Berita

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito/Repro

Kesehatan

Gugus Tugas Minta Kementan Jelaskan Dasar Medik Dan Ilmiah Kalung Antivirus Corona

SENIN, 06 JULI 2020 | 15:23 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Harus ada penjelasan ilmiah dan medik sebelum Kementerian Pertanian (Kementan) benar-benar memproduksi massal Kalung Antivirus Corona.

Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, manfaat kalung antivirus corona tersebut harus dibuktikan secara ilmiah, utamanya terkait penggunaan bahan eucalyptus atau kerap disebut juga pohon kayu putih.

"Untuk bisa dipakai masyarakat, harus ada uji dengan metode yang valid. Klaim dari hasil penelitian hanya bisa sebatas pada bukti hasil penelitiannya. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang," ujar Wiku saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Senin (6/7).


Menurut Wiku, eucalyptus adalah bahan alam kayu putih yang menimbulkan aroma di udara, yang kemudian bisa berinteraksi dengan virus di luar tubuh manusia. Oleh karenanya, kalung antivirus corona tidak akan membentuk imunitas pada manusia.

Sebab imunitas adalah kekebalan yang didapat manusia karena terbentuknya antibodi dari dalam tubuh, akibat adanya antigen atau virus yang masuk ke dalam tubuhnya.

Kalaupun yang dimaksud Kementan dari manfaat kalung antivirus corona itu adalah aroma eucalyptus yang dalam bentuk aerosol bisa masuk ke dalam pernafasan dan akhirnya bisa membentuk imunitas tubuh, jelasnya, maka perlu dijelaskan secara ilmiah.

"Bagaimana cara kerja zat ini di dalam paru-paru dan di dalam tubuh bila bersirkulasi. Selain itu harus teruji secara klinis dampaknya yang konsisten. Inipun ada metode uji klinisnya," ungkap Wiku.

"Jadi masih banyak prosedur yang harus dilalui untuk membuktikan cara kerja dan efektivitas serta keamanan sebuah obat atau sediaan farmasi dari herbal pada manusia," sambungnya.

Untuk itu, Gugus Tugas meminta kepada Kementan untuk bisa membuktikan secara medis dari penggunaan dan manfaat kalung antivirus corona.

"Bila tidak ada bukti tersebut bisa menyebabkan masyarakat yang meyakini manfaatnya (kalung antivirus corona) ternyata malah membahayakannya, karena menjadi ceroboh karena merasa ada alat proteksinya, padahal tidak," tegas Wiku.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya