Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Sekilas Kisah Pemimpin Saat Gejolak Krisis: Sukarno, Gus Dur, Rizal Ramli

Catatan Arief Gunawan
SENIN, 22 JUNI 2020 | 12:38 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

SUATU hari di tahun ’40-an, para kiai terkemuka NU berkumpul di Surabaya melakukan semacam forecasting terhadap gejolak zaman yang waktu itu sedang dilanda Perang Dunia.

Jepang merajai Asia Timur Raya dan menunjukkan gejala tak lama lagi bakal menduduki Indonesia.

Dalam forecasting itu terbetik satu pembicaraan penting, yakni siapa figur yang pantas didukung untuk menjadi pimpinan nasional apabila gejolak perang berimplikasi terhadap kedudukan Indonesia yang ingin menjadi negeri merdeka.  


Para kiai terpandang itu kemudian melakukan semacam “konvensi”, yang dipimpin Kiai Mahfudz Shiddiq, seorang alumni Mekkah terkemuka, ahli debat dan jago pidato yang pernah jadi Ketua Oelama Nahdlatul Oelama, dan pernah ditawan Belanda bersama kakeknya Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari.

Para kiai terhormat tersebut memilih nama-nama calon pemimpin nasional yang berasal dari kalangan pergerakan.

Dari sebelas kiai dalam “konvensi” itu, 10 orang memilih Sukarno dan 1 memilih Hatta.

Waktu itu Sukarno masih dalam pembuangan di Bengkulu.

Sedang Hatta tak kalah perannya dalam dinamika pergulatan politik dan intelektual menuju kemerdekaan republik.

Kenapa Sukarno yang sekuler yang terpilih?

Antara lain karena para kiai terpukau oleh Sukarno yang dapat menemukan titik temu antara Nasionalisme dan Islam, yang menunjukkan adanya kesamaan pola pikir NU yang mempunyai metodelogi yang nyaris sama ialah pluralisme.

Sukarno tanpa NO (Nahdlatul Oelama) akan sulit menjalankan program politiknya.

Bung Karno tanpa NO (Nahdlatul Oelama) mudah sekali goyah dan jatuh, karena kaum nasionalis dan NU ialah tiang-tiang penyangga yang menguatkan.

Waktu Gus Dur naik jadi presiden ia bergandengan dengan simbol nasionalis, Megawati Sukarnoputri sebagai wakilnya.

Di tingkat operasional dan konsepsi perekonomian kabinet, Gus Dur memilih satu nama yang mewarisi sifat keberanian Sukarno dan yang memiliki kesamaan jalan sejarah dengan Sukarno, sama-sama berasal dari kalangan pergerakan, kuliah di ITB, pernah sama meringkuk di penjara Sukamiskin karena melawan otoritarianisme dan antisistem ekonomi neoliberal yang merupakan pintu masuk neokolonialisme & neoimperialisme.

Seorang yang sama-sama berminat terhadap seni, filsafat, sejarah, dan kebudayaan, yang dipercayakan oleh Gus Dur untuk menjadi RI 3 (orang nomor tiga di pemerintahan setelah RI 1 dan RI 2), sebagai Menko Perekonomian, yang tak lain adalah Dr Rizal Ramli.

Rizal Ramli sendiri yang sejak lama memiliki hubungan batin yang sedemikian erat dengan kaum Nahdliyin, mengalami suatu kesamaan riwayat kepedihan hidup sebagaimana pernah pula dialami oleh Gus Dur di masa kanak-kanak yang ditinggal wafat ayahanda.

Rizal yang yatim piatu sejak berusia delapan tahun mengubah berbagai kepedihan dan kesulitan hidup menjadi tantangan dan peluang untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Ia tumbuh menjadi pribadi yang optimistis meski diasuh oleh sang nenek yang buta huruf, di sebuah kota kecil, Bogor. Jauh dari tanah kelahirannya, Minangkabau.

Waktu kuliah di ITB tahun ‘70-an, ia tak punya cukup uang. Sehingga menyambi bekerja dengan jadi mandor kuli percetakan di kawasan Kebayoran.

Masih tak mencukupi, Rizal bersama teman menjadi penerjemah sambil menjadi guru bahasa Inggris di Bandung.

Dari belajar ilmu fisika di ITB, Rizal melanjutkan studi di Jepang, dan kemudian ilmu ekonomi di Boston, Amerika.

Ia hingga kini jadi satu-satunya doktor bidang ekonomi yang konsisten menyuarakan keberpihakan dan membuktikan tindakannya berpihak kepada rakyat kecil. Seperti kepada petani, nelayan dan kaum Marhaen lainnya, serta wong cilik, yang umumnya merupakan Nahdliyin kultural.

Di dalam maupun di luar kekuasaan Rizal Ramli tidak berubah.

Mendiang ayahnya, Ramli, memberinya nama Rizal Ramli.

Rizal dalam bahasa Arab berarti laki-laki. Akar kata dari Arrijal, Rajul.

Nama ini memiliki banyak arti yang baik yang juga mengandung kata sifat: keberanian, kepahlawanan, kejantanan, konsistensi, dan pengorbanan.

Di dalam khazanah Islam yang mulia terdapat pula sebutan yang luhur yang dinamakan ‘’Rijalud Dakwah’’ atau Lelaki Dakwah. Ialah lelaki yang siap berjuang dan berkorban di Jalan Illahi untuk perubahan yang lebih baik di dalam masyarakat.

Penulis merupakan wartawan senior.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

UPDATE

DPR Minta Evaluasi Perlintasan Usai Insiden Tabrakan Argo Bromo-KRL

Selasa, 28 April 2026 | 00:15

KRL Sempat Menabrak Taksi Sebelum Diseruduk KA Argo Bromo

Selasa, 28 April 2026 | 00:04

Kedaulatan Data RI jadi Sorotan di Tengah Gejolak Geopolitik

Senin, 27 April 2026 | 23:46

Tim SAR Berjibaku Evakuasi Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 23:24

Kereta Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur, KAI Masih Investigasi

Senin, 27 April 2026 | 23:10

Heboh Anggaran Baju Dinas Pemprov Sumsel Tembus Rp3 Miliar

Senin, 27 April 2026 | 22:30

Kuasa Hukum Thio: Jangan Korbankan Terdakwa Atas Kesalahan Negara

Senin, 27 April 2026 | 22:28

Rocky Terkekeh Dengar Candaan Prabowo Soal “Disiden” di Istana

Senin, 27 April 2026 | 22:11

Kejati Sumut Geledah Kantor Satker Perumahan Usut Dugaan Korupsi Proyek Rusun

Senin, 27 April 2026 | 22:11

KAI Fokus Evakuasi Penumpang di Stasiun Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 22:06

Selengkapnya