Berita

Raja Abdullah II dari Yordania/Net

Dunia

Kecewa Dengan Penanganan Covid-19, Raja Yordania Rombak Pemerintahan

MINGGU, 04 OKTOBER 2020 | 07:42 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Perdana Menteri Yordania, Omar al Razzaz telah mengirimkan surat pengunduran dirinya kepada Raja Abdullah II.

Pengunduran diri Razzaz merupakan tindak lanjut dari keputusan Raja untuk membubarkan parlemen pada Minggu (27/9) karena dianggap gagal tangani wabah Covid-19 dan dampaknya.

Sesuai konstitusi, jika parlemen dibubarkan maka pemerintah harus mengundurkan diri dalam waktu sepekan.


Setelah menerima pengunduran diri Razzaz pada Sabtu (3/10), Raja memintanya untuk tetap duduk sebagai perdana menteri sementara hingga ia menunjuk pengganti untuk menggelar pemilihan parlemen pada 10 November.

Dalam sepucuk surat penerimaan pengunduran diri Razzaz, Raja mengatakan telah terjadi kesalahan dalam penanganan pandemi Covid-19. Ia juga menggarisbawahi kekhawatiran para ahli medis mengenai sistem kesehatan Yordania yang berada di ambang kehancuran jika penyebaran komunitas Covid-19 tidak terkendali.

Padalnya, telah terjadi peningkatan kasus baru Covid-19 selama sebulan terakhir yang membuat pemerintah banyak dikritik. Pada Sabtu, sebanyak 1.099 kasus dilaporkan di Yordania, membuat totalnya menjadi 14.749 infeksi dengan 88 kematian.

Raja berharap, perombakan yang lebih luas dalam pemerintahan dan parlemen dapat meredakan kekecewaan publik terhadap penanganan pandemi Covid-19 yang ditambah dengan pembatasan kebebasan sipil dan politik di bawah UU darurat.

Pada Juli, pihak berwenang dilaporkan sudah menangkap ratusan aktivis guru yang dipimpin oleh oposisi, serta sejumlah pengkritik pemerintah di media sosial.

Kondisi tersebut juga diperburuk dengan hantaman Covid-19 terhadap ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Yordania diperkirakan akan menyusut sebesar 6 persen pada tahun ini dengan pengangguran dan kemiskinan yang meningkat.

Raja Abdullah menunjuk Razzaz pada musim panas 2018 sebagai perdana menteri untuk meredakan protes terbesar selama bertahun-tahun terkait kenaikan pajak yang diminta oleh Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mengurangi utang publik Yordania yang besar.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya