Berita

Peta Negara Berkembang yang Terkurung Daratan (Landlocked Developing Countries atau LLDC)/Net

Dunia

Triliunan Dolar Dikerahkan Untuk Covid-19, Nyatanya 91 Negara Paling Rentan Tidak Menerima Bantuan Yang Mereka Butuhkan

SELASA, 13 OKTOBER 2020 | 07:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Negara-negara berkembang masih harus mengerahkan kekuatannya untuk bertahan dari krisis kesehatan yang berimbas pada perekonomian mereka. Walau komunitas internasional telah mengeluarkan bantuan sebesar 20 triliun dolar AS, dan akan terus bertambah, pada kenyataannya hanya 8,5 miliar dolar AS yang tersalurkan untuk negara-negara paling rentan.

Perwakilan Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Negara-negara Paling Sedikit Berkembang (Least Developed Countries atau LDC), Negara Berkembang yang Terkurung Daratan (Landlocked Developing Countries atau LLDC), dan Negara Berkembang Di Pulau Kecil (Small Island Developing States atau SIDS), mengatakan ia baru saja merilis temuannya tentang dampak Covid-1 di 91 negara rentan itu.

Negara-negara ini, dengan populasi mencapai 1,1 miliar, harus berjuang di tengah kehancuran atas pandemi virus corona dengan minimnya sumber daya untuk pemulihan.


“Dukungan yang diterima oleh negara-negara yang paling rentan, meskipun bermanfaat dan diterima dengan penuh syukur, hampir tidak sebanding dengan tantangan yang mereka hadapi,” kata Pewakilan PBB untuk Negara Berkembang dan Negara Paling Rentan, Fekitamoeloa Katoa 'Utoikamanu, seperti dikutip dari Oekusi Post

Penurunan permintaan barang secara global sangat mempengaruhi perekonomian mereka, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada ekspor barang manufaktur. Krisis juga memengaruhi pengiriman uang, yang diproyeksikan turun lebih dari 20 persen di LDC, yang menunjukkan hilangnya jalur kehidupan penting bagi rumah tangga yang rentan.

Selanjutnya, investasi asing langsung ke negara-negara ini sedang surut.

Seperti yang dicatat oleh Perwakilan Tinggi 'Utoikamanu, bahwa setiap pemulihan global akan bergantung pada bagaimana ekonomi dan sistem kesehatan yang paling lemah dapat mengatasi pandemi.

"Kami membutuhkan 'rasa urgensi' dan ambisi yang sama dari komunitas internasional untuk mendukung negara-negara yang paling rentan, sebagaimana lancarnya bantuan triliunan dolar yang telah dikerahkan untuk melindungi negara-negara maju dari dampak terburuk pandemi.”

LDC, LLDC, dan SIDS adalah tiga kelompok negara paling rentan, termasuk beberapa negara yang paling banyak berhutang dan termiskin di dunia, saat ini sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawa dari pandemi ini.

Kelaparan tetap menjadi tantangan kritis dan semakin memburuk akibat pandemi. Terlebih lagi, banyak dari negara-negara ini berada di ujung kesenjangan digital, dengan tingkat akses internet terendah. Jutaan anak tidak menerima pendidikan karena pembelajaran jarak jauh tidak dapat diperoleh.

Pariwisata di negara bagian di pulau-pulau kecil mengalami pukulan besar dan PDB mereka kemungkinan akan menyusut 4,7 persen tahun ini, jauh lebih dari perkiraan kontraksi global sebesar 3 persen. Beberapa ekonomi pulau kecil diperkirakan akan berkontraksi lebih banyak, mungkin sebanyak 8 persen.

Negara-negara ini sedang dilanda perubahan iklim dan menghadapi tingkat hutang nasional yang tinggi. Mereka tidak siap untuk menghadapi kehancuran ekonomi dan sosial akibat Covid-19 tanpa bantuan komunitas internasonal.

Awal tahun ini, LDC, LLDC dan SIDS merilis pernyataan yang menekankan skala dampak pandemi pada masyarakat dan ekonomi mereka, seraya menyerukan solidaritas dan dukungan yang lebih besar dari komunitas internasional.

Kampanye 'Covid-19, The Most Vulnerable 91' telah merilis hasil temuan analisis UN-OHRLLS yang menyoroti skala pendanaan yang telah disediakan untuk 91 negara terseut.

Kampanye harus dilakukan untuk memperoleh bantuan segera mengingat tingkat kerentanan mereka yang telah mencapai titik paling kritis.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya