Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Dongeng Negeri Adil Makmur

RABU, 19 AGUSTUS 2020 | 07:22 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

ALKISAH, sebuah negara di marcapada tersohor adil dan makmur maka disebut sebagai Negeri Adil Makmur.

Konon Negeri Adil Makmur tidak dipimpin sebuah lembaga yang disebut sebagai pemerintah, namun sekelompok pengabdi rakyat.

Keadilan


Para pengabdi rakyat di Negeri Adil Makmur sengaja tidak menggunakan istilah pemerintah, sebab menjunjung tinggi kepentingan rakyat jauh di atas kepentingan negara.

Karena arif-bijaksana, maka para pengabdi rakyat menempatkan prioritas pembangunan Negeri Adil Makmur pertama pada keadilan, kemudian disusul kemakmuran. Urutan posisi kata adil terletak bukan di belakang, namun di depan kata makmur.

Para pengabdi-rakyat di Negeri Adil Makmur berkeyakinan bahwa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab serta Keadilan Sosial Untuk Seluruh Rakyat Negeri Adil-Makmur merupakan landasan sekaligus tujuan utama pembangunan Negeri Adil-Makmur.

Apabila kemakmuran yang diutamakan, maka dikuatirkan bahwa keadilan akan diberikan hanya untuk sebagian kecil ketimbang seluruh rakyat.

Sudah terbukti pada kenyataan sejarah bahwa keadilan sosial untuk seluruh rakyat mustahil terwujud apabila kemakmuran diletakkan di depan keadilan.

Yang makmur lazimnya hanya para pemilik modal dan pemilik kekuasaan yang berwenang maka bisa sewenang-wenang main perintah  membuat undang-undang sesuai kebutuhan serta kepentingan diri sendiri masing-masing.

Rakyat hanya berfungsi sebagai penonton belaka sebab tidak bisa ikut menikmati nikmatnya pembangunan. Malah dianggap wajar bahwa rakyat memang harus ikhlas bukan berkorban namun dikorbankan atas nama pembangunan infra struktur.

Demokrasi

Akibat memang benar-benar arif dan bijaksana maka para pengabdi-rakyat senantiasa bahkan niscaya sadar bahwa mereka hanya bisa duduk di singgasana kekuasaan akibat dipilih oleh rakyat.

Tanpa dipilih rakyat maka penguasa  mustahil bisa berkuasa akibat Negeri Adil-Makmur sudah terlanjur memilih sistem demokrasi.

Maka dalam mengemban tugas yang telah dipercayakan oleh rakyat kepada mereka, dengan sendirinya para pengabdi-rakyat wajib niscaya sadar untuk senantiasa menjunjung tinggi kepentingan rakyat jauh di atas kepentingan parpol apalagi pribadi diri masing-masing.

Jangan sampai Dewan Perwakilan Rakyat  de facto menjadi Dewan Perwakilan Penguasa. Kebijakan pengabdi-rakyat selalu terbuka dan jujur maka tidak ada sebab tidak perlu ada buzzer bayaran penebar kebencian demi membenarkan kebijakan tidak bijak yang dibuat para pengabdi rakyat.

Para pengabdi-rakyat senantiasa bahkan niscaya eling lan waspodo untuk tidak berani cidro janji yang mereka obral di masa kampanye pemilu akibat takut terdampak kualatisme.

Penguasa sadar bahwa rakyat memang terkesan tidak berdaya namun sebenarnya ngualatin alias potensial bikin penguasa kualat.

Kualatisme terbukti telah menimpa para penguasa yang nama-namanya lebih baik tidak disebut di sini demi tidak menyinggung perasaan pihak-pihak tertentu

Pemerataan

Akibat menganut paham Fastabiqul Khoirot bersaing berbuat baik, maka para pengabdi rakyat Negeri Adil Makmur merasa malu jika melakukan korupsi.

Akibat pengabdian para pengabdi-rakyat nan arif bijaksana, hukum tidak maju-tak-gentar membela yang bayar. Hukum tidak tumpul ke atas sambil tajam ke bawah namun benar-benar ditata-laksanakan secara adil dan beradab bukan untuk sebagian namun seluruh rakyat Negeri Adil Makmur.

Baru setelah keadilan benar-benar terejawantahkan di persada Negeri Adil Makmur, dialihkanlah fokus prioritas tujuan pembangunan ke arah kemakmuran.

Di atas landasan keadilan, kemakmuran dapat terbagi secara adil dan merata bukan bagi sebagian apalagi sebagian kecil namun benar-benar untuk seluruh rakyat Negeri Adil Makmur.

Yang menganggap naskah ini omong-kosong, muluk-muluk, utopis, wishfull-thinking, mimpi di siang hari bolong maka mustahil sesuai kenyataan, pada hakikatnya memang benar-benar arif dan bijaksana.

Memang benar bahwa isi naskah ini memang sama sekali tidak sesuai apa yang terjadi pada kenyataan. Namanya juga dongeng.

Penulis adalah pembelajar makna dongeng sebagai pedoman budi pekerti

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

UPDATE

Kejagung Pede Hadapi Febrie di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:27

Gebrakan PAM Jaya Tekan Kebocoran Air Diapresiasi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:19

FEB UNJ Dukung Pariwisata Berkelanjutan di Bali Lewat Pengabdian Masyarakat

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Danantara Investasi Rp44 Triliun di JBS Group

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Anggota PWI Jakbar Laporkan Oknum Polisi ke Propam Polda Metro, Ini Sebabnya

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:47

Bawaslu Campus Connect Jadi Solusi Tantangan Digital di Pemilu

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:28

Publik Curiga UGM Melindungi Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:17

Febrie Adriansyah Siap Buka-bukaan di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:02

Gedung Bapenda DKI Kebakaran

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:32

Pemerintah Diultimatum 15 Hari Terbitkan PP Cukai MBDK

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:13

Selengkapnya