Berita

Penyidik senior KPK Novel Baswedan/Net

Hukum

Jaksa Terkesan Enggan Menggali Kebenaran Materi Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

JUMAT, 12 JUNI 2020 | 12:59 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Jaksa Penuntut Umum (JPU) terkesan tidak menggali kebenaran materil terhadap kasus penyiraman air keras ke senior penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan.

Direktur Legal Culture Institute (Leci), M. Rizqi Azmi menilai tuntutan Jaksa yang hanya menuntut 1 tahun pidana penjara terhadap dua terdakwa tidak tepat. Sebab hanya membuktikan dakwaan subsider, yakni menggunakan pasal 353 ayat 2 tentang penganiayaan yang menyebabkan luka berat dan Pasal 55 Ayat 1 tentang turut serta pelaku.

"Hanya membuktikan dakwaan subsider tidaklah tepat dan terkesan tidak menggali kebenaran materil yang seharusnya diperjuangkan oleh seorang jaksa pembela kebenaran hakiki terhadap seorang korban tindak pidana," ujarnya kepada wartawan tertulisnya, Jumat (12/6).


Apalagi, kata Rizqi, korban dalam kasus ini adalah orang yang sudah berjuang dalam pemberantasan korupsi. Seharusnya kerja jaksa juga lebih ekstra.

Jaksa sebenarnya bisa menggunakan pasal-pasal ampuh untuk menjerat terdakwa. Misalnya Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana sesuai dengan actus reus atau kejadian sebenarnya dan mens rea dengan pengakuan kesengajaan oleh pelaku dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup.

Bahkan, Jaksa juga bisa menggunakan Pasal 21 UU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan Pasal 221 Ayat 1 dan 2 KUHP terkait menghalangi penyidikan dengan ancaman 12 tahun penjara dan denda Rp 600 juta.

"Karena sewaktu itu banyak kasus-kasus istimewa yang ditangani Novel, seperti lapor merah kepolisian, korupsi E-KTP, korupsi akil muchtar dan lain-lain. Kemudian tentang pelanggaran HAM bisa di pakai oleh Jaksa sebagai instrumen ampuh ditengah pekerjaan krusial Novel yang tidak hanya sebagai pendekar anti korupsi juga sebagai penegak HAM," terangnya.

Selain itu, jaksa juga seharusnya mengejar delik pemidanaan sesuai actus reus atau kejahatan yang dilakukan dan mens rea atau sikap batin pelaku.

Di mana, actus reus tidak boleh dialihkan karena ketidaksengajaan seperti penyangkalan jaksa terhadap Pasal 355 tentang penganiayaan berat yang memenuhi unsur kesengajaan dan bisa beralih kepada Pasal 340 tentang pembunuhan berencana.

"Karena Rahmat dari awal sudah dengan sadar mengambil air keras yang notabene itu adalah aset negara dari gudang milik Polri dan melancarkan aksi bersama Roni sesuai pemetaan dan menyiramkan sehingga maknanya bukan memberi pelajaran seperti yang di ungkap jaksa," jelas Rizqi.

Rizqi pun menilai sudah sangat jelas kejahatan yang dilakukan yakni menyiramkan air keras ke sekujur tubuh untuk melumpuhkan. Selanjutnya barulah Jaksa kata Rizqi menggali mens rea terdakwa sebagai penggalian dolus atau kesalahan yang disengaja dan culpa atau kesalahan yang tidak disengaja.

"Namun dengan pernyataan Jaksa, bahwasanya si pelaku hanya ingin memberi pelajaran kepada Novel dan sikap batin sakit hati maka hal itu tidak sinkron dengan Actus reus pada kejadian sebenarnya. Seolah-olah Dolus diarahkan ke pada Culpa sebagai bentuk ketidaksengajaan," kata Rizqi.

Padahal kata Rizqi, jika dirunut dalam KUHP kejahatan pada Pasal 353 tidak masuk dalam ruang culpa atau kesalahan yang tidak disengaja.

"Ditambah lagi Jaksa mempertimbangkan sesuatu hal yang tidak relevan. Misalkan kelakuan baik di persidangan dan pengabdian 10 tahun si pelaku. Pertimbangan itu seharusnya di balik karena mereka (terdakwa) adalah Polisi sebagai aparat penegak, maka hukumannya harus di perberat dan tidak ada alasan pemaaf," pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya