Berita

Sekjen Partai Hanura Gede Pasek Suardika/Net

Politik

Tolak PT 7 Persen, Sekjen Hanura: Ada Hasrat Kekuasaan Hilangkan Filosofi Keadilan

MINGGU, 07 JUNI 2020 | 08:57 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Forum Sekretaris Jenderal Pro Demokrasi mendesak parlemen untuk tidak mengesahkan RUU Pemilu. Pengesahan itu dianggap akan berdampak pada sistem demokrasi Indonesia, termasuk hilangnya jutaan suara pemilih.

Desakan disampaikan Forum Sekjen Pro Demokrasi dalam pertemuan via video conference pada Sabtu malam (6/6). Forum ini terdiri dari para sekjen partai yang tidak lolos parlemen.

Seperti Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso, Sekjen Partai Bulan Bintang Afriansyah Ferry Noor, Sekjen Partai Hanura Gede Pasek Suardika, Sekjen Partai Garuda Abdullah Mansuri, dan Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq, Sekjen PSI Raja Juli Antoni dan dari PKP Indonesia Verry Surya Hendrawan.


Sekjen Partai Hanura Gede Pasek Suardika mengatakan bahwa ada keinginan faksi tertentu yang ingin menguasai pemerintahan dengan adanya usulan parliamentary threshold di angka 7 persen.

“Filosofi krusial yang hilang dari RUU Pemilu adalah tentang keadilan dan persatuan. Tampak jelas dipertontonkan bahwa hasrat kekuasaan secara terang benderang mengalahkannya,” tegas Gede Pasek kepada wartawan, Minggu (6/6).

Selain itu, adanya ambang batas parlemen di angka 7 persen juga akan memecah belah persatuan bangsa.

“Belum lagi, jelas akan mengancam kenusantaraan kita. Indonesia diatur dan dikuasai oleh warga dari berpenduduk padat,” bebernya.

Karena, lanjut Gede Pasek, perhitungan suara sah adalah jumlah orang yang menjadi pemilih diutamakan yang berdampak pada perwakilan daerah akan  hangus akibat adanya ambang batas parlemen yang cukup tinggi tersebut.

“Dampaknya di daerah yang tidak padat bisa tidak diwakili oleh wakil yang layak karena pemilik suara yang lebih banyak justru bisa gugur oleh mereka yang dapat suara sedikit di daerah itu hanya karena partainya secara nasional digugurkan oleh aturan PT yang tidak masuk akal itu,” tutupnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya