Berita

Salamuddin Daeng/Net

Publika

Pergeseran Sistem Moneter Dan Patahan Sejarah Umat Manusia

SELASA, 04 AGUSTUS 2020 | 12:07 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

MODUS negara liberal justru bailout adalah strategi inti dalam resesi. Di Indonesia, untuk yang ketiga kali, menalangi korporasi yang kolaps. Dana BLBI dan KLBI jumlahnya mencapai Rp 630 triliun yang bebannya masih kita, bangsa Indonesia, tanggung sampai hari ini.

Kedua bailout Century Rp 6,7 T tak jelas rimbanya. Dan sekarang bailout resesi dengan nilai Rp 690 T tanpa kita ketahui nama dan alamat penerimanya (kalau belum ada perubahan PP).

Namun sekarang agak berbeda dengan krisis moneter Asia 98 atau krisis keuangan 2008 Eropa dan Amerika. Resesi dunia sekarang ditandai dengan sebuah patahan ekonomi yang sifatnya pokok, yakni berakhirnya rezim petro dolar.


Apa itu petro dolar? Yakni sistem moneter yang mendasarkan jangkar mata uang dolar dengan fondasi minyak. Transaksi minyak merupakan fondasi mata uang dolar Amerika Serikat.

Era ini berlangsung sejak 1971, yang ditandai dengan berakhirnya Bretton Woods system yang menjadikan emas sebagai jangkar mata uang dolar. Sejak saat itu emas digantikan oleh dolar sebagai satuan moneter internasional. Era petro dolar menendang emas keluar dari sistem moneter internasional.

Sekarang harga minyak jatuh sampai ke tingkat yang paling rendah. Bahkan minyak dibuat jatuh dengan dengan berbagai sebab. Datangnya Covid-19 ikut memukul harga minyak sampai ke tingkat terendah dalam sejarah yakni hingga minus.

Namun perlu diingat bahwa harga minyak jatuh merupakan suatu desain, sehingga harga minyak jatuh merupakan kehendak sejarah yang penyebabnya dibikin beragam, salah satunya Covid-19.

Jawaban atas pertanyaan bagaimana dengan perusahaan minyak dan batubara atau energi fosil multinasional meminta dana talangan dari negara? Ini merupakan bagian dari perlawanan mereka terhadap perubahan sistem moneter.

Perusahaan minyak raksasa pasti bangkrut dalam gerak perubahan sekarang. Mereka meminta dana talangan merupakan upaya survive semata. Perusahaan minyak dan batubara tidak lagi punya kesempatan utang kepada bank atau global bond sebagaimana yang mereka nikmati dalam satu dekade terakhir yang bisa dikatakan ugal-ugalan.

Tekanan terhadap energi fosil tidak hanya datang dari Covid-19, namun juga datang dari COP 21 Paris. Sebuah komitmen sangat besar untuk mengakhiri energi fosil. Caranya adalah dengan memberlakukan pajak karbon dengan sangat mahal dalam industri dan perdagangan. Akibatnya bank-bank tidak lagi leluasa membiayai energi fosil.

Pada 2025 bank-bank besar yang paling terkemuka akan mengurangi secara signifikan utang kepada sektor fosil. Pada 2030 bank-bank akan menghentikan total pembiayaan fosil.

Ini bukan berarti minyak bukan lagi sebagai komoditi yang diperdagangkan, namun supremasi minyak sebagai jangkar sistem keuangan telah berakhir. Petro dolar system sudah selesai.

Ini berarti kita menghadapi patahan sejarah yang penting. Mata uang dolar menjadi sangat independen. Satu sisi dolar semakin leluasa dicetak tanpa dasar apapun. Di sisi lain mata uang dolar makin tidak stabil dan bisa mengarah kepada chaos.

Beberapa negara seperti China, Rusia, dll telah mengambil tindakan untuk membentuk sistem moneter baru. Kabarnya dolar harus berbagi lima dalam sistem moneter internasional yang baru.

Keadaan makin kacau dengan munculnya ICT, digitalisasi, dan Fintech. Sistem digital bagaikan badai menyapu semua fondasi moneter dan keuangan dan perdagangan lama. Komunitas digital yang samgat independen bertransformasi menjadi negara dengan penduduk terbesar di dunia yakni negara digital.

Facebook pascaakusisi menjadi negara digital dengan 2,5 miliar penduduk dan membentuk mata uang baru. Munculnya ICT dengan modul utama yakni transparansi bagaikan badai menghancurkan ekonomi fosil yang selama ini sebagian besar keuangannya telah disembunyikan sebagai dirty money yang dipakai membiayai perang, kudeta, bahkan terorisme.

Transparansi merobohkan praktik kotor oligarki fosil yang berkarat selama 100 tahun terakhir.

Bagaimana dengan Indonesia? Oligarki Indonesia adalah oligarki yang ditopang oleh kekayaan fosil, minyak, batubara, dan tambang. Ibarat napasnya sudah sisa di ujung leher, sekarang oligarki ini tengah bertahan (survive). Selain menanggung beban utang besar, oligarki fosil dihadapkan dengan beban biaya produksi yang tidak dapat ditutup oleh penjualan mereka.

Perbankan yang membiayai mereka dalam keadaan sekarat. Itulah mengapa mereka oligarki Indonesia meminta dana talangan sampai Rp 690 T kepada negara. Padahal untuk menyelamatkan keuangan pemerintahan ini saja belum tentu ada uang.

Pemerintah dalam keadaan tongpes alias kantong kempes, bisa menghitung pengeluaran tapi tidak bisa menghitung sumber pendapatan karena semua sumber sudah kering kerontang. Mau makar?

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Transformasi Besar-besaran Prabowo Bikin Banyak Orang Kaget

Minggu, 21 Juni 2026 | 14:14

Wapres AS Tiba di Swiss untuk Perundingan Damai dengan Iran

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:50

KPK Ungkap Modus Pinjam Bendera di Proyek Gedung Pemkab Lamongan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:19

Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-65 untuk Jokowi Lewat Instagram

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:05

Tidak Kena Pajak Daerah, Lapangan Golf Senayan Ottolima Layak Dievaluasi

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:04

Pemerintah Sambut Kritik Mahasiswa sebagai Penyempurna Kebijakan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:00

Nanik S. Deyang Dituntut Audit Total BGN dan Program MBG

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:32

Pemerintah Harus Siapkan Solusi Jangka Panjang Usai Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:24

KPK-Pemprov DKI Sebarkan Pesan Antikorupsi Lewat Halte Setiabudi Integritas

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:22

Seskab dan Kepala BNN Diskusikan Ancaman Peredaran Narkoba Lewat Vape

Minggu, 21 Juni 2026 | 11:59

Selengkapnya