Berita

Fuad Bawazier/Net

Publika

Reinkarnasi 1965

JUMAT, 26 JUNI 2020 | 01:08 WIB | OLEH: FUAD BAWAZIER

DI TENGAH kesulitan kehidupan ekonomi, provokasi terhadap rakyat semakin meningkat. Suhu politik dibuat semakin memanas. Kesulitan ekonomi rakyat dan provokasi yang bertubi tubi seperti ini mirip keadaan tahun 1965 sebelum Peristiwa G30S/PKI. Biasa disebut mematangkan kandungan atau kehamilan.

Tuduhan-tuduhan dengan menggunakan istilah-istilah  dan jargon-jargon tertentu diarahkan kepada lawan-lawan politik, dan tangan penguasa diarahkan untuk memenjarakan lawan-lawan politik PKI.

Dulu, tahun 1960-an, parpol dan ormas yang dimusuhi PKI dibubarkan penguasa dan para pimpinannya dijebloskan ke penjara. Umumnya tanpa proses peradilan. Masyumi, PSI dan Murba adalah parpol parpol yang dibubarkan.


Tuduhan-tuduhan itu biasanya diikuti dengan teror. Saat itu tuduhan-tuduhan yang digunakan adalah anti Nasakom, anti revolusi, komunistopobi, dll. Lalu tokoh tokoh yang disasar (ditarget) dijebloskan ke penjara.

PKI yang sedang berjaya selalu bermain fitnah dengan cara berlindung kepada Presiden Soekarno. Agitasi dan propaganda adalah senjata harian PKI dan ormas ormas jaringannya. Pokoknya situasi politik dibuat hiruk pikuk tidak menentu.

Nampaknya pola yang serupa 1965 kini sedang terjadi atau dimainkan.  Kini tentu tidak mudah menunjuk hidung siapa aktornya. Sebab dulu masih ada PKI dan organisasi-organisasi onderbouwnya tapi kini semua tanpa bentuk sehingga  biasa disebut OTB (organisasi tanpa bentuk).

Aktor pemainnya tidak selalu nampak. Yang dimainkan bisa jadi  tidak sadar dan lebih celaka lagi kelompok yang bodoh yang hanya ikut ikutan bermain. Kini provokasi demi provokasi terus dilancarkan dengan berbagai cara bahkan menggunakan buzzer berbayar dan medsos.

Setelah provokasi dahsyat Rancangan Undang Undang Halauan Ideologi Pancasila (RUU HIP), disinyalir provokasi-provokasi lain akan terus saling menyusul sampai benar benar situasi politik panas dan meletus. Istilah tahun 1965, ibu pertiwi hamil tua.

Kini tiba tiba kita melihat baleho-baleho besar Presiden Soekarno Pemimpin Besar Revolusi (PBR) di jalan protokol. Baleho PBR ini bisa memancing baleho baleho lain seperti:
1. Presiden Soeharto adalah Bapak Pembangunan Nasional
2. Presiden BJ Habibie Bapak Teknologi Indonesia,
3. Presiden SBY Bapak Demokrasi, dll.

Tentu kita berharap agar pancingan baleho PBR itu tidak berhasil. Entah kebetulan atau tidak, tiba tiba muncul lagi provokasi lain, yaitu usulan masa jabatan presiden diubah menjadi 8 tahun. Tentulah gagasan ini akan meningkatkan suhu politik.

Sekali lagi, bukan untuk mengusut siapa aktor atau provokatornya atau agitatornya, tapi sudah dapat diduga kegiatan-kegiatan yang tidak produktif ini akan terus berlanjut, sehingga pemerintah menjadi semakin sulit mengatasi masalah ekonomi. 

Meski yang paling diprovokasi umat Islam, tapi bisa jadi yang paling diuntungkan dari provokasi ini justru umat Islam.

Lihatlah sikap umat Islam yang bulat bersatu padu menghadapi RUU HIP, baik MUI, NU, Muhammadiyah, HMI, ICMI, FPI, dll. Mereka solid menolak Pancasila yang sedang diobok obok.

Sebagai penutup, entah kebetulan atau tidak, kejadian sekarang yang mirip-mirip dengan suasana sebelum Peristiwa G30S/PKI ini, bertepatan pula dengan Pemerintah Pusat yang sedang mempunyai hubungan mesra dengan Pemerintah China.

Dulu, 1965, dengan sebutan Poros Djakarta-Peking yang dikawal Menteri Subandrio. Kini disebut Jakarta-Beijing. Dulu kutub politik dunia yang  bersitegang Washington DC- Moskow, kini Washington DC- Beijing.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Pencalonan Kaesang di Solo Raya Sinyal Perang Terbuka PSI vs PDIP

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Araghchi Ancam Balas Serangan Ukraina ke Kapal Dagang Iran

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Istana Tegaskan Mundurnya Perry Warjiyo Murni Keputusan Pribadi

Senin, 27 Juli 2026 | 10:13

Kejaksaan Harus Jawab Klaim Kriminalisasi Febrie dengan Bukti

Senin, 27 Juli 2026 | 10:04

KPK Dalami Aliran Dana yang Diduga Disiapkan Bupati Kuansing untuk Raja Juli

Senin, 27 Juli 2026 | 09:57

Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Perlu SOP yang Ketat

Senin, 27 Juli 2026 | 09:51

IHSG Merah, Rupiah Ambruk ke Rp17.976 per Dolar AS Usai Gubernur BI Mundur

Senin, 27 Juli 2026 | 09:47

Kasatnarkoba Polres Tangsel Ditangkap Bareskrim

Senin, 27 Juli 2026 | 09:37

Pengamat: Sulit bagi Kaesang dan PSI Kuasai Solo Raya

Senin, 27 Juli 2026 | 09:34

Perjalanan Karier dan Rekam Jejak Perry Warjiyo di Kepemimpinan Bank Indonesia

Senin, 27 Juli 2026 | 09:25

Selengkapnya