Berita

Presiden Jokowi saat mengutarajan opsi reshuffle pada Sidang Kabinet, Kamis (18/6)/Repro

Politik

Jika Kemarahannya Tak Berujung Reshuffle, Bukti Presiden Jokowi Ditekan Kekuatan Politik Tertentu

MINGGU, 12 JULI 2020 | 09:00 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Kemarahan Presiden Joko Widodo di hadapan menterinya seharusnya tidak diumbar ke publik. Sebabnya, kejengkelan yang sudah dilakukan Jokowi hingga dua kali itu justru dapat menimbulkan tafsir bebas di masyarakat.

Analis politik yang juga Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif'an menilai, kemarahan Kepala Pemerintahan menjadi relevan kalau hal itu adalah bagian dari pra kondisi menuju perombakan kabinet.

Ali Rif'an melihat, jika kemarahan Jokowi bertujuan agar menjadi cambuk bagi para pembantunya, maka sebaiknya dilakukan secara internal.


"Kalau sudah disampaikan ke publik tafsirnya bebas, dan ini hanya menimbulkan kegaduhan. Berarti Jokowi mempertontonkan kebrobrokan pemerintah, kalau ini sebagai pra kondisi reshuffle it's okay," demikian kata Ali Rif'an kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (12/7).
 
Ali Rif'an justru menilai, apabila ternyata kemarahan Presiden tidak berujung reshuffle, mengindikasikan bahwa Jokowi tersandera oleh kepentingan politik tertentu.

"Kita khawatir, bagian dari spekulasi yang muncul, memarahi menteri, setelah 10 hari marah baru diunggah, beberapa saat kemudian Istana klarifikasi tidak ada reshuffle, jangan-jangan ada tekanan. Dalam situasi pandemi butuh pola-pola baru kalau nggak bisa ikuti pola baru tangani pandemi ganti aja. Keselamatan rakyat harus diutamakan," demikian pandangan Ali Rif'an.

Meski demikian, Ali memberikan penjelasan tentang tiga faktor yang harus menjadi dasar Kepala Negara dalam melakukan perombakan kabinet. Diantaranya faktor kompetensi, politik dan opini publik.

Eks Manajer Riset Poltracking Indonesia ini mengaku khawatir jika yang dominan dalam memutuskan perombakan kabinet hanyalah politik semata. Kata Ali, seharusnya faktor kompetisi dan opini publik juga menjadi dasar apakah diperlukan perombakan atau tidak.

"Kalau kompetensi kan sederhana, gak mampu copot saja, kalau faktor publik kehendak masyarakat ingin pergantian ya diganti. Kita mencermati ada faktor politik. Harusnya kemarahan itu harus berujung pada reshuffle. Bahkan ahli gesture menilai marahnya serius, dalam waktu 1 tahun ini harusnya ada evaluasi. Pertanyaannya sederhana, kenapa Presiden bisa semarah itu? berarti ada situasi melakukan kesalahan berulang," pungkas pria yang juga Magister Politik Universitas Indonesia ini.  

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya