Berita

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F. Silaen/Net

Politik

Laksamana: Influencer Jadi Polemik Karena Dipaksa Jadi Penjual Mimpi

MINGGU, 23 AGUSTUS 2020 | 16:48 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Keberadaan influencer pada dasarnya baik bila dimanfaatkan sebagai suplemen pendukung sebuah entitas. Di lingkungan pemerintah, influencer akan menjadi baik bila dimanfaatkan sebagai counter atack melawan penyebar berita hoax.

Demikian pandangan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F. Silaen dalam merespons keberadaan influencer yang belakangan menjadi polemik.

"Dengan berkembangnya teknologi, perlu mempekerjakan influencer melawan para penyebar hoax yang memutarbalikkan fakta agar tidak ditelan mentah-mentah oleh orang awam," kata Silaen dalam keterangan tertulisnya, Minggu (23/8).


Namun dalam perjalanannya, kata Silaen, banyak pihak yang justru menyalahgunakan profesi influencer jadi pembuat info 'kebohongan publik' karena tak sesuai fakta yang ada.

"Publik disuguhkan info ala 'mimpi' yang tidak nyata, seolah-olah sudah kenyataan. Inilah polemiknya," ujar Silaen.

Seandainya tidak disalahgunakan, jelasnya, tentu tidak sepolemik sekarang hingga mengusik profesi para influencer yang punya banyak pengikut di lini sosial media.

Kini, influencer bukan hanya dibutuhkan di dunia marketing untuk memperkenalkan dan memasarkan produk- produk. Influencer, kata dia, jadi profesi yang menggiurkan karena sangat dibutuhkan oleh banyak kalangan yang terjun di dunia politik praktis.

Selain itu, keahlian influencer juga dapat membuat cita rasa baru dari sosok yang hendak dibangun pencitraan di mata publik.

Ia mengamini dalam alam demokrasi, semua orang bisa berpendapat dan memposting apa saja di sosial media, termasuk mengkritisi kinerja pemerintah maupun nonpemerintah. Hal inilah dinilainya menjadi risiko pekerjaan yang harus dihadapi para publik figur agar selalu dipandang baik di mata publik.

"Tapi yang terjadi sekarang adalah, banyak orang yang tak menikmati atau merasakan yang sesungguhnya (terjadi). Influencer seperti 'penjual mimpi'. Terkadang hasil sesungguhnya tidak seindah yang disampaikan oleh influencer," tandasnya.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

Kasum TNI Buka Rakernas Taekwondo Indonesia 2026

Jumat, 17 April 2026 | 03:56

Gubernur Luthfi Ajak Kadin Berantas Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Jumat, 17 April 2026 | 03:42

Halalbihalal dan Syal Palestina

Jumat, 17 April 2026 | 03:21

Soenarko Minta Prabowo Jangan Diam soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 02:59

BGN Minta Pemprov Sulteng Gandeng Influencer Lokal Tangkal Hoax MBG

Jumat, 17 April 2026 | 02:49

Prabowo Jangan Lagi Pakai Orang Jokowi Buntut Penangkapan Ketua Ombudsman

Jumat, 17 April 2026 | 02:24

Penyidik Kejati Angkut Sejumlah Berkas Usai Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim

Jumat, 17 April 2026 | 01:59

Aktivis dan Purnawirawan TNI Gelar Aksi di DPR soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 01:45

Purbaya Anggap Santai Peringatan S&P: Defisit Kita Masih Terkendali

Jumat, 17 April 2026 | 01:25

Anak TK Pun Tidak Percaya Motif Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Jumat, 17 April 2026 | 00:59

Selengkapnya