Berita

Museum Hagia Sophia yang diadikan sebagai masjid di Turki/Ist

Muhammad Najib

Makna Politis Perubahan Status Hagia Sophia Dari Museum Menjadi Masjid

MINGGU, 12 JULI 2020 | 20:38 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

BAGI mereka yang pernah mengunjungi Hagia Sophia yang berada di kota Istanbul, tentu akan bertanya-tanya, mengapa bangunan bersejarah yang megah dan indah ini perlu diubah statusnya dari "Museum" menjadi "Masjid"?

Secara fungsional kawasan yang kini menjadi objek wisata dan berada tidak jauh dari bekas istana Topkapi ini, sudah memiliki masjid yang sangat besar dan indah yang berada di seberang Hagia Sophia bernama Masjid Sulthan Ahmed I.

Masjid ini lebih populer dengan sebutan "Blue Mosque" atau "Masjid Biru", karena ornamen di dalamnya didominasi dengan warna biru. Masjid ini mulai dibangun tahun 1609 dan baru selesai 1616.


Ada banyak cerita di balik bangunan yang sangat dibanggakan oleh bangsa Turki ini. Diantara cerita yang menarik dan relevan untuk disinggung antara lain: Sang Sulthan yang kekuasaan sudah sangat luas pada waktu itu termasuk wilayah Eropa, sangat terganggu dengan dominasi bangunan Hagia Sophia sebagai ikon Istanbul yang menjadi ibukota Kesulthanan Turki Usmani.

Cerita lain yang juga sangat menarik mengatakan bahwa Sulthan sangat terganggu dengan berbagai bentuk sindiran yang didengarnya dari sejumlah pejabat negara lain, yang menyatakan bahwa meskipun secara militer Kesulthanan Turki Usmani sudah masuk kategori superpower, akan tetapi secara intelektual dan dalam penguasaan teknologi khususnya dalam seni bangunan (arsitektur) masih harus meminjam warisan yang ditinggalkan oleh Bizantium.

Karena itu, sangat masuk akal jika sang Sulthan kemudian memutuskan untuk membangun Masjid Biru yang ukurannya, kemegahan, serta keindahannya tidak kalah dengan Hagia Sophia yang berada di seberangnya.

Antara Masjid Biru dan Hagia Sophia hanya dibatasi oleh taman bunga terbuka yang dilengkapi dengan air mancur. Karena itu, dari taman ini jika kita menghadap Hagia Sophia kemudian memutar badan 180 derajat, maka kita akan melihat Masjid Biru.

Sejak saat itu kawasan ini memiliki dua masjid raksasa, sampai runtuhnya Kesulthanan Turki sesudah menderita kekalahan dari Sekutu yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis pada Perang Dunia Pertama.

Lahirnya negara Turki Modern yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk yang mengubah Kesulthanan Turki Usmani menjadi negara sekuler (ekstrem) yang antiagama, berimplikasi terhadap perubahan berbagai kehidupan publik, termasuk status Hagia Sophia dari Masjid menjadi Museum pada tahun 1934.

Setelah selama 86 tahun menyandang status museum, kini Hagia Sophia kembali menjadi masjid, melalui keputusan pengadilan yang kemudian dikuatkan oleh Dekrit Presiden yang ditandatangani oleh Erdogan.

Keputusan ini menimbulkan protes dari Amerika, Uni Eropa, dan UNESCO. Akan tetapi para pemimpin Turki termasuk Presiden Recep Tayyip Erdogan tidak bergeming. Mereka beralasan, apa yang dilakukannya sesuai dengan keinginan Sulthan Muhammad Alfatih. Argumen ini tentu sangat pekat dengan aroma politik.

Sebagaimana ditulis dalam sejarah, Hagia Sophia dibangun oleh Kaisar Bizantium bernama Justin I pada abad ke-6 M. Sejak saat itu Hagia Sophia menjadi katedral terbesar di dunia selama sekitar 1.000 tahun, sebelum diubah menjadi masjid.

Tahun 1453, Kekaisaran Bizantium yang beribukota di Konstantinopel dikalahkan oleh Kesulthanan Turki Usmani yang dipimpin oleh Sulthan Muhammad Alfatih. Nama kota Konstantinopel kemudian diubah menjadi Istanbul, dan Katedral yang berada di dalamnya diubah menjadi masjid.

Menurut Pengamat Internasional Hasmi Bakhtiar, setelah menguasai Kota Istanbul, Alfatih membeli Hagia Sophia dari para pemimpin Kristen Ortodoks, sebelum mengubahnya menjadi Masjid. Dokumen jual-belinya sampai sekarang masih tersimpan di Pusat Arsip Turki di kota Ankara.

