Berita

Menteri BUMN, Erick Thohir/Net

Politik

Ketimbang Jenderal Aktif, Erick Thohir Diminta Dudukkan Kelompok Profesional Jadi Komisaris BUMN

RABU, 24 JUNI 2020 | 05:55 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir diminta lebih berhati-hati dalam menunjuk orang untuk menduduki jabatan komisaris pada perusahaan yang menjadi tanggungjawabnya.

Pengamat politik yang juga Direktur Indopolling Network, Wilhelmus Wempy Hadir menilai, penempatan jenderal aktif dari unsur TNI/Polri tidak etis. Menurut Wempi para perwira tinggi aktif masih dibutuhkan oleh institusi mereka.

"TNI/Polri aktif sangat dibutuhkan oleh instistusi mereka, tidak etis juga kalau terlalu banyak perwira tingi yang masuk BUMN. Masih banyak orang profesional yang lebih layak menduduki (Komisaris BUMN)," demikian kata Wempi kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa malam (23/6).


Menurut Wempi, ketimbang mengajak para jenderal aktif menjadi Komisaris, Erick Thohir lebih baik menempatkan kelompok profesional yang memiliki basis keahlian di bidang pengelolaan perusahaan. Termasuk para pendukung Jokowi yang berlatar belakang profesional.

"Masih banyak orang profesional yang telah membantu Jokowi (saat Pilpres 2019) yang layak membenahi BUMN. Mereka harus diberi tempat di BUMN untuk melakukan kerja strategis yang sesuai dengan target pembangunan Jokowi," tandas Wempi.

Ia mengusulkan sebaiknya para petinggi TNI/Polri yang sudah terlanjur menduduki jabatan Komisaris BUMN agar segera kembali ke barak masing-masing. Tujuannya untuk memanfaatkan kemampuan profesionalnya membangun institisuinya masing-masing.

"Bukan karena tidak mampu tapi mending Pati TNI/Polri kembali ke barak. Mereka adalah orang profesional di bidang pertahana keamanan," pungkas Wempi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya