Berita

Dr Rizal Ramli/Net

Publika

Rizal Ramli Bicara Jas Merah: Kenapa Kita Dijajah Ratusan Tahun ?

SELASA, 21 JULI 2020 | 23:01 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

KALAU perusahaan-perusahaan multinasional saat ini dianggap merupakan “para tentara baru” yang menaklukkan negara lain yang lemah dan mudah dibodohi, maka hal tersebut sebenarnya merupakan pengulangan sejarah dari apa yang pernah dialami oleh rakyat negeri ini pada masa VOC.

VOC, pada abad ke 17, adalah perusahaan dagang multinasional milik Belanda, yang pada masanya bersaing dengan perusahaan multinasional, seperti EIC, milik Inggris, yang merampok kekayaan alam Nusantara berupa rempah-rempah.

Bertahannya penjajahan Belanda di Nusantara selama ratusan tahun terutama bukan karena dilakukan dengan cara-cara militer, tetapi melalui konsesi atau perjanjian-perjanjian dengan elite penguasa pribumi, seperti raja atau pangeran.


Hampir semua hak, wilayah, dan kekuasaan VOC didapat berdasarkan kontrak. Seperti misalnya dilakukan oleh Amangkurat II dengan menggadaikan sejumlah pelabuhan di wilayah Pantura sebagai barter supaya mendapat dukungan Belanda.

Atau Perjanjian Ponorogo (1743) antara Paku Buwono II dengan VOC, dimana seluruh pesisir Mataram diserahkan kepada VOC dan rakyat Jawa dilarang membuat perahu yang mengikis jiwa bahari masyarakat Jawa.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa VOC selalu memihak kepada penguasa boneka yang bisa diatur.

Belanda juga memanfaatkan konflik antar-elite pribumi yang saling bertikai dalam persoalan takhta dan suksesi.

Mataram dipecah dalam Perjanjian Giyanti (1755). Menjadi Paku Buwono di Surakarta (Solo), dan Hamengku Buwono di Jogja.

Kerajaan-kerajaan di Timur Indonesia  diadudomba, dan seterusnya. Bahkan lebih ganas mereka melakukan genosida terhadap penduduk Kepulauan Banda, Maluku, untuk menguasai rempah-rempah.

Itulah sebabnya kolonialisme Belanda bercokol ratusan tahun, sehingga dikatakan mencapai 350 tahun. Meski hingga awal abad 20 masih banyak kerajaan di Nusantara yang berdaulat. Tidak bisa ditaklukkan.

Bali misalnya, baru dapat dikuasai oleh Belanda pada tahun 1910. Ternate tahun 1923. Ruteng 1928, Toraja 1910. Sedangkan Sulawesi Selatan baru bisa ditaklukkan pada 1905.

Di masa rezim Hindia Belanda, KNIL juga jadi alat pemecah belah. Belanda merekrut bumiputera dari daerah-daerah tertentu untuk memerangi bumiputera di wilayah lain di Nusantara. Sehingga memunculkan stigma kebencian antar-suku.

Di Sumatera Barat kaum adat dan kaum ulama dihasut. Sehingga berkobar Perang Padri yang lalu melahirkan kesadaran “adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah”.
Sehingga:  “raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah”.

Waktu politik etis diberlakukan setelah 300 tahun menjajah, pemecahbelahan (devide et impera) juga dilakukan. Belanda mempersiapkan kaum priyayi feodal untuk meneruskan administrasi/birokrasi kolonial, dengan mendirikan OSVIA, sekolah pangreh praja  (calon pegawai negeri kolonial).

Seandainya tidak ada Revolusi 1945 yang menghasilkan kemerdekaan, merekalah yang akan menjadi perpanjangan-tangan kekuasaan Belanda di negeri ini.

Selain melakukan cara-cara memecah-belah, feodalisme juga mengawetkan penjajahan.

Feodalisme bapak kandung nepotisme yang memudahkan Belanda mengontrol kekuasaan. Itulah sebabnya jabatan bupati misalnya dipegang secara turun temurun berdasarkan silsilah dan atas restu penguasa kolonial.

Para tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia umumnya adalah para penghayat sejarah. Pemahaman terhadap sejarah menjadi salah satu basis perjuangan mereka dalam memahami nasib bangsa. Mereka kemudian menjadi pembuat sejarah agar bangsa ini tidak terjerat ke dalam siklus yang sama, yaitu penjajahan yang telah mencapai ratusan tahun itu.

Kalau waktu itu Soekarno pernah berkata Jangan Sekali-Sekali Meninggalkan Sejarah  (Jas Merah), tokoh bangsa Dr Rizal Ramli hari ini mengingatkan kita bahwa yang tidak kalah penting adalah saat ini kita harus membuat sejarah.

Masa depan bangsa sangat penting, dan masa depan terbaik adalah jika kita ikut menciptakannya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya