Berita

Jaya Suprana/Net

Publika

Gelora Semangat Kebanggaan Nasional

MINGGU, 02 AGUSTUS 2020 | 09:04 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEBAGAI seorang insan yang syukur alhamdullilah dilahirkan di bumi Indonesia dan insyaAllah akan menghembuskan nafas terakhir juga di bumi Indonesia, jelas bahwa saya  bangga atas kebudayaan bangsa saya sendiri yaitu Indonesia.

Namun pada kenyataan cukup banyak warga Indonesia lebih bangga kebudayaan bangsa asing ketimbang kebudayaan bangsa Indonesia. Sebelum menghakimi orang lain, sebaiknya  saya perlu mawas diri terkait kebudayaan yang hadir pada jiwa-raga diri saya sendiri.

Kebudayaan


Pada setiap pagi hari saya berdoa Bapak Kami Yang Ada di Surga sesuai ajaran agama Nasrani yang berasal dari Timur Tengah kemudian berkembang merambah sampai ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kemudian saya menyikat gigi saya dengan sikat gigi yang konon pertama digunakan masyarakat China abad XV dengan bulu babi diikat di ujung tongkat kecil terbuat dari bambu atau tulang. Sikat gigi pertama diproduksi dalam bentuk seperti sekarang secara massal oleh Amerika Serikat.

Sikat gigi saya dioles tapal gigi yang juga pertama diproduksi oleh perusahaan Amerika Serikat sambil berkaca di cermin yang sudah digunakan para Firaun Mesir kemudian dikembangkan menjadi bentuk yang melapisi bagian belakang lembaran kaca dengan perak atas prakarsa kimiawan Jerman bernama Justus von Liebig pada tahun  1835.

Seusai sikat gigi saya mandi di kamar mandi yang ditemukan pada reruntuhan Mohenjo Daro dan Harappa di peradaban Lembah Indus yang didirikan pada sekitar 4500 tahun yang lalu.

Setelah mandi saya sarapan roti yang sudah sekitar ribuan tahun yang lalu dibuat oleh masyarakat Mesir kuno.

Roti lapis berisi telur ayam dadar yang diduga berasal dari peradaban Persia kuno, saya letakkan di atas piring lalu saya lahap dengan sendok dan garpu yang semuanya bukan berasal dari peradaban Nusantara, namun  Eropa.

Tentu saja di tengah dominasi berbagai warisan kebudayaan serba mancanegara itu ,saya tidak lupa minum mahakarya warisan kebudayaan kesehatan kebanggaan nusantara sejati, yaitu jamu!

Menulis

Lalu saya ke meja tulis (kata meja berasal dari bahasa Portugis “mesa”)  untuk dengan menggunakan laptop buatan Taiwan yang berada di pulau Formosa menulis naskah (berasal dari bahasa Arab: nasikha) yang sedang anda baca ini sambil mengenakan kacamata yang mulai digunakan masyakarat Italia sejak abad 12 dan mendengarkan rekaman musik dangdut (pengaruh musik India dan Arab) dan kroncong (pengaruh moreska dari Portugal).

Untuk melihat waktu saya sudah tidak menggunakan jenis arloji yang diciptakan oleh Abraham-Louis Breguet yang pasti bukan orang Indonesia tetapi penunjuk waktu yang berada di telefon selular alias hape produksi Apple.Inc. yang didirikan Steve Jobs di Amerika serikat.

Dengan menggunakan hape saya bertelekomunikasi dengan para pimpinan Jamu Jago yang didirikan kakek saya, T.K. Suprana pada tahun 1918 di Wonogiri.

Peradaban

Segenap karsa dan karya peradaban yang saya gunakan sehari-hari itu merupakan bukti tak terbantahkan tentang kemahakayarayaan keanekaragaman kebudayaan yang hadir secara Bhinneka Tunggal Ika (bahasa Jawa Kuno terpengaruh bahasa Sanskerta) di persada Nusantara (pengaruh Sanskerta) yang sempat disebut Hindia-Belanda oleh Belanda kini telah diproklamasikan bung Karno dan bung Hatta sebagai Indonesia (nama digagas Earl dan Logan) sebagai sebuah negeri gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta rahardja (rangkaian kata bahasa Jawa Muda terpengaruh Sanskerta).

Memang kebudayaan nusantara merupakan perpaduan berbagai kebudayaan mancanegara namun tentu bukan merupakan alasan untuk berhenti berjuang menggelorakan semangat kebanggaan nasional demi mempertahankan kedaulatan warisan kebudayaan bangsa Indonesia seperti batik, jamu, angklung, candi, keris, kroncong, dangdut, gamelan, tahu, tempe, rendang, sate, nasi goreng,  sambal, krupuk, wayang, serta aneka-ragam kearifan leluhur Indonesia yang secara Bhinneka Tunggal Ika nyata hadir di persada Nusantara masa kini. Merdeka.

Penulis adalah warga Indonesia yang sehari-hari menggunakan berbagai peralatan yang berasal dari kebudayaan mancanegara namun tetap bangga keanekaragaman warisan kebudayaan Indonesia sendiri

Populer

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

UPDATE

PT DSI Fokus Genjot Ekspor 3 Komoditas Ini

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:53

Kasus Abu Janda jadi Ujian Polri, Akankah Pilih Kasih?

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:32

Nahdliyin DIY Soroti Konflik PBNU dan Arah Organisasi

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:10

Prabowo Dijadwalkan Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila Besok

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:01

Kedekatan Prabowo dengan Tiga Pemimpin Adidaya Untungkan Indonesia

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:43

Kamboja Bebaskan Denda Overstay 5.950 WNI Terjerat Kasus Online Scam

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24

Rekam Jejak Ryamizard Ryacudu: Dari Titisan Darah Militer hingga Kursi Eksekutif

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:05

Meski Disidangkan, Kasus LCC Empat Pilar Perlu Pertimbangkan Jalan Damai

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:44

Program Bioflok Presiden Prabowo di Karawang Sukses Panen Raya 1,2 Ton Ikan Nila

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:34

Warisan Bung Tomo: Lawan Pemimpin yang Tak Berpihak pada Rakyat Kecil!

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya