Berita

Muhammadiyah dan NU/Net

Politik

Kesan Yang Muncul, Muhammadiyah Dan NU Tinggalkan Kemendikbud Hanya Gara-gara Uang

KAMIS, 23 JULI 2020 | 18:15 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Sangat disayangkan sikap Muhammadiyah dan NU yang mundur dari Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbud hanya gara-gara dipicu adanya bantuan Kemendikbud Rp. 20 miliar ke Tanoto Foundation dan Sampoerna Foundation.

Demikian disampaikan aktivis dari Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima), Sya'roni menanggapi mundurnya Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah dan LP Ma'arif NU dari POP Kemendikbud.

"Sikap ini jelas mendegradasi nama besar Muhammadiyah dan NU. Kesan yang muncul hanya gara-gara uang, kedua ormas tersebut mengambil sikap yang berlebihan," ujar Sya'roni kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (23/7).


Sejarah panjang sudah membuktikkan bahwa kedua ormas besar tersebut mampu menggelar pendidikan untuk umat tanpa bantuan pemerintah. Jadi menurutnya, ada ataupun tidak ada bantuan, kedua ormas akan tetap survive memberi pelayanan pendidikan kepada umat.

Dalam konteks POP Kemendikbud, lanjut Sya'roni, karena Muhammadiyah dan NU sejak awal sudah bergabung ke POP Kemendikbud, maka sebaiknya dilanjutkan hingga tuntas.

Adapun bantuan Kemendikbud kepada dua organisasi CSR Tanoto Foundation dan Sampoerna Foundation sebaiknya disikapi secara bijak. Kemendikbud pasti sudah memiliki pertimbangan matang menyalurkan bantuan tersebut.

"Bisa jadi, proposal yang diajukan kedua lembaga tersebut sesuai dengan  visi misi pemerintah. Bisa jadi juga, kedua lembaga tersebut dianggap sudah teruji menyalurkan bantuan pendidikan untuk rakyat," sebut Sya'roni.

"Pengalaman di lapangan, saya memiliki beberapa teman yang berasal dari keluarga kurang mampu, bisa menyelesaikan sekolah hingga tingkat doktor, karena dibantu beasiswa oleh lembaga CSR perusahaan," tambahnya.

Ternyata, kiprah lembaga-lembaga CSR sudah terbukti bermanfaat untuk rakyat. Sehingga tidak ada salahnya bila lembaga-lembaga tersebut dibantu pendanaan oleh pemerintah agar dapat memperluas jangkauan pemberian beasiswa dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

"Tetapi, jika Muhammadiyah dan NU sudah bersikukuh mundur dari program POP Kemendikbud, akan lebih bijak lagi jika kedua ormas tersebut memutuskan semua hubungan kerja sama dengan Kemendikbud. Bila saat ini masih ada program lainnya, sebaiknya dihentikan juga. Jadi tidak tanggung-tanggung protesnya," tutup Sya'roni.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya