Berita

Publika

RUU HIP, Pahala Politik PKS

KAMIS, 11 JUNI 2020 | 09:41 WIB

DALAM proses RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) hingga ditetapkan sebagai RUU inisiatif dewan pada sidang paripurna bulan Ramadhan lalu, yang pas menerima "dosa politik" adalah PDIP. Sementara yang layak mendapat "pahala politik" adalah PKS.

Tanpa menafikan perjuangan secara personal anggota dewan, maka secara institusional atau fraksional yang berhak menerima "berkah" bulan Ramadhan tersebut adalah PKS.  

Sebenarnya untuk perjuangan dan "kemenangan" PKS dipetik bukan hanya dari RUU HIP akan tetapi juga dari RUU Corona. Fraksi PKS menjadi satu-satunya fraksi yang menolak ditetapkan Perppu 1/2020 menjadi UU.


Aspirasi rakyat memang berada pada kutub penolakan karena khawatir perppu tersebut akan menjadi legitimasi dari korupsi atau sekurangnya menjadi jalan bagi korupsi terselubung. UU 2/2020 asal Perppu 1/2020 kini sedang dalam proses judicial review di Mahkamah Konstitusi.

RUU HIP pasca ditetapkan, muncul berbagai aspirasi penolakan publik. Banyak pernyataan politik, seminar dan diskusi, atau opini di media, yang seluruhnya mengarah pada penolakan. Ada isu sensitif pada RUU HIP yang berpotensi menjadi gumpalan perlawanan yaitu kebangkitan PKI atau pengembangan paham komunisme.

Konten RUU dinilai mengandung "penyelundupan" paham komunisme dan marjinalisasi agama.

PKS ditempatkan sebagai harapan perjuangan untuk mengoreksi atau meluruskan agenda penyimpangan ideologi Pancasila. Jika tetap gigih melakukan perlawanan, maka disadari atau tidak, maka PKS akan menjadi lokomotif dari proses politik kerakyatan atau keumatan di Parlemen. Tentu dengan dukungan personal yang tersebar di berbagai fraksi lainnya.

Sebenarnya bukan hal yang tak mungkin bahwa peta politik berubah pada pembahasan selanjutnya. Aspirasi atau tekanan politik di luar Parlemen turut  menentukan perubahan peta tersebut. Prospek bagus karena isu dan misi terselubung RUU adalah semangat kebangkitan PKI dan Komunisme.

Jika semua fraksi masih berkoalisi dalam "kemungkaran" maka PKS mendapat pahala politik sendirian. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Investasi masa depan yang menjanjikan. Jika mampu merawat maka "kekalahan" tersebut akan menjadi akselerator dukungan politik di luar dugaan kelak.

Kalaupun terjadi pergerakan atau konfigurasi politik pada tahap pembahasan dengan pemerintah, maka tetap saja PKS mendapat "advantage" dari perubahan tersebut.

Pertarungan menjadi menarik karena berada di tataran norma fundamental. Menyangkut prinsip dan ideologi. Karenanya rakyat dan umat Islam akan bersatu dalam perjuangan "hidup mati". Aspirasinya mendasar bukan perbaikan parsial atau tambah kurang melainkan penolakan RUU untuk tidak menjadi UU. Hitam dan putih.

Partai-partai harus berhitung matang dalam konteks "dosa" dan "pahala" politik sebagai akibat dari penyikapan. Rakyat, khususnya umat Islam hanya punya dua penilaian yakni pro dan kontra PKI/Komunisme pada representasi kutub-kutub perjuangan yang ada di Parlemen.

TNI yang punya akar kesejarahan anti PKI/Komunisme juga merupakan kekuatan kerakyatan lain yang penting untuk menjadi pertimbangan politik.

Meskipun demikian partai yang berpeluang untuk mendapat dukungan lebih besar adalah mereka yang konsisten memperjuangan aspirasi kerakyatan dan keumatan. Untuk hal ini PKS masih unggul.

Pahala politik pantas untuk didapat.

PKS harus didukung nyata dan dukungan politik masyarakat memberi pengaruh untuk "schock therapy" konfigurasi peta politik di parlemen.

Amanat rakyat, khususnya umat Islam atas RUU yang berbau PKI/komunisme ini tentu bukan revisi atau perbaikan narasi, akan tetapi tolak.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Koops TNI Papua Gelar Baksos di Panti Asuhan Santa Susana Mimika

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:09

Mahfud MD Usul Fraksi DPR Dibikin Dua Blok

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:00

Wakapolri Ingin Setiap Kebijakan Polri Bisa Dipertanggungjawabkan secara Ilmiah

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:33

Jimly Asshiddiqie Usul Masa Jabatan KPU seperti MK

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:20

Iran Menolak Tunduk kepada Trump

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:09

Inilah 11 Pimpinan Baru Baznas

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:40

Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:25

Setara Institute Catat 221 Pelanggaran KBB Sepanjang 2025

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:15

Operasional TPST Bantargebang Ditargetkan Pulih dalam Sepekan

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:01

Pramono-Rano Berhasil Tuntaskan PR Pemimpin Terdahulu

Selasa, 10 Maret 2026 | 23:29

Selengkapnya