Berita

Pertamedika IHC (Indonesia Healthcare Corporation)/Net

Politik

Komisi VI DPR: Holding Rumah Sakit BUMN Bagus Untuk Tingkatkan Layanan Kesehatan Nasional

SELASA, 18 AGUSTUS 2020 | 18:49 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Pembentukan holding perusahaan BUMN yang dilakukan Kementerian BUMN merupakan langkah strategis dan taktis yang bisa menjadi solusi pada peningkatan keseragaman layanan kesehatan berstandar nasional.

“Manajemen rumah sakit BUMN yang selama ini terpisah bisa terintegrasi, sehingga bisa merespon isu kesehatan terbaru di setiap waktu, seperti dalam menanggulangi wabah yang bisa terjadi kapan pun,” ujar anggota Komisi VI DPR RI Achmad Baidhowi, kepada wartawan, Selasa (18/8).

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir membentuk holding rumah sakit milik BUMN di bawah Pertamedika IHC (Indonesia Healthcare Corporation) sebagai induk guna meningkatkan peran dalam ketahanan kesehatan nasional.


Aksi korporasi tersebut melalui empat objektif strategis yaitu penyediaan layanan kesehatan berkualitas, peningkatan jaringan dan skala, pengembangan kapabilitas dan inovasi, serta integrasi dan kolaborasi ekosistem kesehatan nasional.

Menurut Baidhowi, holding RS BUMN diharapkan bisa menjadi solusi untuk memberikan layanan berkualitas, sekaligus bisa dijangkau oleh semua pihak, baik masyarakat kecil maupun menengah.

“Sehingga tidak ada lagi keraguan untuk berobat di dalam negeri dan mengurangi jumlah warga Indonesia yang berobat ke luar negeri, khususnya ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia,” katanya.

Lanjut politisi PPP itu, meskipun holding RS ini berada di bawah Kementerian BUMN, ia berpesan layanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat jangan hanya berorientasi pada profit.

Pasalnya, jika ini yang terjadi akan membuat layanan kesehatan yang eksklusif tidak inklusif untuk semua masyarakat Indonesia.

Selain itu, dari sisi aset, holding RS BUMN mempunyai aset total sekitar Rp 5 triliun dan estimasi pendapatan usaha hingga mencapai Rp 4,5 triliun pertahun.

“Besarnya pendapatan dan aset ini bisa dikembangkan untuk meningkatkan layanan kesehatan yang terintegrasi, sehingga dalam manajemen kesehatan yang dimiliki holding ini bisa memudahkan pasien dalam mendapatkan layanan kesehatan termasuk pada prosedur rujukan dan lainnya," jelasnya.

Legislator Madura ini menyatakan, selama ini RS BUMN menginduk ke BUMN yang sebenarnya bisnis utama mereka berbagai macam mulai dari BUMN energi, kontruksi, bahan kontruksi dan lainnya yang jauh dari bidang kesehatan.

“Sehingga perhatian induk BUMN tersebut pada pengembangan layanan kesehatan cukup terbatas, berbeda jika RS BUMN itu disatukan dalam satu holding tersendiri yang saat ini sudah dibentuk oleh Kementerian BUMN,” katanya.

Sementara itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyatakan merger rumah sakit anak perusahaan BUMN dari berbagai sektor yang tergabung dalam satu wadah, dilihat dari sisi bisnis bisa menguntungkan.

“Intinya inikan merealisasikan apa yang sudah disampaikan oleh Pak Erick Thohir, supaya anak perusahaan yang berbeda bidang sektor dengan induknya itu, dipisah kemudian digabungkan menjadi satu dan penggabungan ini saya kira tentunya menguntungkan,” kata Piter.

Piter melanjutkan, marger perusahaan kesehatan BUMN itu diyakini akan menjadi lebih baik, sebab bisa membantu fokus dalam upaya pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

“Akan jauh lebih baik jika perusahaan-perusahaan itu menjadi satu dengan fokus dan dia bisa fokus pada bidangnya, selama ini kan menjadi berbeda dengan induk,” ungkapnya.

Piter mencontohkan anak usaha PT Krakatau Medika (RS Krakatau Medika) yang merupakan anak perusahaan dari PT Krakatau Steel (Persero). Induknya bergerak pada bidang baja, namun anak perusahaannya dalam pelayanan kesehatan, menjadi tidak fokus.

“Induknya ngomongin baja, anak usaha ngomongin kesehatan, sekarang dia benar-benar fokus dibidangnya, merger ini adalah sesuatu yang baik karena bisa membantu fokus dari perusahaan-perusahaan BUMN,” pungkasnya.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya