Berita

Menteri Pendidkan dan Kebudayaan/Net

Nusantara

Terkait Putusan Nadiem Makarim, Pengamat: Beliau Seperti Tidak Memiliki Solusi Pendidikan Di Tengah Pandemik

SELASA, 16 JUNI 2020 | 08:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Saat mengeluarkan keputusan pembukaan sekolah untuk tahun ajaran baru 2020/2021 di tengah pandemik Covid-19, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tidak membahas lebih jauh mengenai bagaimana proses belajar mengajar jarak jauh itu menjadi lebih efektif.
Padahal jelas disebutkan dalam uraiannya bahwa sekolah kembali membuka belajar tatap muka khusus untuk daerah zona hijau. Untuk Zona merah tetap dilakukan dengan sistem belajar jarak jauh.

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengatakan kecewa dengan hasil putusan Nadiem. Menurutnya, setelah berbulan-bulan menunggu, banyak dari para pemerhati dan praktisi pendidikan yang berharap Nadiem mengeluarkan putusan yang lebih mencerahkan untuk pola belajar siswa di tengah pandemik, bukan sekedar daur ulang dari keputusan sebelumnya.  

"Beliau ini orang daring, kita semua menganggapnya beliau adalah pakar daring. Nah, di saat pandemik kita semua melakukan sistem belajar jarak jauh, bagaimana dari sisi gurunya, aksesnya, juga dari pihak orangtuanya, kendala-kendalanya, apa yang harus dibenahi dalam sistem belajar jarak jauh lewat daring. Ini nggak dibahas sama sekali," ujar Indra dalam bicang-bincang bersama Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (16/6).

"Beliau ini orang daring, kita semua menganggapnya beliau adalah pakar daring. Nah, di saat pandemik kita semua melakukan sistem belajar jarak jauh, bagaimana dari sisi gurunya, aksesnya, juga dari pihak orangtuanya, kendala-kendalanya, apa yang harus dibenahi dalam sistem belajar jarak jauh lewat daring. Ini nggak dibahas sama sekali," ujar Indra dalam bicang-bincang bersama Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (16/6).

Indra menyoroti waktu yang tiga bulan digunakan siswa belajar dari rumah di tengah akses yang belum benar-benar terbuka, khususnya di daerah yang sulit jangkauan internetnya.

“Dalam bayangan saya, saat Nadiem menyampaikan keputusannya, akan ada Kominfo, akan ada Kementerian BUMN dengan Telkomnya, akan ada Kementerian Desa mungkin dengan memanfaatkan dana desa. Apalagi saat ini semua kantor desa sekarang sudah terhubung dengan tol langit katanya, kan. Nah, bisa nggak itu dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan tapi tadi nggak diangkat sama sekali,” ujarnya.

Menurut Indra, Nadiem seperti tidak memiliki solusi pendidikan di tengah pandemik. Dari sisi proses pengajarannya juga tidak disentuh. Nadiem hanya sebatas memberikan peringatan soal teknis belajar saja seperti menjaga jarak 1,5 m untuk dan untuk anak PAUD 3 m, diatur duduknya, dan lain lain, tetapi tidak membahas bagaimana proses belajar mengajar bisa tersampaikan untuk yang berada di zona merah.

Sebagai menteri pendidikan mestinya Nadiem fokus pada hal-hal yang justru krusial. Nadiem juga kurang melakukan komunikasi dengan para guru dan siswa. Mestinya pendekatan juga harus dilakukan Nadiem, contoh kecil saja, menyapa guru dan siswa-siswa di tengah pandemik, turun ke sekolah-sekolah sekaligus mengontrol kondisi sekolah di tengah pandemik.

"Tidak ada komunikasi yang baik. Tidak ada pencerahan, solusi, dan duduk bersama. Bahasa kasarnya diserahkan saja kepada orangtua apakah anaknya bersekolah atau tidak, gitu! Jadi, mungkin benar juga kata teman-teman organisasi profesi guru yang mengatakan, 'kayaknya Merdeka Belajar sama dengan Indonesia Terserah, nih!'”

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Ramos-Horta Puji Toleransi dan Ketangguhan Rakyat Indonesia

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:17

Polisi Konfirmasi Korban Tewas saat Demo DPR Seorang Pedagang Cermin

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:10

Aturan Turunan UU DKJ Harus Rampung Sebelum Keppres IKN Terbit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:09

Astra Sudah Jangkau 35.726 Warga Lewat 7 Posko Gempa NTT

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:04

Penanganan Karhutla di Riau Jadi Contoh yang Baik

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:01

Budi Arie Pasang Badan Cuci Nama Jokowi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:00

Peluncuran Wajah Baru RS Tria Dipa, Hadirkan Teknologi Medis Teranyar

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:57

BI: Daripada Kredit, Mayoritas Bank Parkir Likuiditas di Surat Berharga

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:51

LPJ Diterima, Gus Yahya Akui Tak Sempurna Pimpin PBNU

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:51

Pengusutan Dugaan Korupsi di Pemkab Bogor Merembet ke Dinas Pendidikan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:50

Selengkapnya