Berita

Kepala Staf Presiden (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko/Net

Politik

Moeldoko Ingatkan Gatot Dkk Jangan Ganggu Stabilitas Politik, PKS: Kasihan Pak Jokowi, Pembantunya Bikin Ruang Publik Jadi Kerdil

SABTU, 03 OKTOBER 2020 | 09:48 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pernyataan keras Kepala Staf Presiden (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko yang memperingatkan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) agar tidak menggangu stabilitas politik nasional terus menuai reaksi beragam dari berbagai kalangan sebagian.

Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera merasa sedih dan prihatin dengan ucapan dari pembantu Presiden tersebut. Sebab, demokrasi akan selalu bising karena kebebasan berpendapat berkumpul berserikat dijamin konstitusi.

"Jalan demokrasi memang bising. Saya sedih jika pejabat kita komen kayak gini. Membuat ruang publik jadi kerdil dan tidak mencerahkan," ujar Mardani Ali Sera saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (3/10).


Mardani justru kasihan dengan Presiden Jokowi karena ada pembantunya mengeluarkan statement yang kerdil. Menurutnya, KAMI juga ormas lainnya mempunyai hak yang sama untuk menyuarakan aspirasinya di alam demokrasi.

"Kasihan Pak Jokowi kalau pembantunya seperti ini. Dan bagus karena semua bisa dikontestasi dan enggak perlu dilihat niatnya apa. Wong dukung Jokowi juga enggak apa, oposisi juga boleh," kata Mardani Ali Sera.

"KAMI seperti ormas lainnya punya hak untuk bersuara dan bekerja untuk Indonesia selama sesuai dengan aturan yang berlaku," imbuhnya menegaskan. 

Diberitakan sebelumnya, Kepala KSP Moeldoko menyebut keberadaan KAMI yang belakangan terus mendeklarasikan diri di sejumlah daerah hanya sekumpulan orang yang memiliki kepentingan.

Salah satu Presidium KAMI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo sering menghadiri acara KAMI di daerah. Dan beberapa kali mendapat penolakan.

Moeldoko tidak menampik keberadaan KAMI membuat suhu politik memanas. Oleh karena itu, pihaknya tak mau ambil pusing dengan bersikap berlebihan.

"Setelah ada KAMI, nanti ada KAMU, terus ada apa lagi, kan? Kami tidak perlu menyikapi berlebihan sepanjang masih gagasan karena itu bagian dari demokrasi. Tetapi, jangan coba-coba mengganggu stabilitas politik," tegas mantan Panglima TNI ini.

"Negara punya kalkulasi dalam menempatkan demokrasi dan stabilitas," sambungnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya