Berita

Serangga membntu penyerbukan/Net

Nusantara

Status Kiamat Serangga, LIPI Sampaikan Keselamatan Bumi Terancam

SENIN, 08 JUNI 2020 | 06:32 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Laju penurunan serangga terus terjadi. Padahal, keberadaan serangga sangat penting. Serangga adalah makanan bagi hewan lain. Keberadaannya pun sebagai penyerbuk dan juga pengontrol hama.

Djunijanti Peggie, peneliti bidang Entomologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, mengatakan, serangga sangat penting untuk pengelola limbah dan pengurai jasad manusia maupun hewan.

“Jadi bayangkan jika serangga punah, akan banyak jasad yang menumpuk dan tidak terurai”, ungkap Djunijanti, seperti dikutip dari situs resmi LIPI, Minggu (7/6).


Menurutnya, isu penurunan serangga sudah nyata terlihat.

“Penyebab utama penurunan populasi serangga adalah alih fungsi lahan, perubahan iklim, penggunaan pestisida dan pupuk sintetis, serta adanya faktor biologis termasuk patogen dan spesies invasif,” terangnya.

Saat ini baru 20 persen serangga dari 5,5 juta serangga di dunia yang teridentifikasi. Sisanya 80 persen dari populasi tersebut dan jumlahnya terus berkurang.

Pada 2017, laporan Caspar Hallman dari Universitas Radboud, Belanda, menemukan bahwa populasi serangga terbang di cagar alam Jerman menurun lebih dari 75 persen selama 27 tahun terakhir. Bahkan, Bayo dan Wyckhuys melaporkan penurunan serangga tetap terjadi meskipun di kawasan cagar alam yang masih belum terjamah.

Lantas, bagaimana jika laju penurunan serangga terus terjadi? Tentunya keselamatan bumi akan terancam. Serangga dan tumbuhan adalah penyusun dasar kehidupan. Peran serangga sangat vital dalam ekosistem.

Ia pun mengingatkan sudah saatnya setiap individu berkontribusi untuk menekan laju penurunan serangga yang terjun bebas. “Status kiamat serangga saya setuju dan sangat menghawatirkan," jelas Djunijanti.

Saat ini LIPI terus berupaya melakukan upaya pendataan serangga. Djunijanti menekankan, penurunan biomassa perlu dicermati secara detail. Artinya, belum terlihat jenis serangga yang terancam sehingga belum dapat melakukan prioritas. Oleh karena itu perlu dilakukan pendataan terlebih dahulu.

Sebagai contoh, kupu-kupu Graphium codrus yang digunakan sebagai foto sampul majalah National Grographic Indonesia pada Mei 2020 bukanlah kupu-kupu endemik Indonesia, tidak langka, dan tidak terancam punah.

“Namun dengan status bukan endemik, bukan langka, dan tidak terancam punah ini pun ternyata jumlah spesimen Graphium codrus di Museum Zoologicum Bogoriense hanya ada 21 spesimen dari empat sub-spesies,” terang Djunijanti.

Bukan itu saja. Ia mengungkapkan masih ada empat subs-pesies di pulau-pulau kecil yang belum ada spesimennya di Museum Zoologicum Bogoriense. Kondisi ini menunjukkan bahwa menemukan kupu-kupu tak langka pun sudah cukup sulit.

Apalagi, lanjut Djunijanti, mendata dan memperoleh spesies yang tergolong endemik dan langka seperti Ornithoptera Croesus yang merupakan spesies endemik di Maluku Utara dan baru dimasukkan dalam daftar spesies dilindungi di Indonesia pada 2018.

Untuk kepentingan pendataan dan digitalisasi spesimen kupu-kupu, Djunijanti mengatakan bahwa LIPI telah mendapatkan dana dari Global Biodiversity Information Facility untuk penelitian itu.

LIPI juga membuka kesempatan kepada publik untuk mengkontribusikan spesies yang telah ditemukan.

“Masyarakat dapat mengirimkan koleksi dalam bentuk foto spesies dengan melengkapi data tempat dan waktu ditemukan. Koleksi tersebut dapat menjadi data observasi, salah satunya dalam InaBIF,” ujarnya.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi, menambahkan pendataan serangga akan menjadi salah satu dasar untuk menyatakan status kepunahan.

Menurutnya, negara maju sudah memiliki perbandingan data serangga dari tahun ke tahun, sedangkan di Indonesia baru sebatas memiliki koleksi spesimen.

"Inilah yang dianggap sebagai kondisi kritis eksistensi serangga,” terang Cahyo.

Ia menyebutkan status hewan yang tidak langka dan belum masuk daftar merah belum tentu aman, karena masih sedikit orang yang memperhatikan serangga.

“Diperlukan perubahan perilaku masyarakat untuk menghargai keberadaan makhluk kecil tersebut,” tegasnya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya