Berita

Ketum Forum Satu Bangsa, Hery Haryanto Aumi/Net

Politik

Buntut Pembakaran Bendera PDIP, Masyarakat Harus Hindari Kemungkinan Politik Adu Domba

JUMAT, 26 JUNI 2020 | 05:46 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Merespons insiden pembakaran bendera PDIP saat aksi penolakan RUU HIP di gedung DPR Rabu (24/6), seluruh masyarakat diimbau untuk menghindarkan diri dari kemungkinan terjadinya politik adu domba.

Ketua Umum Forum Satu Bangsa, Hery Haryanto Azumi mengatakan, seluruh partai politik termasuk PDIP dengan segala kelengkapan tanda kebesarannya adalah legal dan dilindingun oleh negara.

Tindakan membakar bendera partai ditegaskan Hery adalah perbuatan melawan hukum dan menciderai demokrasi Indonesia.


"Forum Satu Bangsa sangat menyayangkan terjadinya pembakaran bendera PDI Perjuangan karena di samping melanggar hukum juga berpotensi menyebabkan terjadinya konflik di masyarakat Indonesia. Apapun alasannya pembakaran bendera PDI Perjuangan tersebut tidak dapat dibenarkan," demikian kata Hery dalam keterangannya, Kamis malam (25/6).

Menurut Hery, Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai yang sudah resmi dibubarkan sejak tahun 1966. Dengan demikian, jika ada yang memproduksi, menyebarkan dan mengibarkan simbol PKI di depan publik adalah perbuatan melawan hukum dan rentan ditumpangi kepentingan tertentu.

"Forum Satu Bangsa menyerukan agar kita sebagai bangsa menghindarkan diri dari kemungkinan terjadinya proxy war dan politik adu domba di dalam negeri sebagai akibat dari naiknya eskalasi konflik global yang kecenderungannya akan semakin menemukan episentrumnya di Pasifik," seru mantan Ketum PB PMII ini.

Hery mengaak seluruh elemen bangsa untuk menolah segala tindakan politik adu domba. Semua pihak, tambah Hery harus bekerja sama menyembuhkan luka lama  bangsa dengan melakukan rekonsiliasi dan konsensus nasional.

"Kita harus menyembuhkan luka-luka lama bangsa Indonesia dengan membangun rekonsiliasi dan konsensus nasional agar kita dapat membangun roadmap masa depan Indonesia yang lebih utuh dan bersatu," demikian kata Hery.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya