Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Belajar Legowo Menghadapi Kritik

SENIN, 21 SEPTEMBER 2020 | 07:56 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DUMEH merasa diri sempurna, maka perasaan saya selalu tersinggung bahkan terluka setiap kali ada pihak yang mengkritik saya.

Bahkan kerap kali saya tidak dapat menahan diri untuk marah kemudian balas mengkritik pihak yang mengkritik saya.

Sampai pada suatu hari ayah saya  mengkritik sikap saya tidak bisa legowo menerima dikritik. Tentu saja saya merasa tersinggung dikritik oleh ayah saya.


Namun saya tidak berani membantah, sebab masih menghormati ayah saya sebagai ayah saya.

Ayah, Anak, Dan Kuda

Ayah saya mengingatkan saya pada kisah seorang ayah dan seorang anak menuntun seekor kuda, kemudian berjumpa seorang yang mengritik, kenapa kuda tidak ditunggangi oleh sang ayah dan sang anak, maka sang ayah memerintahkan agar sang anak menunggangi sang kuda.

Kemudian berjumpa  seorang lain lagi yang mengritik, kenapa anak yang masih muda kurang ajar naik kuda sementara ayah yang sudah tua dibiarkan berjalan kaki, maka sang anak turun dari atas kuda untuk memaksa sang ayah naik kuda.

Sampai jumpa seorang lain lagi yang mengritik, sang ayah tidak tahu diri mentang-mentang sudah tua, maka enak-enakan naik kuda sementara membiarkan anaknya berjalan kaki maka diputuskan bahwa anak dan ayah berdua naik kuda bersama.

Sampai akhirnya sang kuda jatuh pingsan sebab tidak mampu memikul beban berat badan sang ayah dan sang anak yang kebetulan memang keduanya overweight.

Jesus Kristus

Melihat gelagat saya tersinggung akibat merasa disamakan dengan kuda, maka ayah saya lanjut mengingatkan saya kepada kisah Jesus Kristus mengajarkan kasih-sayang.

Ajaran Jesus Kristus dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianut mayoritas masyarakat Jerusalem pada masa itu.

Jesus Kristus bukan saja dikritik, namun malah dihujat, difitnah lalu dilaporkan ke penguasa Romawi kemudian ditangkap untuk dipenjara kemudian disiksa sebelum disalibkan di tiang salib.

Ayah saya menyadarkan bahwa dibandingkan dengan Jesus Kristus, sudah barang tentu budi-pekerti saya nun jauuuuuh di bawah maka tidak layak dibandingkan dengan Jesus Kristus.

Seharusnya saya bersyukur bahwa saya hanya dikritik, dihujat, dihina, namun belum difitnah untuk dilaporkan ke polisi untuk dijebloskan ke penjara tanpa kemungkinan disalib di masa kini yang memang sudah tidak ada hukuman disalib di tiang salib.

Ayah juga mengingatkan saya kepada falsafah keluarga besar Suprana yaitu Ojo Dumeh.

Jihad Al Nafs

Diingatkan oleh ayah kepada kisah Jesus Kristus, sebagai seorang umat Nasrani meski tidak terlalu saleh, saya tidak berani merasa tersinggung.

Sejak saat dikritik ayah saya dengan metafora seekor kuda dan seorang ayah dan seorang anak masih ditambah dengan kisah pengorbanan Jesus Kristus dilengkapi falsafah ojo dumeh, maka setiap kali dikritik langsung saya berupaya menunaikan Jihad Al Nafs, demi berupaya menaklukkan gejolak angkara murka pada lubuk sanubari diri saya sendiri.

Saya berusaha mengendalikan perasaan diri saya sendiri untuk senantiasa sadar bahwa diri saya hanya sesosok mahluk hidup mustahil sempurna.

Alih-alih merasa tersinggung apalagi marah, justru seharusnya saya wajib berterima kasih terhadap pihak yang mengritik saya. Karena para pengkritik saya sebenarnya berbaik-hati ingin mengingatkan saya bahwa diri saya sebenarnya hanya sesosok mahluk hidup yang memang tidak sempurna akibat memang mustahil sempurna.

Memang tidak mudah, namun demi kepentingan diri saya sendiri, memang saya masih harus amat banyak belajar legowo menerima kritik.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajar Kemanusiaan

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Ambang Batas Parlemen Moderat Cukup 2,5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 20:04

Eks Kepala PPATK: Demutualisasi BEI Kebutuhan Mendesak, Faktor Pertemanan Permudah Penyimpangan

Senin, 02 Februari 2026 | 19:50

Ribuan Warga Kawanua Rayakan Natal dan Tahun Baru dengan Nuansa Budaya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Catat! Ini 9 Sasaran Operasi Keselamatan Jaya 2026 dan Besaran Dendanya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Prabowo Terima Dirut Garuda dan Petinggi Embraer di Istana, Bahas Apa?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:41

Menkeu Purbaya Singgung Saham Gorengan Saat IHSG Anjlok, Apa Itu?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:29

Alur Setoran Kades dan Camat ke Sudewo Ditelisik KPK

Senin, 02 Februari 2026 | 19:23

Horor Sejarah Era Jim Crow

Senin, 02 Februari 2026 | 19:14

10 Surat Tanah yang Tidak Berlaku Lagi mulai Februari 2026

Senin, 02 Februari 2026 | 19:12

5 Takjil Khas Daerah Indonesia Paling Legendaris

Senin, 02 Februari 2026 | 18:53

Selengkapnya