Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Publika

Jokowi, Sun Tzu Dan Reshuffle

SELASA, 30 JUNI 2020 | 18:34 WIB

KETIKA melihat presiden kita marah dengan gaya yang masih cukup halus, saya merasa perlu mengomentarinya. Setelah sekian lama ditunggu karena tidak adanya gebrakan serius dalam pemerintahan, akhirnya baru pertama kali dalam kepemimpinannya yang kedua kita bisa melihat presiden agak 'keras' kepada para bawahannya.

Tentunya ini menarik bagi seorang pemimpin yang berkarakter 'selow', kalem dan 'cool' seperti Presiden Jokowi. Saya bukan pengamat politik dan juga politisi. Tapi sebagai ilmuwan saya merasa perlu memberikan 'trigger' atau 'stimulan' untuk memberikan dorongan yang kuat kepada Presiden Jokowi yang selama periode kedua ini saya pribadi melihatnya agak payah dan lemah dalam melakukan akselerasi para 'pasukannya' di bawah.

Terlihat sekali simpang siur aturan dan kurang maksimalnya koordinasi dalam penyambutan pandemik virus corona baru (Covid-19), mulai dari problematika penyaluran Bansos, polemik Kartu Prakerja dan terakhir anggaran Kementerian Kesehatan yang konon hanya hanya baru terserap 1 persen.


Sebagai pemikir tradisi ajaran Khonghucu, saya merasa perlu memberikan paradigma baru dalam pendekatan historis bagi presiden kita, karena pengetahuan historis terbukti sangat ampuh untuk menghadapi masa depan.

Sebagai pendiri sebuah tradisi religius Confucius, saya meletakan tema pemikirannya bagaimana melakukan pemerintahan yang bersih, disiplin yang bertujuan mensejahterakan rakyat dalam keadilan.

Confucius mengatakan, untuk mengetahui prediksi yang terjadi di masa yang akan datang maka kita harus mempelajari masa lalu. Catatan sejarah pada umumnya terjadi 'berulang' (dengan sedikit gaya berbeda) hanya para aktornya saja yang saling berganti.

Confucius mengkompilasi seluruh kitab klasik ajaran dari para pendahulunya. Ia membukukannya dengan baik dalam The Five Classic Confucianism. Tujuannya ialah supaya generasi berikutnya dapat mempelajari kesalahan-kesalahan pemerintah pada masa lalu agar tidak diulang oleh generasi berikutnya.

Dalam menyikapi marahnya Presiden Jokowi saya ingin mengutip sebuah catatan sejarah pada zaman Musim Semi dan Musim Gugur yang dicatat oleh Confucius pada periode (771-476 SM). Kenapa menjadi penting untuk direnungkan karena konteks sejarah ini tampak begitu eratnya dalam kaitan marahnya presiden kepada anak buahnya.

Adalah kisah Sun Tzu seorang tokoh Konfusianisme klasik yang mencoba mengajarkan bagaimana seorang CEO sebuah negara dalam proses mendisiplinkan bawahannya yang tidak disiplin dan melanggar rantai komando dalam menyelenggarakan sistem pemerintahan.

Berikut kisahnya :

Sun Tzu seorang ahli strategi dan taktik pemerintahan yang mengabdi sebagai jenderal dan ahli strategi pada Rajamuda Wu Helu dari negara Wu pada zaman Musim Semi dan Musim Gugur. Kemampuan, kecerdikan, kebijakannya membuatnya disegani oleh banyak orang, bahkan ilmu strategi perangnya juga mulai diterapkan pada hal bisnis dan pemerintahan.

Ada sebuah catatan menarik mengenai Sun Tzu, sebelum Rajamuda Wu Helu merekrutnya sebagai salah seorang jenderalnya. Dia memberi Sun Tzu sebuah tantangan yang agak aneh. Tantangan tersebut adalah melatih 180 orang para pelayan Istana Raja Wu Helu untuk menjadi prajurit yang tangguh. Sun Tzu tentu saja menyanggupinya. Sun Tzu mempunyai sebuah cara untuk melatih ke 180 pasukan tersebut.

Ia membagi mereka menjadi 2 kelompok besar. Setiap kelompok dipimpin oleh selir kesayangan Rajamuda Wu Helu. Jadi, dua orang selir kesayangan Rajamuda Wu Helu menjadi yang bertanggungjawab atas kelompok mereka masing-masing.

Pada instruksi yang pertama, Sun Tzu memerintahkan seluruh pasukannya tersebut untuk menghadap kanan. Tapi mereka semua malah tertawa cekikikan dan masih menganggap sebagai sebuah permainan.

Sun Tzu mengatakan bahwa seorang jenderal, dalam hal ini dirinya, harus memastikan bahwa perintah yang diberikannya mampu dipahami oleh seluruh pasukan. Jadi dia mengulang perintahnya sekali lagi. Tapi tetap saja pasukan tersebut tetap tidak mengindahkan perintahnya, tapi malah tetap tertawa kecil.

Akhirnya tanpa kompromi lagi Sun Tzu mengeksekusi kedua selir kesayangan raja, karena dianggap tidak mampu mengatur kawan-kawannya. Tentu saja sang raja memprotes atas keinginan Sun Tzu untuk mengeksekusi kedua selir favoritnya. Tapi Sun Tzu tetap melakukannya tanpa ragu sekalipun.

Setelah melihat kedua pemimpin kelompok mereka dipenggal, para selir pun akhirnya ketakutan dan langsung menuruti apa yang diperintahkan Sun Tzu. Sehingga pada perintah berikutnya mereka dapat bergerak seperti pasukan militer yang sesungguhnya dengan tertib dan rapi.

Rajamuda Wu Helu tentu saja menyatakan ketidaksukaannya terhadap Sun Tzu karena mengeksekusi kedua selir kesayangannya.Tapi Sun Tzu menjawab dengan mengatakan bahwa dirinya hanya melakukan apa yang sang raja perintahkan.

Para penasihat raja juga berusaha menenangkan raja untuk mengalah jangan sampai persoalan pribadinya justru menimbulkan risiko yang tidak baik bagi negara hanya demi masalah pribadinya.

Saran konkret saya ada baiknya presiden mengikuti cara Sun Tzu dalam menghadapi kesulitannya membereskan rantai komando. Tentunya bukan dengan memenggal para bawahannya melaikan meresufflenya segera.

Presiden Jokowi harus jadi CEO pemerintahan yang tangguh seperti apa yang disarankan oleh Sun Tzu. Jika tidak bukan tidak mungkin Presiden Jokowi akan kesulitan di kemudian hari dan mungkin membawa Indonesia dalam kesusahan yang lanten dan merugikan seluruh bangsa.

Presiden Jokowi juga disarankan mempelajari dengan baik strategi pemerintahan dari pemimpin bangsa lainnya tentang kedisiplinan dalam memerintah.

Kita tahu bahkan seorang CEO tentara seperti Douglas McArthur, Colin Powell, pelatih sepak bola Brazil Luiz Felipe Scolari mengakui menggunakan buku The Art of War karya Sun Tzu dalam memimpin pasukannya dan juga si cantik Paris Hilton yang sangat hoby membaca karya Sun Tzu.

Selamat menjadi CEO yang baik Presiden Jokowi, Kemana angin bertiup di situlah rumput akan mengarah. Ke mana pemimpin mengarah di situlah rakyat akan mengikutinya. Pemimpin sejati itu ibarat Bintang Utara ia tengah diposisinya sementara bintang-bintang lain mengiringi dan mengikutinya.

Kristan
Penulis adalah Intelektual Muda Khonghucu

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya