Berita

Jaya Suprana/Istimewa

Jaya Suprana

Mempertanyakan Pertanyaan

SELASA, 08 SEPTEMBER 2020 | 20:15 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KEUNGGULAN Sokrates terletak pada kemampuan bertanya. Ada beberapa jenis pertanyaan misalnya apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana, berapa, kenapa, adakah, serta masih ada lagi?

Masing-masing pertanyaan memiliki bobot makna kesulitan tersendiri untuk dijawab secara seragam. Bahkan bentuk kesulitan rawan berubah dari insan ke insan, waktu ke waktu, lokasi ke lokasi, mau pun dimensi ke dimensi.

Risiko


Ada pula jenis pertanyaan yang sebaiknya jangan ditanyakan akibat mengandung risiko membahayakan sang penanya, seperti misalnya bertanya kepada seorang penguasa mengenai kenapa menyalahgunakan kekuasaan. Sementara Raja Salomon sempat dihadapkan dengan pertanyaan mengenai siapa ibu kandung seorang bayi yang sedang diperebutkan dua orang perempuan yang keduanya mengaku bayi tersebut adalah anak kandungnya. Jawaban sangat berisiko keliru akibat pada masa itu belum ada tes DNA.

Dalam Ilmu Jajak Pendapat hasil polling potensial terpengaruh oleh bentuk pertanyaan yang diajukan ke para responden. Lokasi juga berpengaruh terhadap hasil jajak pendapat, misalnya yang diselenggarakan di dalam lingkungan biara lazimnya menolak prostitusi dan judi.

Berapa

Pertanyaan berapa terkesan mudah dijawab dengan angka. Namun jawaban terhadap pertanyaan mengenai berapa sebenarnya jumlah kematian warga Indonesia akibat Covid-19 relatif rumit akibat sepenuhnya tergantung kepada kehendak penguasa untuk menjawabnya.

Jika kebutuhan adalah membuktikan keberhasilan menekan mortalitas, maka angka perlu ditekan serendah mungkin. Jika kebutuhannya adalah menakut-nakuti masyarakat, maka jawaban angka ditingkatkan setinggi mungkin. Juga belum ada yang bisa atau berani menjawab pertanyaan mengenai berapa sebenarnya angka paling tertinggi, yang tidak ada yang lebih tinggi pada deret angka prima.

Angka terbesar pada deret angka biasa pun mustahil bisa dibakukan, sebab begitu ditambah satu, maka langsung terbukti angka yang dianggap terbesar itu bukan angka terbesar.

Kenapa

Semua orang yang pernah sekolah sistem pendidikan Barat bisa menjawab pertanyaan tentang berapa 2+2 yaitu 4. Namun kenapa 2+2=4 terbukti masih diperdebatkan sejak dahulu kala sampai masa kini akibat belum ada yang benar-benar tahu mengenai kenapa 2+2=4. Kecuali dipaksakan dengan kekuasaan. Di masa duduk di bangku sekolah dasar saya sempat dihukum guru atas tuduhan melawan guru akibat sempat nekat bertanya tentang kenapa 2+2=4. Mirip nasib pertanyaan kenapa RUU HIP perlu dibahas untuk dijadikan Undang-Undang.

Kapan

Pertanyaan kapan juga tidak mudah dijawab, semisal “Kapan Keadilan Sosial Untuk Seluruh Indonesia terwujud menjadi kenyataan di persada Indonesia tercinta ini?”. Setara sulit menjawab pertanyaan “Kapan pageblug Corona benar-benar berakhir?“.

Namun bagi mereka yang sudah merasa bosan membaca naskah simpang-siur morat-marit tak keruan juntrungan ini, maka bertanya “Kapan naskah ini berakhir?”. Jawabannya mudah, yaitu “Sekarang!” sebab naga-naganya saya juga sudah kehabisan bahan untuk menulis lebih lanjut.

Pertanyaanologi

Pada hakikatnya, seluruh naskah ini hanya secara pertanyaanologis berupaya meyakinkan bahwa memang tidak semua pertanyaan perlu dipertanyakan, sebab belum tentu bisa (atau boleh) dijawab. Di suasana otoriter sekaligus represif memang lebih bijak karena lebih aman jangan mengajukan pertanyaan yang sebenarnya bisa namun tidak boleh diajukan.

Memang nilai pertanyaan mirip pisau yang nilainya tergantung untuk apa, bagaimana dan oleh siapa pisau didayagunakan. Menurut saya, yang rawan terpapar virus keliru ini, tanda tanya merupakan penemuan terindah dalam apa yang disebut sebagai bahasa.

Menarik bahwa bentuk tanda tanya dalam bahasa Spanyol terbalik dibanding bahasa lain, termasuk Indonesia. Namun saya tidak berani mempertanyakan kenapa bisa begitu, khawatir dituduh mengada-ada alias membelah titian serambut menjadi tujuhpuluhtujuhribukomatujuh.

Penulis adalah pembelajar pertanyaanologi

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Menhub Prioritas Program dan Anggaran untuk Tingkatkan Keselamatan Transportasi

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:51

DPR Yakin Potongan Aplikasi 8 Persen Bikin Driver Makin Sejahtera

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:48

Kuasa Hukum Pertanyakan Status Tersangka Raudi Akmal

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:25

Nasib Ribuan Pekerja Moker Freeport Diadukan ke Kementerian HAM

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:09

Gus Yaqut Dibantarkan ke Rumah Sakit Polri

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:58

Dirjen Imigrasi Paparkan Tiga Pilar Penguatan Perbatasan Indonesia di Siem Reap

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:29

Legislator Golkar Apresiasi Dividen PT Telkom Tertinggi

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:15

Connie Minta Jokowi Diadili Terkait Kebijakan IKN

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:12

Kuliner Potensi Perkuat Pariwisata di Kancah Internasional

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:53

Harta Kekayaan Menperin Agus Gumiwang Naik 23,2 Persen, Utang Nyaris Rp100 Miliar

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:51

Selengkapnya