Setelah berubah status menjadi masjid, Sulthan Alfatih kemudian menugaskan seorang arsitek termashur saat itu bernama Mimar Sinan, untuk menambahkan menara yang menjadi ciri khas sebuah bangunan masjid, selain menambah tempat berwudhu, mimbar untuk imam, dan tempat khusus untuk Sulthan.

Sejak saat itu masjid-masjid Turki baik yang di dalam negri maupun di luar negri meniru arsitektur Masjid Hagia Sophia, kemudian menjadi ciri arsitektur masjid Turki yang berbeda dengan masjid-masjid di negara-negara Arab, Persia, maupun negara-negara muslim lainnya di dunia.

Para pengamat di dalam negri Turki, mengkritisi perubahan status Hagia Sophia dari Museum menjadi masjid, tidak bisa dilepaskan dari upaya Erdogan untuk mengatrol popularitas partainya AKP dan dirinya sendiri yang anjlok sejak beberapa tahun terakhir.

Indikasi paling nyata bisa dilihat dari kekalahan kader-kader AKP dalam pemilihan kepala-kepala daerah tahun lalu. Yang paling memukul AKP dan Erdogan adalah lepasnya kota Istanbul, Ankara, dan Izmir. Padahal sejak 2002, kota-kota besar dan bergengsi ini selalu dipimpin oleh kader-kader AKP.

Bahkan Erdogan sendiri memulai karier politiknya dengan menjadi Walikota Istanbul sebelum menjadi Perdana Mentri, kemudian menjadi Presiden sampai sekarang.

Lepasnya sejumlah kota penting dari tangan AKP, tentu mengancam keinginan Erdogan sendiri untuk menjadi Presiden Turki setidaknya sampai tahun 2028. Karena itu, pemilu tahun 2023 mendatang menjadi pertarungan hidup-mati baik bagi AKP maupun Erdogan sendiri.

Menurut sejumlah pengamat, kemerosotan popularitas AKP dan Erdogan diakibatkan oleh meresotnya kondisi ekonomi Turki. Masalah ekonomi Turki terkait langsung dengan sikap politik dan kebijakan ekonomi Amerika dan sejumlah negara Eropa, yang tidak bersahabat dan menilai kebijakan Erdogan menjauh bahkan merugikan kepentingan mereka di Timur Tengah, baik secara politik, ekonomi, maupun militer.

Selain itu, sejumlah pejabat yang berasal dari AKP terjerat kasus korupsi. Erdogan dan keluarganya juga menjadi sorotan media karena gaya hidupnya yang berubah, semakin akrab dengan kemewahan.

Karena itu, ia dan partainya perlu melakukan sesuatu yang tidak cukup hanya berdimensi rasional sebagaimana dilakukan sebelumnya, seperti kebijakan terkait pengentasan kemiskinan, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui lembaga pendidikan, swasembada pangan, dan sebagainya.

Akan tetapi perlu kejutan dan kebijakan baru yang berdimensi emosional. Pada saat bersamaan dunia Islam mengalami kekosongan kepemimpinan. Pada saat ini umat Islam ditindas di banyak negara tanpa pembelaan nyata.

Minoritas Islam ditindas oleh ektrimis Hindu di India, oleh ektrimis Budha di Myanmar, ektrimis Yahudi di Palestina, ektrimis Protestan dan Katolik di Amerika dan sejumlah negara Eropa.

Karena itu, apa yang dilakukan Erdogan bukan mustahil mengandung keinginan untuk mengembalikan kepemimpinan Turki dalam membela umat Islam di dunia, sebagaimana yang pernah dilakukan Turki Usmani selama berabad-abad.

Jika dugaan di atas benar, maka perubahan status Hagia Sophia dari Museum menjadi Masjid, memiliki dimensi politik ganda terkait dengan kepentingan kontestasi politik di dalam negeri, maupun terkait pertarungan politik global, khususnya yang berhubungan dengan kepentingan dunia Islam.

Jika diukur dari kemampuannya mengubah jalan hidup bangsa Turki, maka ilmuwan politik Alphan Alfian menilai reputasi Recep Tayyip Erdogan sudah menyamai Mustafa Kemal Ataturk. Jika Ataturk mengubah masyarakat Turki yang religius menjadi sekuler, maka Erdogan mengembalikan masyarakat Turki yang sekuler menjadi religius.

Akan tetapi jika diukur dari prestasi pembangunan ekonomi, maka Erdogan telah jauh melampaui Ataturk, karena ia berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyatnya secara spektakular.

Bangsa Turki yang sebelumnya dijuluki sebagai "orang sakit Eropa" kini menjadi "orang sehat Eropa", disaat banyak negara Eropa terpuruk.

Penulis adalah Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya