Berita

Tiga pemimpin oposisi dalam pertemuan untuk penandatanganan kesepakatan pemerintahan baru, Rabu 9 September 2020/Net

Dunia

Pemimpin Koalisi Pemenang Pemilu Setuju Montenegro Tetap Pro Barat Dan UE

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2020 | 15:33 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

  Para pemimpin dari tiga kelompok oposisi yang meraih kemenangan tipis pada pemilihan parlemen di Montenegro baru-baru ini, pada Rabu (9/9) menandatangani perjanjian koalisi tidak akan mengubah simbol nasional negara Monterego, tidak akan menarik pengakuan atas Kosovo, dan menghormati semua komitmen internasional saat ini, seperti keanggotaan NATO.

Tiga pemimpin itu adalah Zdravko Krivokapic dari blok pro-Serbia 'For the Future of Montenegro', Dritan Abazovic dari koalisi sipil 'Black on White', Aleksa Becic dari 'Peace is Our Nation'.

Perjanjian tersebut mengatakan bahwa Montenegro akan mematuhi semua kewajiban internasional yang dilakukan oleh pemerintah sebelumnya, termasuk memperkuat hubungan dengan NATO dan mempercepat 'semua reformasi yang diperlukan' untuk menjadi anggota Uni Eropa, seperti dikutip dari AP, Kamis (10/9).


Meskipun Partai Demokrat Sosialis yang berkuasa lama di Montenegro memenangkan suara terbanyak dalam pemilihan 30 Agustus lalu, koalisi dari tiga partai oposisi bersama-sama memenangkan kursi terbanyak di parlemen dengan 81 kursi, cukup bagi mereka untuk membentuk pemerintahan berikutnya.

“Ini adalah bukti bahwa pemerintahan demokrasi baru akan pro-Eropa, pro-Barat dan pro-Montenegro,” kata pemimpin partai Peace is Our Nation, Aleksa Becic, setelah penandatanganan perjanjian koalisi.

“Tidak akan ada perubahan, hanya penguatan jalur politik luar negeri negara,” kata Becic.

Para pemimpin partai koalisi mengatakan bahwa prioritas pemerintahan baru adalah pembangunan ekonomi dan pemberantasan korupsi endemik yang telah menjadi salah satu beban utama pemerintahan sebelumnya.

Mereka berjanji untuk memerangi kejahatan dan korupsi begitu mereka berkuasa, bukan untuk menuntut pembalasan atas dasar politik terhadap lawan, untuk menghormati Konstitusi dan undang-undang negara, dan untuk memasukkan partai-partai minoritas dalam koalisi pemerintahan.

Ketiga pemimpin tersebut menyetujui beberapa prinsip pemerintahan umum yang serupa sebelumnya.

Ketegangan melonjak di negara yang terpecah beberapa hari setelah pemungutan suara ketika ribuan pendukung partai oposisi menggelar perayaan kemenangan yang riuh di seluruh negeri. Para peserta mengibarkan bendera Serbia dan meneriakkan slogan-slogan penghinaan terhadap Presiden Montenegro Milo Djukanovic, meskipun ada seruan dari para pemimpin partai oposisi untuk menahan diri dari provokasi.

Akhir pekan lalu, puluhan ribu pendukung Djukanovic menggelar rapat umum 'patriotik' yang meneriakkan slogan-slogan anti-oposisi.

Djukanovic, yang memimpin partai DPS, menuduh para pemimpin Serbia dan propaganda kuat negara mereka ikut campur dalam pemilihan yang diadakan setelah berbulan-bulan protes oleh para pendukung Gereja Ortodoks Serbia yang marah atas sengketa hak milik di Montenegro.

Djukanovic, yang telah memerintah Montenegro selama 30 tahun baik sebagai presiden maupun perdana menteri, telah menjadi sekutu utama Barat dalam mendorong Balkan yang bergejolak menuju orientasi yang lebih pro-Barat.
Djukanovic menentang Rusia pada 2017 untuk memimpin negaranya menjadi NATO setelah memperoleh kemerdekaan dari Serbia yang jauh lebih besar pada 2006. Dia memiliki tiga tahun lagi kekuasaan sebelum pemilihan presiden berikutnya.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Skandal Hibah Daerah, KPK: Rp83 Triliun Rawan Bancakan

Senin, 20 April 2026 | 12:16

Spirit KAA 1955 Bukan Nostalgia tapi Agenda Ekonomi Global Selatan

Senin, 20 April 2026 | 12:05

Keresahan JK soal Ijazah Jokowi Mewakili Rakyat Indonesia

Senin, 20 April 2026 | 12:01

Lusa, Kloter Pertama Jemaah Haji RI Mendarat di Madinah

Senin, 20 April 2026 | 11:55

Harris Bongkar Peran Netanyahu di Balik Keputusan Perang Trump

Senin, 20 April 2026 | 11:43

Emas Antam Merosot, Ini Harga Terbarunya

Senin, 20 April 2026 | 11:27

Amanah Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

Senin, 20 April 2026 | 11:25

Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Tembus 6,98 Ton

Senin, 20 April 2026 | 11:06

Wapres AS Kembali Pimpin Delegasi ke Islamabad untuk Negosiasi Iran

Senin, 20 April 2026 | 10:55

Iran Akui Kapalnya Dibajak AS, Ancam Serangan Balasan

Senin, 20 April 2026 | 10:34

Selengkapnya