Berita

Deputi Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Khoirunnisa Nur Agustyani/Net

Politik

Bagi Perludem, Tingginya Ambang Batas Parlemen Tak Selaras Dengan Tujuan Pemilu Serentak

SENIN, 08 JUNI 2020 | 01:28 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Rancangan Undang-Undang Pemilu (RUU) didesain agar pemilihan umum serentak yang nantinya menghasilkan eksekutif dan legislatif berjalan beriringan.

Namun demikian, dengan adanya usulan kenaikan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) lebih dari 4 persen yang sebelumnya sudah diterapkan di Pemilu 2019, dikhawatirkan tak lagi menyelaraskan hasil pemilu legislatif dan eksekutif.

Deputi Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Khoirunnisa Nur Agustyani menjelaskan, adanya usulan PT lebih tinggi dari Pemilu 2019 nantinya tak lagi memunculkan efek ekor jas (coat-tail effect) di mana keterpilihan parpol tak lagi selaras dengan pemilihan presiden.


“Secara psikologis yang akan didahulukan menyelamatkan ambang batas, dan ini yang mengakibatkan tidak akan berjalan beriringan antara dua pemilihan ini. Padahal tujuan diserentakkannya pemilu ada keselarasan,” ujar Khoirunnisa dalam diskusi virtual, Minggu (7/6).

Tak hanya menghilangkan keselarasan, ambang batas parlemen yang tinggi juga akan membuang banyak suara. Oleh karennaya, ia berharap ambang batas justru bisa disederhanakan.

“Menurut kami yang paling efektif yakni dengan menyederhanakan atau memperkecil besaran daerah pemilihannya,” katanya.

Dia menambahkan, semakin besar sebuah daerah pemilihan, maka akan membuat kemungkinan parpol mendapatkan kursi di parlemen semakin besar.

“Semakin kecilnya daerah pemilihan, maka semakin sedikit pula parpol yang mendapatkan kursi di parlemen. Nah, untuk itu tentu besaran daerah pemilihan ini bisa menjadi ambang batas tersendiri,” tutupnya.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya