Berita

Joko Widodo bersama Airlangga Hartarto/Net

Politik

LPPC19-PEN: Covid-19 Momentum Membangun Kesadaran Bersama, Bukan Saling Menyalahkan

JUMAT, 25 SEPTEMBER 2020 | 15:48 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pandemi Covid-19 tidak boleh dijadikan komoditas isu politik untuk kepentingan pribadi atau golongan. Pandemi ini merupakan kawah candradimuka bagi warga bangsa Indonesia. Pasalnya, nilai gotong-royong lebih dibutuhkan dibanding beradu argumentasi di media.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Lembaga Pemantau Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (LPPC19-PEN), Agung Eka Dharma menyoroti sikap para politisi nasional di Indonesia belakangan ini.

Sikap tersebut terkait dengan penanganan pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih terus dilakukan oleh berbagai pihak. LPPC19-PEN menyayangkan sikap para politisi tersebut.


"Pandemi Covid-19 ini momentum untuk membangun kesadaran warga bangsa. Kita tidak boleh menjadikannya momentum kematian nurani dan logika. Lakukan apa saja yang kita bisa, itu jauh lebih baik dibanding menyalahkan pemerintah," katanya, Jumat (25/9).

Dharma mencontohkan imbauan yang dilakukan oleh Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto tentang penguatan sektor mikro. Menurut dia, imbauan tersebut sangat positif untuk merangsang pertumbuhan benteng terakhir ekonomi nasional itu.

"Saya sepakat dengan Pak Menteri bahwa sektor mikro ekonomi nasional harus dikuatkan. Kita masih lebih baik dengan negara lain, tentu saja ini potensi. Meskipun, siklus penurunan itu ada, tetapi tidak ada kata terlambat. Seharusnya, politisi itu ikut turun mem-back up sektor UMKM, bukan sebar isu di media," ujarnya.

Selain itu, LPPC19-PEN juga menyoroti terkait kebijakan PSBB di DKI Jakarta. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum LPPC19-PEN, Arief Puyouno. Menurut dia, kebijakan PSBB merupakan tindakan yang tidak terukur dengan baik.

"PSBB itu kan hal biasa, kondisinya memang darurat dan itu diatur dalam undang-undang. Nah, dengan cara gembar-gembor dan permainan kata-kata, ini menjadi kontraproduktif. Akibatnya, timbul kepanikan di sana-sini. Istilah 'rem darurat' itu kan menggelikan, dan ngawur, masa saat new normal diberlakukan justru lengah dan teledor menerapkan protokol kesehatan pada masyarakat di Jakarta," tuturnya.

Arief meyakini Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berada dalam kondisi sadar baik secara pribadi maupun sebagai pejabat publik. Secara pribadi dirinya sadar bahwa pernyataannya akan menimbulkan suasana kepanikan. Selain itu, sebagai pejabat publik pun dirinya sadar bahwa status PSBB DKI Jakarta masih belum dicabut.

"Sudah direm darurat juga angka suspect Covid-19 tetap mengalami kenaikan di Jakarta ini. Ini akibat kemampuan mengolah kata lebih dominan dibandingkan dengan kemampuan bertindak," katanya.

Arief menyerukan semua pihak untuk mengawal dana bantuan sosial Covid-19. Menurut dia, selama PSBB berlangsung pemerintah diharuskan untuk mengalokasikan anggaran tersebut untuk masyarakat. Karena itu, sikap pro aktif unsur pemerintah, wakil rakyat dan unsur silet majority sangat diperlukan.

"Kegemaran kepala daerah ini kan merengek meminta bantuan pemerintah pusat. Abis 'rem mendadak' itu kan ada bantuan pemerintah pusat yang nyaris Rp 12 triliun. Jadi ini harus kita awasi bersama. Silent majority yang selama ini diam, harus pro aktif, pemerintah pro aktif, wakil rakyat juga begitu," ujarnya.

Politisi senior nasional itu juga menambahkan bahwa seharusnya Jakarta mampu hidup dan menghidupkan masyarakatnya sendiri. Pasalnya, APBD daerah khusus ibukota itu sangat besar, dengan potensi pendapatan yang besar pula.

"Kalau masih menyalahkan pemerintah pusat, enggak etis lah. Harusnya Jakarta sendiri mampu kok sebenarnya, enggak perlu merengek bantuan ke pusat. PAD kan besar sekali itu," demikian Arief Puyouno.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya