Berita

Ilustrasi Bulan berkarat hingga berubah warna/Net

Dunia

Bulan Berkarat, Ilmuwan NASA: Ada Tiga Kemungkinan Penyebabnya

SELASA, 08 SEPTEMBER 2020 | 11:03 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sebuah penelitian menyebut, Bulan saat ini mengalami proses karat sehingga berubah warna menjadi sedikit lebih kemerahan. Hal tersebut pun kemungkinan terjadi karena Bumi.

Perubahan warna satelit Bumi tersebut mulai diketahui ketika para ilmuwan menganalisis data dari misi Chandrayaan-1 milik India yang mengitari Bulan sejak 2008.

Misi tersebut membawa sejumlah instrumen milik NASA untuk memantau mineral di Bulan.


Dilansir 9News, probe milik India tersebut menemukan sampel air, yang menjadi salah satu komponen kunci pembentukan karat, di permukaan Bulan.

Setelah diteliti oleh para ilmuwan di NASA bersama Institut Geofisika dan Planetologi Hawaii, mereka tercengang karena menemukan petunjuk hematit, suatu bentuk oksida besi yang dikenal sebagai karat.

"Pada awalnya, saya sama sekali tidak mempercayainya. Seharusnya tidak ada berdasarkan kondisi yang ada di Bulan," ujar seorang ilmuwan di Jet Propulsion Laboratory NASA, Abigail Fraeman.

"Tapi sejak kami menemukan air di Bulan, orang-orang berspekulasi mungkin ada lebih banyak variasi mineral daripada yang kita sadari jika air itu bereaksi dengan bebatuan," sambungnya.

Pembentukan karat pada dasarnya mustahil di Bulan, pasalnya di sana tidak ada udara. Selain itu, Bulan juga dibanjiri hidrogen yang mengalir dari matahari, terbawa oleh angin matahari.

Sementara itu, karat diproduksi ketika oksigen menghilangkan elektron dari besi. Sedangkan hidrogen melakukan kebalikannya dengan menambahkan elektron. Hal ini membuat karat tidak mungkin terbentuk di bulan yang kaya hidrogen.

Setelah mendapatkan petunjuk tersebut, para ilmuwan menemukan tiga hal yang dapat menjelaskan terjadi karat di Bulan. Terlebih, karat terkonsentrasi pada sisi Bulan yang menghadap Bumi.

Walaupun tidak memiliki atmosfer, Bulan kemungkinan memiliki sejumlah kecil oksigen karena terdapat medan magnet Bumi.

Oksigen, seperti dilansir The Independent, dapat melakukan perjalanan dari planet ke Bulan dengan menunggangi medan magnet Bumi, melakukan perjalanan sejauh 385 ribu kilometer melalui ekor magnet.

Transfer oksigen tersebut dapat terjadi lebih banyak ketika kedua benda langit tersebut bergerak berdekatan selama miliaran tahun.

Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa ada lebih banyak hematit di sisi Bulan yang menghadap Bumi dan bukan sisi lainnya.

Penjelasan lainnya adalah, jumlah hidrogen dari Matahari yang ada di Bulan. Hidrogen merupakan peredam, artinya ia menambahkan elektron ke bahan yang bersentuhan dengannya, berlawanan dengan oksidasi yang menghilangkan elektron.

Ketika Bumi memiliki magnet untuk melindungi diri dari hal tersebut, Bulan sebaliknya. Namun, ekor magnet Bumi berhasil memblokir hampir semua aktivitas angin matahari yang membawa hidrogen setiap kali bulan purnama.

Artinya, ada kemungkinan karat terbentuk selama siklus bulan.

Faktor ketiga adalah air es yang ada di Bulan, tepatnya di bawah kawah di sisi jauh Bulan.

Partikel debu yang secara teratur menghantam Bulan dapat membebaskan molekul air ini, bercampur dengan besi dan kemudian menjadi panas untuk meningkatkan laju oksidasi.

Meski begitu, memerlukan penelitian lebih jauh untuk menjelaskan temuan hematit di Bulan, serta di benda-benda tanpa udara lainnya, seperti asteroid.

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya