Berita

Anak-anak mengibarkan bendera merah putih/Net

Publika

Negaraku, Negara Lunak?

SENIN, 08 JUNI 2020 | 14:57 WIB

SEKELEBAT, saya teringat buku the Asian Drama (1968) karya sosiolog kenamaan dunia, Gunnar Myrdal. Dua jenis karakter budaya negara, ujar Myrdall, yakni, hard state dan soft state.

Budaya hard state, katanya, adalah jenis budaya yang tegas, konsisten, taat pada rule of law, disiplin tinggi, produktif, dan berpandangan jauh ke depan.

Setalian dengan itu, soft state, jenis budaya yang lemah, inkonsisten, kurang disiplin, social distrust, kurang memanfaatkan waktu, malas, dan kurang taat pada rule of law (bahkan mudah memperkosa aturan main).


Menurut Myrdal dalam risetnya pada awal 1960-an, banyak negara di Asia, termasuk Indonesia, mengalami kebangkrutan ekonomi, miskin dan disertai praktik korupsi merajalela sebagai akibat dari ketidakmampuan negara-negara tersebut menciptakan dan menerapkan hukum serta aturan-aturan yang jelas dan tegas.

Dari riset Myrdal itu, kemudian saya menelaah sengkarut yang terjadi dalam blantika panggung politik dan ekonomi di Tanah Air. Residu keterbelahan politik misalnya, yang hingga saat ini masih terawat, teradministrasi dalam rekaman ingatan, dan belum berkesudahan. Kontestasi Pilpres 2019 sebagai kasus, masih menyisahkan dendam-kesumat antar pelaku dan pendukung. Saling intai-mengintai pun menjadi barang yang galib.

Apa pun momen yang terjadi, pasti diseret pada pola perilaku dendam itu. Pelbagai aturan dan kelembagaan yang diciptakaan penguasa, pasti tidak akan pernah dipercaya oleh pihak oposannya. Ujungnya, bisa terjadi low trust society, kata Francis Fukuyama dalam karyanya Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity (1995).

Begitu juga sebaliknya, pihak penguasa acapkali memproduksi kecurigaan atas pelbagai komentar yang dianggap miring dari pihak lawannya. Bahkan, memproduksi tindakan kriminalisasi terhadap pihak yang bersuara lantang. Penguasa selalu mencari celah kelemahan lawannya untuk segera ditindak oleh aparat keamanan.

Tatkala panggung kehidupan kita menghadapi persoalan global, pandemi wabah Covid-19 misalnya, terlihat jelas relasi keretakan itu. Sehingga mempersulit upaya-upaya penyelesaian masalah. Elite politik, baik dari kalangan penguasa maupun oposannya, mempertontonkan tindakan-tindakan yang kurang elok dan tidak terpuji. Saling balas sahutan ibarat anak ingusan yang kehilangan boneka mainan.

Terus terang, lama kelamaan, mereka sulit menjadi suri-teladan oleh masyarakat. Maka, jangan heran, jika suatu saat masyarakat mengekspresikan kekecewaannya dengan mengikuti kemauannya sendiri, karena kehilangan trust kepada elite politik.

Di level bawah dan menengah bawah, sejatinya mulai membuncah kembali sifat kedermawanan dan gotong-royong. Tapi, penguasa kurang mengapitalisasi kekuatan modal sosial itu untuk menguatkan kohesi sosial itu. Mereka dbiarkan jalan dalam lorong yang tak bertepi.

Maka, modal sosial yang bertumpu pada “community base on trust culture" menjadi luruh. Padahal modal sosial inilah, sejatinya, menurut Fukuyama bisa menggerakkan operasionalitas rasional dalam bidang ekonomi, politik, dan hukum. Karena absennya trust society maka akan menghilangkan jejaring kerja sama yang saling menguntungkan di antara entitas.

Kondisi centang-perenang seperti digambarkan di atas, menyulitkan bangsa untuk menjadi negara maju. Kita disandera oleh lelaku budaya soft-state, seperti yang dideskripsikan Myrdall di atas. Saling tidak percaya menjadi wahana reproduksi budaya soft-state.

Ujungnya, kita pun melahirkan mental marah dan tempramental. Mental introvert, yang acap selalu menyalahkan kemajuan pihak lain. Kitapun tidak jernih lagi melihat setiap masalah karena dililit cara pandang yang streotype dan stigmatik pada pihak lain. Artinya, bangsa kita sulit beranjak maju karena kita semua bermantal keropos.

Mukhaer Pakkanna

ITB Ahmad Dahlan Jakarta


Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Skandal Hibah Daerah, KPK: Rp83 Triliun Rawan Bancakan

Senin, 20 April 2026 | 12:16

Spirit KAA 1955 Bukan Nostalgia tapi Agenda Ekonomi Global Selatan

Senin, 20 April 2026 | 12:05

Keresahan JK soal Ijazah Jokowi Mewakili Rakyat Indonesia

Senin, 20 April 2026 | 12:01

Lusa, Kloter Pertama Jemaah Haji RI Mendarat di Madinah

Senin, 20 April 2026 | 11:55

Harris Bongkar Peran Netanyahu di Balik Keputusan Perang Trump

Senin, 20 April 2026 | 11:43

Emas Antam Merosot, Ini Harga Terbarunya

Senin, 20 April 2026 | 11:27

Amanah Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

Senin, 20 April 2026 | 11:25

Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Tembus 6,98 Ton

Senin, 20 April 2026 | 11:06

Wapres AS Kembali Pimpin Delegasi ke Islamabad untuk Negosiasi Iran

Senin, 20 April 2026 | 10:55

Iran Akui Kapalnya Dibajak AS, Ancam Serangan Balasan

Senin, 20 April 2026 | 10:34

Selengkapnya