Berita

Cek untuk stimulus ekonomi dari pandemi Covid-19 di Amerika Serikat/Net

Dunia

Ratusan Penipu Diduga Curi Miliaran Dolar Paket Stimulus Covid-19 Di AS

JUMAT, 11 SEPTEMBER 2020 | 08:46 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Penegak hukum federal di Amerika Serikat (AS) telah mendakwa 57 orang karena diduga melakukan penipuan terhadap program bantuan pandemi Covid-19 dari pemerintah.

Para pejabat mengungkap, 57 orang diduga melakukan penipuan sebesar 175 juta dolar AS dari program bantuan yang dimaksudkan untuk membantu usaha kecil dalam mengatasi pandemi.

Selain itu, dilaporkan Reuters pada Kamis (10/9), masih ada sekitar 500 orang lainnya yang kemungkinan telah melakukan penipuan Program Perlindungan Gaji (PPP) senilai 660 miliar dolar AS.


Asisten Jaksa Agung Brian Rabbitt mengatakan, kasus tersebut merupakan sebuah jaringan kriminal terorganisir sehingga Departemen Kehakiman akan bekerja sama dengan sejumlah lembaga lain.

"Keterlibatan cincin-cincin ini tidak mengherankan, tetapi ini sangat mengganggu kami di sini di departemen, kami akan fokus pada jenis kasus ini, ke depannya," ujarnya.

Para pejabat sendiri mengungkap, penipuan terhadap program pemerintah memberikan kerugian yang signifikan, namun tidak menyebut berapa angka yang telah dicuri.

Kongres sendiri telah mengesahkan paket penyelamatan pandemi senilai 3 triliun dolar AS. Pekan lalu, panel kongres mengidentifikasi puluhan ribu dari 5,2 juta pinjaman program mungkin telah ditipu atau disalahgunakan. Artinya ada miliaran dolar AS dana pembayar pajak yang telah dicuri.

Pekan ini, JPMorgan Chase & Co, yang menyalurkan hampir 30 miliar dolar AS pinjaman PPP, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan penegak hukum setelah mengidentifikasi kasus "penyalahgunaan" dana tersebut.

Saat ini, pejabat penegak hukum mengatakan, mereka akan menggunakan teknologi analitik data mutakhir yang telah mereka asah pada penyelidikan penipuan perusahaan dan perawatan kesehatan untuk dengan cepat mengidentifikasi dalangnya.

"Anda tidak dapat bersembunyi dari jejak digital dan kertas ini," ujar kepala investigasi kriminal Internal Revenue Service, James Lee memperingatkan para penipu.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Skandal Hibah Daerah, KPK: Rp83 Triliun Rawan Bancakan

Senin, 20 April 2026 | 12:16

Spirit KAA 1955 Bukan Nostalgia tapi Agenda Ekonomi Global Selatan

Senin, 20 April 2026 | 12:05

Keresahan JK soal Ijazah Jokowi Mewakili Rakyat Indonesia

Senin, 20 April 2026 | 12:01

Lusa, Kloter Pertama Jemaah Haji RI Mendarat di Madinah

Senin, 20 April 2026 | 11:55

Harris Bongkar Peran Netanyahu di Balik Keputusan Perang Trump

Senin, 20 April 2026 | 11:43

Emas Antam Merosot, Ini Harga Terbarunya

Senin, 20 April 2026 | 11:27

Amanah Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

Senin, 20 April 2026 | 11:25

Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Tembus 6,98 Ton

Senin, 20 April 2026 | 11:06

Wapres AS Kembali Pimpin Delegasi ke Islamabad untuk Negosiasi Iran

Senin, 20 April 2026 | 10:55

Iran Akui Kapalnya Dibajak AS, Ancam Serangan Balasan

Senin, 20 April 2026 | 10:34

Selengkapnya