Angka kasus Covid-19 yang semakin tinggi memaksa Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan jam malam untuk Paris dan delapan kota lainnya mulai Sabtu (17/10) mendatang.
Dalam sebuah wawancara televisi, Macron mengatakan penduduk sejumlah kota yang jika digabungkan adalah rumah bagi hampir sepertiga dari populasi Prancis tidak akan diizinkan untuk berada di luar ruangan antara jam 9 malam dan 6 pagi, dengan durasi setidaknya empat minggu, kecuali untuk sebuah alasan penting.
"Kami harus bertindak. Kami perlu menghentikan penyebaran virus ," kata Macron, menambahkan langkah itu akan menghentikan orang mengunjungi restoran dan rumah pribadi pada malam hari, seperti dikutip dari AFP, Kamis (15/10).
"Kami harus menangani virus ini hingga setidaknya musim panas 2021," kata Macron, seraya menekankan bahwa semua ilmuwan sepakat tentang hal itu.
Dia mengatakan kasus baru virus corona harian harus diturunkan menjadi tiga ribu atau lima ribu dari level saat ini yang telah mencapai hampir 27 ribu.
Selain Paris dan wilayahnya, Grenoble, Lille, Lyon, Marseille, Montpellier, Rouen, Saint-Etienne dan Toulouse menjadi sasaran tindakan tersebut, kata Macron. Itu berarti sekitar 20 juta orang akan terpengaruh dari total populasi sekitar 67 juta.
"Kami tidak akan meninggalkan restoran setelah jam 9 malam. Kami tidak akan berpesta dengan teman-teman karena kami tahu di situlah risiko kontaminasi terbesar," katanya.
Pemimpin redaksi luar negeri France 24, Rob Parsons, mengatakan bahwa jam malam mulai pukul 21.00 akan merugikan bisnis yang bergantung pada pelanggan malam. Tempat-tempat seperti bioskop, restoran, dan teater akan menjadi sektor bisnis yang akan sangat terdampak.
"Itu akan sangat memprihatinkan, khususnya untuk restoran, teater, bioskop yang bergantung pada pelanggan yang datang sekitar jam 8 malam atau lebih," kata Parsons.
Mengenai hal itu Macron mengatakan bahwa akan ada dukungan finansial untuk mengkompensasi kerugian mereka, namun demikian, kata Parsons, penutupan pukul 9 malam akan menjadi pukulan bagi sektor ekonomi Prancis itu.
Sektor perhotelan Prancis segera menolak rencana pemberlakuan jam malam tersebut, menyebut itu sebagai 'penutupan terselubung' untuk restoran, kafe dan hotel, menurut pernyataan bersama dari federasi mereka.
Macron juga mengakui bahwa tindakan tersebut berat bagi kaum muda, tetapi krisis kesehatan menyisakan sedikit pilihan. "Sulit untuk menjadi usia 20 pada tahun 2020," katanya.
Dia juga mendesak orang-orang untuk membatasi pertemuan di rumah mereka hanya enam orang, dan wajib mengenakan masker pelindung pada kesempatan seperti itu.
"Siapa pun yang ditemukan berada di luar ruangan selama jam malam tanpa otorisasi khusus akan menghadapi denda sebesar 135 euro, dan lebih dari 10 kali lipat jumlah itu untuk pelanggar berulang," kata Macron.
"Kami berada dalam situasi yang mengkhawatirkan," kata Macron, sambil bersikeras bahwa Prancis tidak kehilangan kendali terhadap virus itu dan penguncian penuh kedua, seperti tindakan dua bulan awal tahun ini, akan tidak proporsional.
Macron mengatakan 32 persen dari 5.000 tempat perawatan intensif Prancis saat ini ditempati oleh pasien virus corona, proporsi yang perlu diturunkan menjadi paling banyak 10 hingga 15 persen.
Menurut angka resmi terbaru, 1.633 orang berada dalam perawatan intensif di Prancis dibandingkan dengan kapasitas nasional yang dapat menampung 5.000 pasien. Sekitar 33 ribu orang telah meninggal akibat virus corona di Prancis.
Dalam kesempatan yang sama Macron juga mengatakan bahwa Prancis akan segera mengadopsi strategi pengujian baru, yang dapat mencakup pengujian mandiri, dan akan memungkinkan pengurangan drastis.
Dia mengakui bahwa aplikasi telepon Prancis yang banyak digembar-gemborkan, StopCovid tidak berfungsi dan telah diunduh jauh lebih sedikit daripada aplikasi serupa di negara tetangga Prancis di Eropa, menambahkan bahwa ia akan menghadirkan sebuah aplikasi baru akhir bulan ini.
Rabu (14/10) pagi waktu setempat, pemerintah Prancis memberlakukan kembali keadaan darurat kesehatan nasional untuk memungkinkan langkah-langkah yang proporsional dengan risiko kesehatan diambil.
Menurut notulen rapat hari itu dikatakan bahwa Prancis sedang menghadapi bencana kesehatan.
Keadaan darurat kesehatan adalah kerangka hukum yang memungkinkan pemerintah mengambil tindakan tegas untuk memerangi pandemi - seperti penguncian nasional selama musim semi - dan perlu diperbarui setelah kedaluwarsa pada Juli.