penghasilannya pun jauh lebih rendah, padahal sebagai garis depan, pekerjaan dilakukan langsung, bukan dengan jarak jauh. Sangat mudah bagi mereka terpapar virus pada saat melakukan pekerjaannya.

Dalam laporan itu juga disebutkan tingkat pengangguran meningkat dari 5,5 menjadi 6,5 persen, bila dibandingkan dengan trimester kedua tahun 2019.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya