Berita

Presiden Joko Widodo bersama dengan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka/Net

Politik

Jokowi Singgung Ada Yang Terusik, Pigai: Mungkin Maksudnya Soal Anak-Mantu-Besan Jadi Cakada

MINGGU, 23 AGUSTUS 2020 | 18:26 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Tudingan ada pihak yang terusik dengan perubahan besar di Indonesia yang disampaikan Presiden Joko Widodo bisa jadi adalah kegelisahan pribadi presiden soal hasrat politik keluarganya yang banyak ditentang.

Sentilan tersebut disampaikan aktivis kemanusiaan, Natalius Pigai dalam merespons pernyataan Presiden Joko Widodo yang disampaikan di acara puncak hari ulang tahun (HUT) Partai Amanat Nasional (PAN), Minggu (23/8).

Tak hanya soal keluarganya yang memilih berpolitik saat sang presiden masih menjabat kepala negara, tudingan ada pihak yang terusik juga disinyalir pada upaya pengekangan demokrasi yang belakangan makin terlihat kentara.


"Besar dimaksud Jokowi mungkin: anak, mantu dan besan jadi calon kepala daerah saat masih berkuasa, media diretas, buzzer dibiayai, rakyat Papua dibantai, bunuh KPK, dan bangun 7 ruas toll di Jawa, 1 sulsel, 3 Sumatera dan lain minus), kian rasis dan berbohong Jokowi," kritik Natalius Pigai kepada redaksi yang juga diunggah di akun Twitter pribadinya.

Seperti diketahui, belum lama ini publik dihebohkan dengan adanya temuan Indonesia Corruption Watch (ICW) soal penggunaan anggaran senilai Rp 1,29 triliun untuk aktivitas digital. Khusus untuk jasa influencer, pemerintahan Jokowi sejak periode pertama menjabat telah menggelontorkan uang mencapai Rp 90,4 miliar.

Soal Pilkada 2020 juga tak kalah menarik, di mana keluarga Jokowi ramai-ramai mencalonkan diri. Sebut saja putra sulung presiden, Gibran Rakabuming Raka di Pilwalkot Solo. Kemudian menantunya, Bobby Afif Nasution yang maju di Pilkada Medan.

Dalam pidato secara virtualnya di acar PAN, Jokowi menyebut ada sejumlah pihak yang terusik jika perubahan besar terjadi di negeri ini. Mereka yang terusik, kata Jokowi, adalah yang sudah lama menikmati zona nyaman, baik secara ekonomi mau pun status.

“Reformasi sekarang ini tidak mudah, karena sudah terlalu banyak orang yang menikmati situasi yang enak dan nyaman, secara ekonomi maupun status. Sehingga merasa terusik jika dilakukan perubahan," ujar Jokowi.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

UPDATE

Keputusan Jokowi Cawe-cawe PSI Kurang Tepat

Selasa, 02 Juni 2026 | 00:11

Ryamizard Ryacudu: Jenderal Tempur yang Memilih Jalan Ketegasan

Selasa, 02 Juni 2026 | 00:03

Daging Kurban Jadi Sumber Pangan Bergizi Keluarga Prasejahtera

Senin, 01 Juni 2026 | 23:48

Empat Jenderal di Pusara Ryamizard Ryacudu

Senin, 01 Juni 2026 | 23:07

Sebelum Ditunjukkan, Rakyat Masih Yakin Ijazah Jokowi Palsu

Senin, 01 Juni 2026 | 23:00

Non-Blok dalam Pusaran AS-China-Rusia-Iran

Senin, 01 Juni 2026 | 22:55

Ketua BKSAP Puji Pelaksanaan Haji 2026, Tapi Tetap Beri Catatan

Senin, 01 Juni 2026 | 22:46

CBA Minta KPK Periksa Semua Pengusaha Rokok Termasuk M Suryo

Senin, 01 Juni 2026 | 22:35

Dewan Komisaris Pertamina Tanamkan Jiwa Nasionalisme Siswa Sekolah Dasar

Senin, 01 Juni 2026 | 22:25

Balinale Hadirkan 94 Film Internasional di Sanur

Senin, 01 Juni 2026 | 22:18

Selengkapnya