Berita

Presiden Serbia Aleksandar Vucic duduk di depan Presiden Donald Trump, foto yang kemudian dikritik keras oleh netizen China yang menunjukkan gaya arogan dan hegemoni AS/Net

Dunia

China Kritik Langkah Presiden Serbia, Sampai Posisi Duduk Dalam Foto Di Gedung Putih Jadi Sorotan

SELASA, 08 SEPTEMBER 2020 | 13:54 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kedatangan Presiden Serbia Aleksandar Vucic ke Amerika saat melakukan penandatanganan perjanjian normalisasi ekonomi bersama Kosovo menjadi perhatian kalangan netizen Tiongkok. Semua terkejut dengan langkah yang diambil Vucic yang telah mengecewakan sekutu-sekutunya.

Netizen berfokus pada sebuah foto yang menunjukkan Vucic duduk di depan meja Presiden AS Donald Trump di Ruang Oval, pada Jumat (4/9). Dari posisi duduk Vucic, netizen berkomentar bahwa Vucic tampak seperti karyawan yang menghadapi bosnya.

Hari Jumat pekan lalu menjadi hari paling bersejarah -menurut Trump- di mana telah terjadi kesepakatan antar dua negara yang saling bermusuhan. Serbia dan Kosovo menandatangani pakta ekonomi dengan AS sebagai mediatornya.


Menurut netizen, foto tersebut cukup menunjukkan gaya hegemoni AS. Pemerintah AS saat ini secara khusus mengabaikan prinsip kesetaraan dan etika diplomatik dalam hubungan internasional, seperti dikutip dari GT, Selasa (8/9).

Jika seseorang ingin memiliki kesepakatan dengan AS, ia harus memandang AS seolah-olah dunia berputar di sekitar AS. Yang dimaksud dengan 'America First' adalah bahwa negara-negara lain tidak bisa sejajar dengannya, tetapi harus memprioritaskannya.

Tidak ada tanda tangan bersama publik, upacara resmi atau jabat tangan antara kedua pemangku kepentingan, Serbia dan Kosovo, yang menimbulkan keraguan atas kekuatan pengikatan perjanjian tersebut.

Rupanya, Serbia dan Kosovo telah sepakat untuk mencairkan hubungan sementara, meskipun mereka memiliki permusuhan dan ketidakpercayaan yang mengakar. Yang membuat alis terangkat adalah isi poin-poin di dalam kesepakatan itu di antaranya terkait pengakuan Israel.

Keegoisan AS jelas. Kosovo yang mayoritas Muslim itu pada akhirny setuju untuk mengakui Israel bahkan akan membuka kantor diplomatiknya, sedangkan Vucic berjanji bahwa Serbia akan memindahkan kantor perwakilannya dari Tel Aviv ke Yerusalem hanya untuk melayani kepentingan AS.

Tentu saja, Trump akan merasa nyaman untuk memuji pencapaian diplomatiknya sebelum pemilihan pada November mendatang dengan sukses meningkatkan status internasional Israel.

Dengan preferensi yang kuat ke Israel, Trump menciptakan konfrontasi baru di Timur Tengah dan Balkan. Perjanjian yang ditandatangani Serbia-Kosovo dengan dukungan AS itu hanya akan menabur benih masalah.

Seperti yang ditulis Eric Gordy dari University College London di Balkan Insight, "Masuknya Israel yang tak terduga ke dalam perselisihan Serbia-Kosovo menempatkan Kosovo dan Palestina pada jalur benturan yang tidak perlu yang tidak ada gunanya bagi mereka."

Sebagai yang disebut mediator, Trump tidak pernah membawa perdamaian ke dalam pikirannya, dia juga tidak peduli dengan stabilitas regional. Diplomasi AS, lebih dari sebelumnya, mengejar kepentingan pribadi dengan mengorbankan orang lain, yang akan sangat merusak reputasi internasional AS.

Penandatanganan pakta ekonomi Serbia-Kosovo akan memiliki implikasi geopolitik lebih lanjut bagi Rusia. Rusia diyakini tidak senang dengan langkah itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova sempat men-tweet foto kontroversial pertemuan Serbia-Kosovo di Gedung Putih, dan sesaat kemudian menghapusnya.

Saat ini Serbia mungkin berada dalam posisi yang memalukan. Dalam wawancara dengan Pink, saluran TV Serbia, Vucic mengatakan dia membela hubungan dengan China ketika dia berada di Gedung Putih, dan juga membela hubungan dekat Serbia dengan Rusia selama dia tinggal di AS.

Foto Vucic di Gedung Putih yang menjadi viral juga memicu diskusi besar-besaran di kalangan netizen Tiongkok, yang menyatakan pandangan yang kontras tentang pesan apa yang dikirim foto itu.

Beberapa menunjukkan simpati, mengatakan tidak mudah bagi negara-negara kecil yang terletak di daerah yang sensitif secara geopolitik untuk menghadapi hegemoni penindasan, sementara yang lain mengatakan negara-negara kecil harus berjuang untuk mandiri dalam menghadapi paksaan dari kekuatan seperti AS.

China selalu menyatakan bahwa semua negara, besar atau kecil, harus setara. Tentu saja, esepakatan yang dicapai dengan taktik senjata yang kuat akan sulit dicapai.

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya