Berita

Publika

Bagaimana Individu Bersiap Hadapi Resesi

JUMAT, 07 AGUSTUS 2020 | 20:44 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

PERTUMBUHAN ekonomi kuartal 2 2020 telah dirilis BPS kemarin 5 Agustus 2020. Hasilnya diluar prediksi banyak pihak yaitu negatif -5.32% sementara kemenkeu BI, IMF dan World Bank memprediksi sekitar -3.0% sampai -4.3%. Prediksi yang tidak akurat tersebut menyadarkan kita bahwa ekonomi kedepan agak sulit diprediksi.

Kekhawatiran akan terjadi resesi semakin nyata. Kalangan pelaku usaha yang disurvei di seluruh dunia setuju bahwa resesi adalah risiko bisnis terbesar pada tahun 2020.

Resesi diidentifikasi oleh dua kuartal berturut-turut dari penurunan produk domestik bruto dan cenderung menyebabkan tiga hal yaitu (1) peningkatan pengangguran, (2) Peningkatan tunggakan pinjaman yang lebih tinggi dan (3) hilangnya nilai aset berisiko seperti saham dan obligasi korporasi.


Investor individu dapat mempersiapkan diri untuk resesi dengan mengurangi risiko dalam portofolio mereka.

Ini dapat dicapai pertama kali dengan mempertahankan portofolio investasi yang terdiversifikasi dan menghindari terlalu banyak konsentrasi di satu aset.

Selain itu, individu harya menghindari investasi pada aset yang tidak likuid yaitu aset yang tidak dapat dijual dengan mudah.

Terakhir, para pemegang utang seperti utang properti, utang kartu kredit dan pinjaman mobil yang bayar bulanan tinggi sangat berbahaya jika pendapatan mereka itu turun.

Setiap individu menghadapi tantangan unik yang berbeda satu sama lain. Bagi  individu yang memiliki diversifikasi aset: Sebagian besar dari kekayaan bersih individu tersebut umumnya dikunci ke dalam aset yang besar dan tidak likuid seperti tanah dan rumah - dan seringkali memiliki leverage (utang) yang tinggi.

Tidak seperti aset saham dan obligasi, individu tersebut punya aset tanah dan rumah, tidak dapat dengan cepat menjual tanah dan rumahnya dan umumnya penjualan sangat mahal dan menjadi sulit di masa resesi.

Dan karena kelompok ini biasanya menggunakan Utang hipotek (properti) untuk membeli rumah, keuntungan dan kerugian mereka tergantung  oleh upaya memutar (leverage) aset tetap itu.

Cara paling aman untuk individu tersebut adalah dengan bermitra (berkongsi) dengan investor lain dalam bentuk investasi bersama rumah (share profit dan share burden) yaitu berupaya menjual sebagian kecil dari tanah/ rumah tersebut sambil mendapatkan suntikan uang tunai langsung sehingga mengurangi resiko tagihan rumah lainnya bila ada.

Bila individu tersebut tidak memiliki masalah dengan likuiditas adalah terbaik untuk membiarkan tanah tersebut sampai resesi terurai. Data empirik menunjukan dalam situasi resesi kinerja properti berkinerja baik. Hanya krisis 2007/2008 lalu saja, saat resesi terjadi, harga rumah turun -15% sampai dua tahun berikutnya khususnya di negara maju. Secara rata-rata harga aset naik 5-10% pertahun dalam kondisi normal.

Bila individu memiliki aset berupa saham, ekuitas dan obligasi di masa resesi diprediksi risiko penurunan harga ekuitas tersebut lebih tinggi, dengan skenario terburuk  sebesar  turun -36% sd -90%. Intinya Resesi dapat menyebabkan tingkat pengembalian aset ekuitas tersebut negatif selama 12 bulan pertama resesi.

Secara umum, cara terbaik untuk menghadapi resesi di sisi keuangan adalah dengan mempertahankan portofolio/aset yang terdiversifikasi baik dapat berupa properti, ekuitas, dan uang tunai likuid. Uang tunai likuid disarankan untuk menjadi konsen saat resesi.

Jangan menggunakan leverage (putar-putar resiko) yang berlebihan. Hindari memiliki utang kartu kredit, pinjaman mobil, pinjaman sekolah di masa resesi.

Ketahanan keuangan diperlukan oleh setiap individu dalam 24 bulan sejak resesi dimulai. Bila tidak maka Pemerintah seharusnya membantu mereka terutama yang terkena PHK agar dapat memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Program seperti BST, Food Stamp dan bantuan lainnya harus diprioritaskan kepada individu tersebut.

Individu yang mempersiapkan resesi dengan baik umumnya dapat melakukan pembayaran cicilan utang yang tanpa harus melikuidasi asetnya. Semoga.

Saran ini berlaku menggunakan asumsi resesi terjadi dalam waktu 24 bulan lamanya, bila resesi Covid19 ini terjadi lebih dari 24 bulan maka bisa jadi kita harus mempertimbangkan melepas seluruh aset  tidak produktif karena resesi itu berpotensi meruntuhkan sistem keuangan agar sistem keuangan baru terbentuk.

Setiap individu harus mawas diri dan kreatif di masa resesi. Kemampuan untuk survival (daya tahan hidup) saat resesi diperlukan. Individu disarankan untuk membentuk komunitas untuk saling berkongsi dan bertahan di masa resesi.

Selain itu, di masa resesi kita harus mampu mengubah gaya hidup, tingkatkan kinerja pekerjaan dan menyiapkan dana darurat untuk berjaga-jaga di masa depan.

Semoga bermanfaat.

Penulis adalah pakar Kebijakan Publik Narasi Insititute

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya