Berita

Ilustrasi/Net

Jaya Suprana

Sekuenza Fibonacci & Chandra Bhirawa

JUMAT, 17 JULI 2020 | 19:19 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

“DA VINCI CODE” bukan merupakan favorit saya baik sebagai novel Dan Brown mau pun film yang dibintangi Tom Hanks dan disutradarai Ron Howard.

Ternyata yang disebut sebagai Da Vinci Code dalam kisah Da Vinci Code adalah suatu rumusan matematika yang disebut sebagai rangkaian angka Fibonacci yang juga dikenal dengan sebutan Sekuenza Fibonacci.

Infinitas


Sekuenza Fibonacci dimulai dengan 0 dan 1 kemudian disusul dengan 1, 2, 3, 5, 8, 13 dan seterusnya di mana setiap angka (setelah 0 dan 1) merupakan penjumlahan dari dua angka sebelumnya. Maka setelah 13 sekuenza berlanjut dengan 13+8=21 kemudian disusul dengan 21+13=34 lalu 34+21=55 dan seterusnya, dan selanjutnya sampai infinitas alias tanpa batas seperti alam semesta ini.

Konon, rangkaian angka Fibonacci diperkenalkan oleh matematikawan Italian bernama Leonardo Pisano yang menggunakan nama alias Fibonacci di dalam buku Liber Abaci yang ditulis pada tahun 1202. Sekuenza Fibonacci erat terkait dengan Rasio Emas. Formula Binet mengekspresikan faktor n di dalam sekuenza Fibonacci dalam keterkaitan n dan Rasio Emas dan menyimpulkan bahwa rasio dari dua angka berlanjutan di dalam sekuenza Fibonacci sebagai penambahan n pada Rasio Emas.

Mohon jangan menuntut penjelasan tentang makna ungkapan Formula Binet karena saya sama sekali tidak mengerti apa yang disebut sebagai Formula Binet itu.

Popular

Namun saya tahu bahwa ternyata Sekuenza Fibonacci lestari popular untuk dibahas bahkan dikembangkan sampai masa kini sampai ada majalah matematika Fibonacci Quarterly khusus didedikasikan bagi para pemerhati dan pengembang rangkaian angka Fabionacci. Aplikasi sekuenza Fabionacci menyelinap masuk ke algoritma komputer seperti Fabionacci search technique, Fabionacci heap data structure dan grafik kubus Fibonacci untuk menjalin koneksi sistem paralel dan distribusi.

Di bidang arsitektur, rangkaian angka Fabionacci merupakan landasan gagasan arstitektur teras Science Museum Singapore, Mole Antoinelle Turin, Linden Braeurerie Unna, Stasiun Utama Zurich. Unsur Rangkaian Angka Fabinocci kerap didayagunakan sebagai materi dasar komposisi musik dan desain seni rupa. Bahkan Sekuenza Fabionacci tampil di desain alami tanaman seperti cabang dan dahan pepohonan, aransemen dedaunan, tata desain buah nanas, bunga artichoke, daun cemara, tata desain interior kulit kerang, motif bunga salju dan lain-lain mahakarya alam fauna dan flora. Menarik adalah kelopak bunga yang terdiri dari 3, 5, 8 dan 16.

India

Sekuenza Fibonacci sudah tampil di matematika tradisional India kuno dalam keterkaitan dengan tradisi struktur metrik puisi Sankskrit. Menurut matematikawan India, Parmanand Singh, sekuenza Fabinocci sudah diungkap oleh Pingala pada formula kriptik misrau cha pada kurun waktu sekitar abad II sampai dengan IV sebelum Masehi.

Mahabudayawan Bharata Muni mengungkap sukma sekuenza Fibonacci pada Nathya Shastra yang juga ditampilkan pada mahakarya prosodis Virhanka (sekitar abad VIII Masehi). Sementara Hamachandra (sekitar 1150 Masehi) gamblang menegaskan bahwa “jumlah dari angka terakhir dan sebelumnya adalah angka matra yang selanjutnya”.

Candra Bhirawa

Ada pula versi Wayang Purwa yang menyatakan bahwa perkembangan patah-tumbuh-hilang-berganti Chandra Bhirawa selaras dasar hitungan rangkaian angka Fibonacci dari tiada menjadi satu lalu disusul satu lagi sebelum menjadi dua kemudian menjadi tiga lalu menjadi 5 lalu 8 lalu 13 lalu 21 lalu 34 lalu 55 dan seterusnya tanpa batas akhir.

Meski yang lebih lazim adalah versi matematikal lainnya yang menyatakan bahwa pertambahan jumlah Chandra Bhirawa diawali 1X2=2 kemudian kuadratis 2x2=4 lalu 4x4=16 lalu 16x16= 256 lalu 256X256=65.536 dan seterusnya sampai daya digit kalkulator saya tidak cukup untuk menampungnya.

Penulis adalah pembelajar sejarah matematika

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

UPDATE

Banjir, Macet, dan Kemiskinan di Jakarta Mendesak Dituntaskan

Senin, 23 Februari 2026 | 06:07

Jokowi Memang sudah Selesai, Tapi Masih Ada Gibran dan Kaesang

Senin, 23 Februari 2026 | 05:39

Tiga Waria Positif HIV Usai Terjaring Razia di Banda Aceh

Senin, 23 Februari 2026 | 05:28

Penakluk Raksasa

Senin, 23 Februari 2026 | 05:13

Kisah Tragis Utsman bin Affan: 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah

Senin, 23 Februari 2026 | 04:26

Kebangkitan PPP Dimulai dari Jabar

Senin, 23 Februari 2026 | 04:10

Prabowo Tak Beruntung terkait Tarif Trump

Senin, 23 Februari 2026 | 04:05

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Tembok Ratapan Solo Jadi Potret Wajah Kekuasaan Jokowi yang Memudar

Senin, 23 Februari 2026 | 03:27

Persib Kokoh di Puncak Klasemen Usai Tekuk Persita 1-0

Senin, 23 Februari 2026 | 03:00

Selengkapnya