Berita

Direktur Indonesia Future Studies (Infus) Gde Siriana Yusuf/Net

Politik

Masalah Di Periode 1 Dan 2 Sama, Jokowi Salah Pilih Menteri Atau Rakyat Salah Pilih Presiden?

RABU, 01 JULI 2020 | 18:23 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pidato marah-marah Presiden Joko Widodo dalam rapat kabinet 18 Juni lalu dinilai banyak pihak sebagai bentuk kegagalan seorang pemimpin dalam menunjuk para menterinya. 

Pendapat itu sebagaimana disampaikan Direktur Indonesia Future Studies (Infus) Gde Siriana Yusuf.

Gde Siriana mengamati, pola kepemimpinan Jokowi di periode pertama dan kedua kali ini tidak mengalami perubahan, khususnya dalam hal memilih para menteri.


Di periode pertama, Gde Siriana ingat dengan keputusan Jokowi yang mereshuffle kabinetnya sebanyak dua kali, dengan maksud memperbaiki capaian ekonomi RI. Namun nyatanya itu semua tidak terjadi.

"Di periode satu, Jokowi dua kali reshuffle besar, 2015 dan 2016. Agustus 2015, dia janji ekonomi meroket 7 persen. Hasilnya? Enggak gerak di 5 persen. Enam belas kebijakan ekonomi sampai 2018 enggak berhasil. Padahal sudah ganti menteri di 2016," ujar Gde Siriana kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (1/7).

"Sekarang dia mau bilang salah pilih menteri lagi? Atau rakyat yang salah pilih lagi di 2019?," sambungnya.

Di dalam pidatonya yang marah-marah, Jokowi juga mengancam para menterinya yang tidak serius menanggulangi corona untuk bersiap masuk ke daftar yang direshuffle.

Tapi menurut Gde Siriana, pernyataan tersebut justru memperlihatkan sikap lempar batu sembunyi tangan. Karena dari pengalaman reshuffle di periode pertama Jokowi tidak membuat manfaat apapun.

"Berkaca dari kisah di periode 1 hingga marah-marah di periode 2, nampak jelas bahwa Jokowi tidak punya kemampuan dalam memilih orang-orang yang tepat," ungkapnya.

"Atau sebenarnya ada sekelompok orang yang the real president. Mereka ini lah yang hanya gunakan Jokowi sebagai legalitas kekuasaan untuk mengatur negara," demikian Gde Siriana Yusuf. 

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya